Sumber tersebut menambahkan, Putin juga ingin meningkatkan eskalasi perang di Eropa. Sebab, selain meningkatkan serangan ke Ukraina, ia juga sedang bersiap untuk menyerang negara NATO yang menjadi sekutu setia Kyiv. Untuk melakukan hal tersebut, Putin akan mengerahkan pasukannya dalam jumlah besar ke Eropa.
Putin Disebut Siap-siap Tingkatkan Serangan ke Ukraina

- Sumber intelijen Barat menyebut Vladimir Putin bersiap meningkatkan serangan ke Ukraina setelah pemilu regional Rusia, sekaligus mengerahkan pasukan besar ke Eropa.
- Putin dikabarkan memilih melanjutkan perang ketimbang negosiasi damai yang dimediasi AS, meski Rusia telah mencatat sekitar 500 ribu korban sejak invasi 2022.
- NATO mengkhawatirkan ancaman terhadap anggotanya dan operasi hibrida Rusia; serangan terbaru Rusia di Ukraina menewaskan delapan orang.
Jakarta, IDN Times - Presiden Rusia, Vladimir Putin, disebut sedang bersiap untuk meningkatkan serangannya ke Ukraina. Kabar tersebut disampaikan oleh sejumlah sumber intelijen dari negara Barat kepada Telegraph pada Sabtu (19/9/2026). Menurut sumber itu, Putin akan meningkatkan serangan ke Ukraina setelah pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) regional di negaranya selesai.
1. Putin lebih memilih melanjutkan perang dengan Ukraina daripada bernegosiasi

ilustrasi negosiasi (pexels.com/Monstera Production) Sumber tadi menambahkan, Putin kini lebih memilih melanjutkan perang dengan Ukraina daripada melanjutkan negosiasi damai. Sebab, negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat (AS) itu kerap berakhir nihil tanpa kesepakatan damai. Putin menilai hal tersebut tidak efektif untuk menyelesaikan konflik dan hanya buang-buang waktu.
Rusia sendiri sebetulnya sudah menderita banyak kerugian sejak berperang dengan Ukraina pada Februari 2022 silam. Data terbaru menunjukkan sekitar 500 ribu warga Rusia sudah menjadi korban perang tersebut. Namun, Putin tetap “Ngotot” melanjutkan perang dengan Kyiv daripada melanjutkan negosiasi damai.
2. NATO khawatir Rusia akan menginvasi negara anggota

potret logo NATO (unsplash.com/Marek Studzinski) Kabar ini lantas membuat NATO ketar-ketir. NATO khawatir peningkatan serangan ke Ukraina akan dimanfaatkan Rusia untuk menyerang negara-negara anggota mereka. Menurut seorang sumber anonim yang dekat dengan para pejabat NATO, Direktur CIA, John Retcliffe, sudah berkunjung ke Rusia pada bulan lalu untuk mengingatkan mereka agar jangan menyerang negara NATO.
NATO sendiri sebetulnya sudah banyak diwanti-wanti sejumlah pihak akan ancaman serangan dari Rusia. Sebab, Moskow juga disebut sedang berupaya melakukan operasi hybrid di negara-negara anggota NATO. Operasi ini terdiri dari serangan siber, sabotase, hingga perang informasi. "Ini sesuai dengan pola yang lebih luas dari operasi hibrida Rusia di Eropa," kata Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, dilansir Jerusalem Post.
3. Rusia masih menyerang Ukraina hingga saat ini

ilustrasi serangan (unsplash.com/Emanuel Kypreos) Hingga saat ini, Rusia masih menyerang Ukraina. Serangan terakhir terjadi selama semalaman pada Jumat (18/9/2026) hingga Sabtu kemarin. Rusia kala itu menyerang sejumlah wilayah di Ukraina menggunakan drone, rudal, bom, dan senjata artileri. Serangan tersebut menewaskan delapan orang.
“Dua orang terluka. Musuh menyerang empat wilayah lebih dari 10 kali dengan drone, artileri, dan bom udara,” Kata Kepala Administrasi Wilayah Dnipropetrovsk di Ukraina, Oleksandr Ganzha, dilansir Al Jazeera.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















