“Saya telah meminta pemerintah untuk menanggapi tuntutan sah yang menjadi akar dari gerakan protes ini. Perdana Menteri dan para menteri pemerintah akan mengumumkan beberapa langkah besar dan konkret sore ini,” kata Macron saat berkunjung ke Kota Marseille, Senin (26/10/2026), seperti dilansir The New Arab.
Macron Janji Penuhi Tuntutan Pelajar yang Demo di Prancis

- Presiden Emmanuel Macron berjanji merespons tuntutan pelajar, dengan Perdana Menteri Sebastien Lecornu dijadwalkan bertemu siswa SMA dan mahasiswa.
- Pemerintah Prancis akan membenahi seleksi universitas Parcoursup, merenovasi sekolah rusak, mempersingkat jam belajar-mengajar, serta menangani kenaikan biaya hidup dan sewa.
- Demo 24 Oktober di delapan kota diikuti 410 ribu orang; bentrokan dengan polisi berujung hampir 1.000 penangkapan, setelah protes sebelumnya juga diwarnai perusakan dan penjarahan.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, berjanji akan memenuhi semua tuntutan kalangan pelajar yang menggelar demo massal di Prancis dalam beberapa pekan terakhir. Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, juga sudah dijadwalkan bertemu dengan kalangan pelajar Prancis yang terdiri dari siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa universitas untuk memenuhi semua tuntutan mereka.
1. Macron akan benahi masalah pendidikan hingga ekonomi

ilustrasi pendidikan (pexels.com/Max Fischer) Dalam laporannya, media Prancis, France24, menyebut bahwa Macron akan membenahi masalah pendidikan hingga ekonomi di negaranya. Sebab, isu itulah yang menjadi keresahan kalangan pelajar di Prancis sehingga memicu mereka untuk melakukan demo massal sejak September lalu.
France24 menjelaskan, Macron akan segera membenahi Pacousup, sistem seleksi universitas di Prancis yang dianggap tidak adil dan merugikan siswa yang ingin masuk kampus impian. Selain itu, Macron juga akan mempercepat renovasi sekolah rusak di Prancis, memperpendek jam belajar dan mengajar di sekolah, serta mendongkrak perekonomian di negaranya. Sebab, situasi ekonomi di Negeri Mode kini sedang tidak baik sehingga biaya hidup dan biaya sewa tempat tinggal naik drastis.
2. Pelajar Prancis kembali gelar demo pada pekan lalu

potret demo di Prancis (unsplash.com/Pierre Herman) Macron akhirnya bersedia memenuhi semua tuntutan tadi usai pelajar dan kalangan muda Prancis kembali menggelar demo massal pada Sabtu (24/10/2026). Ketika itu, demo pecah di delapan kota besar yang ada di Prancis, mulai dari Paris, Marseille, Lyon, Bordeaux, Lille, Toulouse, Montpellier, dan Nantes. Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunéz, demo massal kali ini diikuti oleh 410 ribu peserta. Sebanyak 110 ribu di antaranya berkumpul di Paris.
Nunéz menjelaskan, pihaknya sudah menerjunkan sekitar 70 ribu personel polisi untuk mengawasi demo yang sedang berlangsung. Awalnya, demo tersebut berlangsung damai. Namun, demo berubah menjadi tegang saat beberapa pelajar dan kalangan muda Prancis bentrok dengan polisi yang berjaga di sekitar lokasi unjuk rasa. Imbas aksi ini, hampir 1.000 orang akhirnya ditangkap untuk diberikan hukuman.
3. Macron dituduh gagal memenuhi tuntutan pelajar

potret Presiden Prancis, Emmanuel Macron (commons.wikimedia.org/European Union) Pada 17 Oktober lalu, demo serupa juga terjadi Paris, Marseille, dan Lille. Ketika itu, demo berlangsung ricuh karena para pelajar yang terlibat dalam demo tersebut merusak dan menjarah toko-toko barang mewah yang ada di ketiga kota tersebut. Imbas aksi itu, demo ini menjadi salah satu peristiwa kerusuhan paling parah yang pernah terjadi di Prancis.
Warga Prancis menyalahkan Macron atas terjadinya semua demo tersebut. Sebab, mereka menilai Macron dan para jajarannya gagal memenuhi tuntutan para pelajar sehingga keresahan mereka akhirnya berujung demo anarkis yang merugikan masyarakat.





















