Rusia Usir Diplomat Inggris atas Tuduhan Spionase

- Rusia mengusir diplomat Inggris Albertus Gerhardus Janse van Rensburg karena dituduh melakukan spionase dan menyalahgunakan status diplomatik untuk mengumpulkan informasi sensitif terkait keamanan nasional.
- Pemerintah Inggris membantah tuduhan tersebut, menilai langkah Rusia sebagai bentuk intimidasi dan propaganda yang bertujuan mengalihkan perhatian dari kebijakan luar negeri Moskow yang agresif.
- Pengusiran ini menjadi insiden kedua pada 2026, memperburuk hubungan Rusia-Inggris yang sudah tegang sejak Perang Dingin, dengan ancaman balasan setimpal dari kedua pihak.
Jakarta, IDN Times - Hubungan diplomatik antara Rusia dan Inggris kembali memanas pada Senin (30/3/2026), setelah Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) resmi mengusir seorang diplomat Inggris bernama Albertus Gerhardus Janse van Rensburg. Diplomat yang menjabat sebagai sekretaris kedua di Kedutaan Besar Inggris di Moskow ini dituduh melakukan aktivitas spionase dan menyalahgunakan status diplomatiknya untuk mengumpulkan informasi sensitif yang mengancam keamanan negara.
Insiden ini merupakan pengusiran kedua sepanjang tahun 2026, yang menandai titik terendah hubungan kedua negara sejak era Perang Dingin. Menanggapi tuduhan tersebut, pihak pemerintah Inggris melalui Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan (FCDO) dengan tegas membantah klaim Moskow dan menyebut langkah pengusiran ini sebagai bagian dari kampanye intimidasi serta penyebaran narasi palsu terhadap staf diplomatik mereka.
1. Diplomat Inggris dituduh jadi mata-mata oleh pihak keamanan Rusia
FSB mengusir Albertus Gerhardus Janse van Rensburg (29), yang resmi terdaftar sebagai Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Inggris di Moskow. FSB menuduh Janse van Rensburg menyalahgunakan status diplomatiknya untuk kegiatan intelijen dan memberikan data identitas palsu guna menutupi pekerjaan aslinya.
"Kami menemukan bukti bahwa diplomat tersebut melakukan aktivitas mata-mata yang mengancam keamanan Rusia. Ia mencoba menggali informasi rahasia melalui pertemuan tidak resmi dengan para pakar ekonomi kami," kata pihak berwenang Rusia, dilansir Al Jazeera.
Selain pengusiran, otoritas Rusia juga memperingatkan warganya agar tidak berkomunikasi secara ilegal dengan diplomat Inggris. Hal ini dilakukan untuk mencegah potensi keterlibatan warga dalam tindak pidana spionase ekonomi, mengingat diplomat tersebut dituduh aktif mencari data ketahanan ekonomi Rusia.
"Untuk menghindari risiko hukum dan pidana, kami meminta warga Rusia agar tidak melakukan pertemuan rahasia dengan diplomat Inggris mana pun," ujar pihak keamanan Rusia, dilansir Associated Press.
2. Rusia cabut izin diplomat Janse van Rensburg
Kementerian Luar Negeri Rusia segera memanggil Kuasa Usaha Inggris di Moskow, Danae Dholakia, untuk memberikan nota protes resmi. Rusia menyatakan bahwa akreditasi diplomat Janse van Rensburg telah dicabut dan memberinya waktu dua minggu untuk meninggalkan wilayah Rusia.
Menanggapi hal ini, juru bicara FCDO Inggris membantah keras tuduhan tersebut.
"Tuduhan Rusia terhadap diplomat kami hari ini hanyalah omong kosong. Ini adalah bagian dari kampanye intimidasi dan pelecehan yang tidak dapat kami terima terhadap staf kedutaan," katanya, dilansir TRT World.
Pemerintah Inggris menilai bahwa Kremlin sengaja membuat narasi palsu untuk propaganda domestik dan mengalihkan perhatian dari kebijakan luar negeri Rusia yang agresif.
"Rusia terus melakukan aksi pelecehan yang agresif dan terencana. Mereka melontarkan tuduhan jahat yang sama sekali tidak berdasar terhadap staf kami yang sebenarnya hanya menjalankan tugas diplomatik biasa," tambah juru bicara FCDO.
3. Rusia ancam beri balasan setimpal pada Inggris
Insiden ini adalah pengusiran diplomat Inggris yang kedua kalinya pada tahun ini, menyusul kasus Gareth Samuel Davies pada bulan Januari. Rusia memperingatkan bahwa setiap tindakan dari London akan dijawab dengan langkah serupa secara proporsional demi keamanan nasional.
Saat ini, hubungan Moskow dan London berada pada titik terburuk sejak Perang Dingin. Hal ini disebabkan oleh besarnya dukungan Inggris terhadap Ukraina serta kebijakan tegas London yang menjatuhkan sanksi terhadap aset ekonomi Rusia.
"Moskow tidak akan membiarkan agen intelijen Inggris beroperasi secara rahasia di Rusia. Sikap tegas ini tidak bisa ditawar demi menjaga keamanan nasional kami," kata Kementerian Luar Negeri Rusia.















