Warga AS hingga Mesir Jadi Korban Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Saudi

Serangan di Bandara Internasional King Khalid menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Delapan korban tewas merupakan WNA dari Bangladesh, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Houthi belum mengklaim tanggung jawab, sementara GACA masih mendata kerusakan dan jumlah keseluruhan korban.
Jakarta, IDN Times — Serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/26) menewaskan 12 orang. Delapan di antaranya merupakan warga negara asing (WNA) dari sejumlah negara.
Dilansir AFP, Minggu (11/10/2026), otoritas bandara Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA) merinci delapan korban WNA tersebut terdiri dari dua warga Bangladesh serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Selain menimbulkan korban jiwa, serangan tersebut menyebabkan lebih dari 300 orang terluka. Beberapa korban dilaporkan mengalami luka parah dan berada dalam kondisi kritis. Mereka saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di sekitar bandara.
Insiden tersebut sempat menghentikan aktivitas bandara. GACA menyatakan, pihak berwenang masih melakukan pendataan untuk memastikan tingkat kerusakan serta jumlah keseluruhan korban akibat serangan tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya serangan rudal kelompok milisi Houthi Yaman, yang bersekutu dengan Iran, ke wilayah Arab Saudi. Meski demikian, Houthi belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru di Bandara Internasional King Khalid.
Serangan pada Sabtu tersebut juga dilaporkan tidak terdeteksi oleh sistem keamanan Arab Saudi. Tidak ada tanda peringatan yang muncul dari sistem peringatan yang dipasang oleh otoritas setempat sebelum serangan terjadi.
Serangan di bandara Riyadh itu menjadi insiden ketiga dalam sepekan terakhir. Dalam dua serangan sebelumnya, empat orang dilaporkan tewas.
Di tengah situasi tersebut, Riyadh dijadwalkan menjadi tuan rumah sejumlah konferensi besar di bidang energi dan investasi dalam waktu dekat. Penyelenggara menyatakan, acara-acara tersebut tetap berlangsung sesuai rencana dan meyakinkan peserta mengenai aspek keamanan.
Sebelumnya, Houthi meminta pesawat sipil menghindari wilayah udara Arab Saudi. Kelompok tersebut menyatakan wilayah udara Saudi sebagai zona operasi militer setelah pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, melancarkan serangan terhadap mereka pada awal bulan ini.
























