Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Presiden Iran Janji Dengar Tuntutan Rakyat untuk Perbaiki Ekonomi

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Teheran menuduh AS dan Israel sebagai dalang destabilisasi di Iran
  • Iran tegaskan ada perusuh dalam demonstrasi
  • Ratusan orang tewas dalam gelombang protes nasional
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berjanji untuk mengatasi meningkatnya keresahan ekonomi yang telah menyebabkan gelombang protes nasional dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintahnya mengaku siap mendengarkan para pengunjuk rasa, serta mendesak masyarakat untuk mencegah perusuh dan unsur teroris menimbulkan kekacauan.

Pezeshkian mengatakan pihaknya telah mendengar kekhawatiran para pemilik toko dan akan menyelesaikan masalah mereka dengan cara apa pun yang diperlukan. Pemimpin Iran itu mendesak masyarakat untuk tidak membiarkan perusuh mengganggu negara tersebut.

"Masyarakat memiliki kekhawatiran, kita harus duduk bersama mereka dan jika itu adalah tugas kita, kita harus menyelesaikan kekhawatiran mereka, tetapi tugas yang lebih tinggi adalah tidak membiarkan sekelompok perusuh datang dan menghancurkan seluruh masyarakat," kata Pezeshkian, dikutip The Times of India.

Gelombang protes yang kian meluas di Iran kini telah memasuki minggu ketiga. Aksi protes telah berkembang dari keluhan ekonomi menjadi pertentangan yang lebih luas terhadap pemerintah Teheran, dan menjadi yang terbesar sejak gerakan 2022-2023 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan.

1. Teheran menuduh AS dan Israel sebagai dalang destabilisasi di Iran

Pezeshkian menuduh Israel dan Amerika Serikat (AS) sebagai dalang di balik destabilisasi di Iran. Pemimpin Teheran itu mengatakan bahwa Washington dan Tel Aviv ingin menabur kekacauan dan ketidaktertiban di negaranya dengan memerintahkan kerusuhan.

Dilansir Al Jazeera, Pezeshkian mengatakan bahwa orang-orang yang sama yang menyerang Iran selama perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu telah berusaha meningkatkan kerusuhan terkait dengan diskusi ekonomi. Dia menyerukan warganya untuk menjauhkan diri dari perusuh dan teroris.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, menuduh bahwa protes nasional yang berubah menjadi kekerasan dan berdarah memberi alasan bagi Presiden AS, Donald Trump, untuk melakukan intervensi militer di Iran.

Araghchi mengatakan, peringatan militer Trump terhadap Teheran memotivasi teroris untuk menargetkan para pengunjuk rasa dan pasukan keamanan guna mengundang intervensi asing. Dia menyebut, Iran memiliki rekaman video yang menunjukkan distribusi senjata kepada para demonstran, dan mengatakan bahwa pihak berwenang akan segera merilis pengakuan para tahanan.

2. Iran tegaskan ada perusuh dalam demonstrasi

Para pejabat senior Iran mengakui kemarahan publik sebagai hal yang wajar. Kenaikan harga yang pesat, inflasi tinggi, dan devaluasi drastis mata uang lokal telah memberikan tekanan besar pada kantong masyarakat. Namun, pihaknya dengan tegas membedakan antara demonstran dan apa yang mereka sebut sebagai perusuh yang dilatih asing.

Pezeshkian bersikeras bahwa mereka yang menyerang properti publik bukanlah demonstran, melainkan perusuh. Pemimpin Iran itu mengatakan bahwa perusuh bukanlah orang yang berdemonstrasi untuk negara. Pihaknya menegaskan hanya akan mendengarkan suara para demonstran dan melakukan segala upaya untuk menyelesaikan masalah mereka.

"Mereka telah membunuh beberapa orang dengan senjata, membakar yang lain, dan memenggal kepala beberapa orang. Sungguh, kejahatan ini di luar sifat manusia kita. Mereka bukan rakyat kita. Mereka bukan bagian dari negara ini. Jika seseorang berdemonstrasi untuk negara ini, kami mendengarkan dan menanggapi kekhawatiran mereka," katanya.

3. Ratusan orang tewas dalam gelombang protes nasional

Kantor berita aktivis HAM yang berbasis di AS mengatakan bahwa 203 orang tewas dalam kekerasan protes di Iran, 162 di antaranya adalah demonstran dan 41 lainnya anggota pasukan keamanan. Kelompok tersebut memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya bisa lebih tinggi seiring dengan saluran telepon yang masih terputus dan akses informasi yang dibatasi.

Otoritas Iran pada Minggu menyatakan tiga hari berkabung nasional untuk menghormati para martir yang gugur dalam perlawanan terhadap AS dan rezim Zionis.

Araghchi mengatakan kepada para diplomat asing di Teheran pada Senin bahwa meski kekerasan meningkat selama akhir pekan, situasi kini berada di bawah kendali penuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Investasi-Investasi INA Bawa Dampak Nyata, Ini Bukti dan Hasilnya

13 Jan 2026, 09:00 WIBNews