Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Iran Disebut Sepakat Beri Semua Uraniumnya ke AS, Benarkah?

Iran Disebut Sepakat Beri Semua Uraniumnya ke AS, Benarkah?
potret uranium (flickr.com/James St. John via commons.wikimedia.org/James St. John)
Intinya Sih
  • AS dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan, di mana Iran bersedia menyerahkan seluruh cadangan uraniumnya ke AS dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi dan penghentian serangan Israel ke Lebanon.
  • Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menolak rencana penyerahan uranium karena dianggap bisa mengganggu proses negosiasi damai yang sedang berlangsung antara kedua negara.
  • Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang sudah diperkaya hingga 60 persen, jumlah yang dinilai cukup untuk membuat sekitar sepuluh hulu ledak nuklir menurut IAEA.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dikabarkan sudah bersedia untuk menyerahkan semua cadangan uraniumnya ke Amerika Serikat. Menurut laporan The New York Times pada Minggu (24/5/2026), kesepakatan itu diraih dalam negosiasi lanjutan antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan. Negosiasi itu digelar secara tidak langsung sejak Kamis (21/5/2026).

Presiden AS, Donald Trump, menyebut negosiasi dengan Iran berjalan lancar. Negosiasi itu menghasilkan sejumlah kesepakatan antara AS dan Iran. Di sisi AS, mereka bersedia untuk menyudahi sanksi ekonomi terhadap Iran dan akan meminta Israel berhenti menyerang Lebanon. Sementara itu, Iran bersedia membuka Selat Hormuz selama 60 hari dan menyerahkan uraniumnya ke AS.  

1. Iran sebelumnya menolak memberi uranium ke AS

Ilustrasi penolakan.
ilustrasi penolakan (pexels.com/Monstera Production)

Kabar kesediaan Iran untuk menyerahkan uranium ke AS tadi sebetulnya menimbulkan pertanyaan. Sebab, beberapa waktu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan uranium Iran ke pihak mana pun, termasuk AS.

"Arahan Pemimpin Tertinggi dan konsensus di dalam pemerintahan adalah bahwa persediaan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini," kata salah satu dari dua pejabat Iran yang minta namanya dirahasiakan untuk alasan keamanan pada Kamis dilansir Jerusalem Post.

2. Rencana AS mengambil uranium Iran bisa ganggu negosiasi damai

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Menurut pejabat tadi, Khamenei juga mengingatkan agar AS segera menghentikan niatnya untuk mengambil uranium Iran. Sebab, menurut Khamenei, rencana itu bisa mengganggu proses negosiasi damai antara AS dan Iran. Terlebih, proses negosiasi antara kedua negara kini sedang berjalan. 

“Negosiasi difokuskan pada pengakhiran perang dan isu-isu terkait masalah nuklir tidak akan dibahas secara rinci pada tahap ini. Oleh karena itu, jika kita mencoba membahas detail masalah nuklir pada tahap ini, kita tidak akan mencapai kesimpulan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Jumat (22/5/2026). 

3. Cadangan uranium Iran cukup untuk membuat sepuluh hulu ledak nuklir

Uranium yang sudah diperkaya.
potret uranium (commons.wikimedia.org/United States Department of Energy)

Sebagai informasi, Iran saat ini memiliki cadangan uranium yang sudah diperkaya sebesar 970 pound atau 440 kilogram. Dilansir Al Jazeera, jumlah ini setara dengan 60 persen dari total kebutuhan uranium untuk membuat senjata nuklir. Semua uranium tersebut dikabarkan terkubur di bawah tanah imbas serangan AS dan Israel ke Iran pada 2025 lalu.  

Jika ingin membuat senjata nuklir, stok uranium Iran harus mencapai 90 persen. Namun, menurut Kepala International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, cadangan uranium yang dimiliki Iran saat ini sudah cukup untuk membuat sekitar sepuluh hulu ledak nuklir. Inilah yang membuat Trump ketar-ketir dan ingin segera mengambil uranium milik Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More