Sekjen NATO Ingatkan Eropa Masih Bergantung pada Kekuatan AS

- Ketergantungan Eropa pada payung nuklir AS.
- Dorongan Trump menaikkan anggaran pertahanan NATO.
- Pinjaman Ukraina, Greenland, dan peran sekutu NATO.
Jakarta, IDN Times – Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte mengingatkan anggota parlemen Eropa bahwa benua itu sama sekali belum sanggup menjaga pertahanannya tanpa dukungan Amerika Serikat (AS). Peringatan tersebut ia sampaikan saat berbicara di hadapan komite pertahanan dan luar negeri Parlemen Eropa pada Senin (26/1/2026).
“Jika ada yang berpikir di sini … bahwa Uni Eropa atau Eropa secara keseluruhan dapat membela diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Kalian tidak bisa,” ujarnya, dikutip dari Japan Times.
Selain itu, Rutte juga menolak gagasan pembentukan pasukan pertahanan Eropa yang berdiri terpisah dari kehadiran militer AS di kawasan tersebut. Ia menilai konsep pilar Eropa dalam NATO sekadar retorika tanpa substansi dan menegaskan bahwa pembentukan tentara Eropa mandiri justru akan memicu pemborosan besar. Menurut Rutte, arah kebijakan semacam itu hanya akan memperkeruh situasi keamanan.
“Ini akan membuat segalanya lebih rumit. Saya pikir (Presiden Rusia Vladimir) Putin akan menyukainya. Jadi pikirkan lagi,” katanya.
1. Ketergantungan Eropa pada payung nuklir AS

Rutte menjelaskan bahwa tanpa AS, Eropa akan kehilangan payung nuklir Amerika yang selama ini menjadi jaminan utama kebebasan kawasan tersebut. Ia menilai upaya membangun pertahanan mandiri tak mungkin tercapai hanya dengan target baru belanja militer NATO sebesar 5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Dalam penjelasannya, Rutte menilai angka tersebut jauh dari cukup jika Eropa benar-benar ingin berdiri sendiri.
“Bagi Eropa, jika Anda benar-benar ingin melakukannya sendiri … lupakan bahwa Anda bisa mencapainya dengan 5 persen,” katanya, dikutip dari Politico.
Ia menyebut kebutuhan anggaran pertahanan akan melonjak hingga sekitar 10 persen dari PDB dengan biaya miliaran euro untuk meniru kapabilitas nuklir AS. Di sisi lain, Rutte kembali menegaskan komitmen penuh Washington terhadap Pasal 5 NATO yang mengatur pertahanan bersama.
Menurut Rutte, AS bukan hanya menjadi tulang punggung aliansi, tetapi juga memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas Eropa dan kawasan Euro-Atlantik secara keseluruhan.
2. Dorongan Trump menaikkan anggaran pertahanan NATO

Dalam bagian lain pernyataannya, Rutte berulang kali menyebut peran Presiden AS Donald Trump dalam mendorong negara-negara anggota NATO menaikkan anggaran pertahanan. Ia menilai tekanan Trump menjadi faktor kunci perubahan sikap sejumlah sekutu.
Negara-negara yang sebelumnya enggan, seperti Spanyol, Italia, Belgia, dan Kanada, akhirnya meningkatkan belanja militer dari sekitar 1,5 persen menjadi sedikitnya 2 persen dari PDB. Rutte menegaskan lonjakan tersebut tak akan pernah terjadi tanpa desakan kuat dari Trump.
3. Pinjaman Ukraina, Greenland, dan peran sekutu NATO

Rutte juga menyinggung paket pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro (sekitar Rp1.795 triliun) untuk Ukraina. Ia mendesak agar penggunaan dana itu dibuat fleksibel dan tidak terikat aturan “buy EU” yang terlalu kaku sehingga membatasi Kyiv hanya membeli persenjataan dari pemasok Eropa, sementara industri pertahanan Eropa saat ini belum mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan Ukraina.
Ia menekankan bahwa prioritas pengelolaan pinjaman tersebut harus sepenuhnya berpijak pada kebutuhan Ukraina. Rutte kembali mengingatkan bahwa pembatasan pembelian senjata dari luar Eropa, terutama dari AS, berpotensi melemahkan kemampuan militer Ukraina pada momen krusial.
Selain itu, Rutte mengonfirmasi bahwa dirinya sempat berbicara dengan Trump ketika muncul krisis diplomatik terkait Greenland. Ia menyebut telah membantu memfasilitasi kesepakatan agar NATO mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanan kawasan Arktik, sembari menegaskan tidak memiliki mandat untuk bernegosiasi atas nama Denmark.
Di luar isu Greenland, Rutte juga menyampaikan apresiasi terhadap pengorbanan sekutu NATO selama misi di Afghanistan.
“Untuk setiap dua tentara Amerika yang membayar harga tertinggi, satu tentara dari sekutu atau mitra, sekutu NATO atau negara mitra, tidak kembali ke rumah,” katanya seraya menegaskan bahwa AS sangat menghargai pengorbanan para prajurit tersebut.

















