Rusia Tuduh Prancis Gelar Operasi Gulingkan Junta Militer di Afrika

- Rusia tuduh Prancis terlibat dalam upaya instabilitas di Afrika Barat
- AES kecam serangan teroris di Niger
- Kelompok teroris serang konvoi truk BBM di Mali
Jakarta, IDN Times - Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menuding bahwa Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyetujui operasi khusus di Afrika. Langkah ini untuk menggulingkan pemimpin militer di Afrika.
“Pemerintahan Macron berusaha untuk mengembalikan pengaruh politiknya di Afrika. Setelah Prancis mengalami kemunduran usai rentetan kudeta militer dan berujung pudarnya pengaruh di Afrika beberapa tahun ini,” terangnya, dikutip Anadolu Agency, Selasa (3/2/2026).
Pekan lalu, Niger menuding Prancis terlibat dalam serangan teroris di Bandara Internasional Diori Hamani, Niamey. Junta militer Niger juga mengakui mendapat bantuan Rusia untuk meringkus kelompok teroris.
1. Tuding Prancis terlibat dalam upaya instabilitas di Afrika Barat
SVR mengungkapkan bahwa Macron terinspirasi operasi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Alhasil, Macron mengotorisasi operasi intelijen untuk meringkus pemimpin yang tidak diinginkannya.
Moskow menyebut, Paris sudah terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden militer Burkina Faso, Ibrahim Traore pada awal tahun ini. Prancis juga berniat untuk memasang pemimpin pro-Prancis di Burkina Faso dan sejumlah negara Afrika lainnya.
Prancis dituding melakukan perusakan di negara-negara Afrika ini dengan bantuan kelompok teroris. Selain itu, mendapat bantuan dari Ukraina untuk menyuplai kelompok militan dengan drone dan instruktur khusus.
2. AES kecam serangan teroris di Niger
Alliance of Sahel States (AES) yang terdiri dari Mali, Niger, dan Burkina Faso mengecam serangan teroris di Bandara Niamey pekan lalu. Serangan tersebut membuat tujuh tentara terluka dan sejumlah pesawat militer dan sipil rusak.
AES mengungkapkan solidaritas penuh kepada Niger atas serangan tersebut. Aliansi militer tersebut menyatakan komitmen bersama untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan di seluruh negara anggota dari ancaman teroris.
Selain menuding Prancis, Niger juga menuduh Benin dan Pantai Gading terlibat dalam aksi terorisme tersebut. Alhasil, kedua negara Afrika Barat itu membantah keterlibatannya dan memanggil diplomat Niger untuk memberikan keterangan atas tuduhan tersebut.
3. Kelompok teroris serang konvoi truk BBM di Mali
Pekan lalu, kelompok jihadis afiliasi Al-Qaeda, Jama'at Nasr al-Islam wal Muslimin (JNIM) sudah menyergap konvoi truk BBM di Mali bagian barat. Sebanyak 15 pengemudi truk tewas dan seluruh truk dibakar di sepanjang jalan yang menghubungkan ke Senegal.
Sejak September 2025, Mali sudah dilanda instabilitas imbas blokade BBM. Kelompok teroris diketahui sudah menghancurkan ratusan truk BBM yang menuju ke ibu kota Bamako.
Dilansir Business Insider Africa, krisis di Mali kian parah setelah perusahaan logistik, Mediterranean Shipping Company menangguhkan pengiriman kargo di Mali. Keputusan ini terkait kekhawatiran soal keamanan pengiriman dan ketersediaan BBM.


















