Netanyahu Sebut Pasukan Israel Bakal Tetap di Gaza

- Benjamin Netanyahu menegaskan pasukan Israel akan tetap di Gaza, mengklaim menguasai sekitar 60 persen wilayah untuk melucuti Hamas dan mendemiliterisasi Gaza.
- Serangan Israel di Gaza dilaporkan menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak; otoritas kesehatan Gaza mencatat 1.334 kematian sejak gencatan senjata Oktober 2025.
- Kekerasan juga meningkat di Tepi Barat, sementara Uni Eropa memperingatkan proyek permukiman E1 Israel dapat merusak prospek solusi dua negara.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan militer Israel akan tetap berada di Jalur Gaza dan tidak akan menarik diri. Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu saat berkunjung langsung ke Jalur Gaza pada Rabu (2/9/2026).
Melalui rekaman video resmi dan unggahan di platform X, Netanyahu mengklaim bahwa tentara Israel saat ini memegang kendali atas wilayah operasi mereka di sepanjang "Garis Kuning" (Yellow Line). Langkah bertahan ini diambil untuk memastikan pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza berjalan hingga selesai. Ia menegaskan upaya tersebut akan terus dilakukan agar Gaza tidak lagi menimbulkan ancaman keamanan bagi Israel.
1. Penguasaan wilayah Gaza dan penolakan skenario penarikan diri

Israel Defense Forces (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Dalam video yang dirilis oleh kantornya, Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza. Dilansir China Daily, Netanyahu juga sempat memerintahkan militer pada Mei lalu untuk memperluas cakupan kendali hingga 70 persen. Penguasaan wilayah ini melampaui batas yang sebelumnya diatur dalam kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat (AS) pada Oktober 2025.
Netanyahu secara terbuka menolak skenario mundur dari Jalur Gaza serta menolak rencana perdamaian 15 poin yang didukung AS pada Agustus lalu. Dilansir The Times of India, Netanyahu menyindir mantan anggota kabinet perang Benny Gantz melalui media sosial X. "Gantz ingin kita menyerah dan keluar dari sini, beruntung aku tidak mendengarkannya. Hari ini kita menguasai wilayah tersebut dan mempertahankan garis ini," ujar Netanyahu.
Ia menegaskan bahwa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh pasukan militer Israel di lapangan. "Kita melakukan segala cara untuk mencapai tujuan kita, yaitu melucuti senjata Hamas dan mendemiliterisasi Gaza. Gaza tidak akan lagi menjadi ancaman bagi Israel," kata Netanyahu dalam pembaruan situasi di lapangan.
2. Serangan militer dan korban jiwa warga sipil di Gaza

Petugas UNRWA gendong anak di Gaza (Ashraf Amra, CC BY-SA 3.0 igo, via Wikimedia Commons) Di tengah klaim penguasaan wilayah oleh Israel, serangan militer terus memakan korban jiwa di kalangan warga sipil Gaza. Dilansir China Daily, sumber-sumber lokal Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel menembaki tenda-tenda pengungsian di Jabalia, Gaza utara, pada Rabu (2/9/2026). Serangan pesawat nirawak (drone) Israel juga menyasar kerumunan warga di kamp pengungsi Jabalia.
Kompleks Medis Al-Shifa mengonfirmasi telah menerima dua jenazah warga Palestina, termasuk seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun, akibat insiden serangan di Jabalia tersebut. Sementara itu, Rumah Sakit Al-Aqsa melaporkan seorang perempuan Palestina meninggal dunia akibat luka tembak serius yang dialaminya di Deir al-Balah, Gaza tengah, pada Selasa.
Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan keprihatinan mendalam atas keselamatan warga sipil setelah tiga anak-anak berusia 3 hingga 13 tahun dilaporkan tewas dalam kurun waktu 24 jam di Gaza. Menurut data otoritas kesehatan di Gaza, jumlah korban tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025 telah mencapai 1.334 jiwa dan 4.429 orang luka-luka. Secara keseluruhan sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023, total korban meninggal dunia di Gaza mencapai 73.470 jiwa dan 174.540 orang luka-luka.
3. Eskalasi kekerasan di Tepi Barat dan kecaman dari Uni Eropa

Militer Israel lakukan penempatan ulang di kompleks Masjid Al-Aqsa. (Stop The Wall from Palestine, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Selain di Gaza, eskalasi kekerasan juga meluas ke wilayah Tepi Barat yang diduduki. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan dua remaja laki-laki, Omar Mohammad Naji al-Na'ssan (19) dan Khalil Rassem Khalil Shehadeh (16), tewas akibat tembakan tentara Israel di sebuah desa di utara Ramallah pada Rabu (2/9/2026) malam. Perkumpulan Bulan Sabit Merah Palestina turut menangani dua warga yang menderita luka tembak di leher dan punggung saat serangan pemukim serta pasukan Israel di Desa al-Mughayyir.
Di tempat lain, Wali Kota Beita, Rabee' al-Shurafa, menyampaikan bahwa para pemukim Israel membakar tiga kendaraan dan menyerang rumah-rumah warga Palestina di wilayah timur antara Beita dan Osarin. Selain itu, pasukan Israel melakukan serangkaian pembongkaran bangunan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada hari yang sama.
Melihat situasi ini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas memberikan peringatan keras terkait proyek pemukiman E1 Israel di Tepi Barat. Israel diketahui telah menerbitkan tender pembangunan 1.234 unit hunian pada Agustus sebagai bagian dari rencana pembangunan 3.401 unit hunian di timur Yerusalem. Kallas menegaskan bahwa proyek pemukiman E1 akan merusak prospek solusi dua negara dengan membelah Tepi Barat. Ia juga menyoroti kekerasan pemukim terhadap warga Palestina yang terus meningkat tanpa penanganan memadai.



















