Trump Puji Kedekatan Pribadi dengan Xi dan Optimistis 3 Tahun ke Depan

- Trump dan Xi membahas agenda kerja sama luas, termasuk perdagangan, energi, militer, dan Taiwan.
- Xi menegaskan posisi tegas soal Taiwan dan meminta AS lebih berhati-hati dalam penjualan senjata ke Taiwan.
- Pemerintah China siap memperkuat hubungan bilateral dengan AS menuju pola interaksi yang didasarkan pada sikap saling menghormati.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan bahwa pembicaraan melalui telepon dengan Presiden China Xi Jinping pada Rabu (4/2/2026) berlangsung dalam suasana sangat baik dan mendalam. Ia menggambarkan komunikasi tersebut berjalan panjang, menyeluruh, serta menghasilkan nada yang sepenuhnya positif. Trump juga menekankan kedekatan relasi personalnya dengan pemimpin China itu. Melalui unggahan di akun Truth Social, Trump memaparkan pandangannya tentang arti penting hubungan kedua negara.
“Hubungan dengan China, dan hubungan pribadi saya dengan Presiden Xi, adalah hubungan yang sangat baik, dan kami berdua menyadari betapa pentingnya menjaga hubungan tersebut tetap seperti itu,” tulisnya, dikutip dari Politico.
Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa akan banyak capaian positif yang dapat diwujudkan dalam tiga tahun masa kepresidenannya mendatang bersama Xi dan Republik Rakyat China.
1. Kedua pemimpin membahas agenda kerja sama luas

Dalam percakapan tersebut, Trump dan Xi menyinggung beragam isu penting yang mencakup sektor perdagangan, energi, pembelian minyak dan gas, hingga pengiriman mesin pesawat terbang. Mereka juga membicarakan persoalan militer, rencana kunjungan Trump ke China pada April mendatang, perang Rusia-Ukraina, perkembangan di Iran, serta situasi Taiwan. Trump menyebut bahwa isu Taiwan tak dibahas ketika pertemuan tatap muka mereka di Busan, Korea Selatan (Korsel), akhir tahun lalu.
Dari sisi ekonomi, Trump mengumumkan adanya kesepakatan baru terkait komoditas kedelai. China menyatakan kesiapan meningkatkan pembelian dari AS sehingga volume musim ini naik dari 12 juta ton menjadi 20 juta ton, dan untuk musim depan telah dibicarakan potensi mencapai 25 juta ton. Hingga kini, sekitar 80 persen dari komitmen awal 12 juta metrik ton telah terealisasi, sementara sisa pengiriman diperkirakan rampung pada Februari.
Kementerian Luar Negeri China dan kantor berita Xinhua dalam pernyataan resminya menyebut kedua pemimpin terus mempertahankan jalur komunikasi yang sehat selama setahun terakhir. Pertemuan sebelumnya di Busan pada Oktober lalu dinilai berjalan sukses dan produktif. Meski demikian, keterangan resmi itu tak menyinggung rencana kunjungan April ataupun kesepakatan baru mengenai kedelai.
2. Xi menegaskan posisi tegas soal Taiwan

Xi menekankan bahwa perbedaan pandangan antara China dan AS seharusnya diselesaikan melalui dialog yang bersahabat dengan berlandaskan kesetaraan. Ia kembali mengingatkan bahwa persoalan Taiwan merupakan isu paling sensitif dan utama dalam hubungan kedua negara.
“Taiwan adalah wilayah China. China harus melindungi kedaulatan nasional dan integritas teritorial, dan tidak akan pernah mengizinkan Taiwan dipisahkan dari China,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Xi turut meminta pemerintah AS agar lebih berhati-hati dalam mengambil langkah terkait penjualan senjata ke Taiwan dan menilai isu tersebut harus dikelola secara sangat cermat. Percakapan kedua pemimpin terjadi setelah AS sebelumnya menyetujui paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS (setara Rp184,67 triliun) untuk Taiwan, yang menjadi salah satu paket terbesar sepanjang sejarah, serta di tengah meningkatnya aktivitas latihan militer China di sekitar pulau itu, termasuk latihan blokade tembakan langsung yang digelar baru-baru ini.
3. China menegaskan komitmen memperkuat hubungan bilateral

Pemerintah China menyatakan kesiapan untuk terus mengarahkan hubungan dengan AS sepanjang 2026 menuju pola interaksi yang didasarkan pada sikap saling menghormati. Beijing juga menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai serta membangun kerja sama yang memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Pihak China menegaskan bahwa mereka selalu memegang teguh komitmen, menyampaikan pernyataan secara jelas, dan berupaya menyelaraskan ucapan dengan tindakan nyata.
Dilansir dari The Hill, komunikasi antara Trump dan Xi berlangsung beberapa jam setelah Xi mengadakan pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam dialog tersebut, kedua pemimpin sepakat meningkatkan koordinasi di tengah dinamika global yang kian tak menentu. Meski demikian, laporan resmi China mengenai percakapan dengan Trump sama sekali tak memuat pembahasan tentang Rusia ataupun perang di Ukraina.


















