Qatar Sebut Konflik Iran Bisa Ganggu Pasokan Energi Dunia

- Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan konflik Iran dapat menghentikan ekspor energi Teluk, memicu lonjakan harga global, dan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.
- Produksi LNG Qatar dihentikan akibat serangan yang merusak fasilitas, sementara eksportir lain di kawasan berpotensi mengikuti langkah force majeure jika konflik berlanjut.
- Harga minyak melonjak tajam hingga level tertinggi sejak 2023, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global dan sistem energi internasional.
Jakarta, IDN Times – Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan perang yang melibatkan Iran berpotensi menghentikan ekspor energi dari kawasan Teluk apabila konflik berlangsung selama beberapa minggu. Situasi tersebut dinilai dapat memicu lonjakan harga energi di berbagai negara sekaligus mengganggu pertumbuhan ekonomi global.
Dalam wawancara dengan The Financial Times yang terbit pada Jumat (6/3/2026), Kaabi menjelaskan konflik berkepanjangan akan berdampak pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia.
“Harga energi semua orang akan menjadi lebih tinggi. Akan ada kekurangan beberapa produk dan akan ada reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak dapat memasok,” ujarnya, dikutip dari BBC.
Ia juga memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga sekitar 150 dolar AS per barel (setara Rp2,5 juta per barel) apabila konflik tak segera mereda.
1. Serangan hentikan produksi LNG Qatar

Qatar menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan gas alam cair dunia (LNG), yang selama ini menjadi penopang utama pasokan energi bagi Asia dan Eropa. QatarEnergy yang dipimpin Kaabi sebagai direktur utama menghentikan produksi LNG sejak Senin (2/3/2026) setelah fasilitasnya terdampak serangan, lalu mengumumkan status force majeure yang membebaskan perusahaan dari kewajiban pengiriman akibat kejadian di luar kendali.
Kaabi menilai langkah serupa kemungkinan akan diikuti eksportir energi lain di kawasan jika konflik terus berlanjut.
“Semua eksportir di wilayah Teluk akan harus menyatakan force majeure,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Menurutnya, meski pertempuran berhenti saat ini, Qatar tetap memerlukan waktu dari hitungan minggu hingga bulan untuk memulihkan aliran pasokan energi seperti sebelumnya.
2. Jalur Selat Hormuz ganggu produksi minyak teluk

Sekitar seperlima pasokan minyak harian dunia biasanya melintasi Selat Hormuz. Konflik yang terjadi membuat pergerakan kapal tanker di jalur tersebut hampir berhenti sepenuhnya sehingga produsen minyak di kawasan Teluk yang bergantung pada rute itu menghentikan produksi, sementara Irak telah menutup operasi di dua hingga tiga ladang minyak besar.
“Semua produsen di Teluk yang bergantung pada rute ekspor itu akan harus menghentikan produksi… Ini berita buruk dan waktu terus berjalan bagi banyak produsen di wilayah ini,” kata Thijs Van de Graaf, pakar energi dari Brussels Institute for Geopolitics, kepada Al Jazeera.
Kondisi tersebut terjadi karena sumur minyak yang sudah ditutup tak mudah diaktifkan kembali.
Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memang memiliki jalur pipa alternatif di luar Selat Hormuz. Ancaman terhadap kapal pengangkut tetap mendorong kenaikan harga minyak dan biaya pengiriman, sementara produsen di Teluk hanya mampu menyimpan minyak selama beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum produksi harus dihentikan jika ekspor tetap terhambat.
3. Lonjakan harga energi picu kekhawatiran ekonomi global

Harga minyak Brent melonjak lebih dari 9 persen pada Jumat (6/3/2026) hingga mencapai sekitar 93 dolar AS per barel (setara Rp1,57 juta per barel), level tertinggi sejak musim gugur 2023. Kenaikan harga minyak dan gas itu turut mendorong peningkatan biaya bahan bakar kendaraan, pemanas rumah, bahan pangan, serta barang impor, sementara di Inggris harga bensin dan solar sudah naik di pompa meski tagihan listrik serta gas rumah tangga masih tertahan oleh batas harga Ofgem hingga Juli.
Jorge Leon dari Rystad Energy mengatakan kepada BBC bahwa situasi ini menghadirkan ancaman nyata terhadap ekonomi global. Ia menambahkan bahwa jika konflik berlangsung lebih dari dua minggu, dampak besar terhadap sistem energi dan prospek makroekonomi dunia akan semakin mungkin terjadi.
Konflik tersebut belum menunjukkan tanda akan segera berakhir. Pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) telah menyatakan kesiapan memberi serangan keras terhadap Iran, sementara kekhawatiran terhadap kemungkinan invasi darat semakin meningkat.
Iran masih melanjutkan serangan meski mendapat kecaman luas dari komunitas internasional karena dinilai melanggar hukum internasional.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan melalui media sosial bahwa Iran berkomitmen menjaga perdamaian abadi di kawasan, namun negaranya tak akan ragu membela martabat serta kedaulatan bangsa. Ia juga menekankan setiap upaya mediasi harus membahas pihak yang dianggap meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik tersebut, yang menurutnya merujuk pada AS dan Israel.


















