Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Sebut Kesepakatan Damai AS dan Iran Belum Final

Trump Sebut Kesepakatan Damai AS dan Iran Belum Final
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump menegaskan kesepakatan damai AS-Iran belum final dan mengancam akan menyerang Iran jika negara itu melanggar poin perjanjian, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.
  • Kesepakatan damai dicapai setelah negosiasi panjang yang dimediasi Pakistan sejak Mei 2026, dengan Iran akhirnya setuju membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas perdamaian dengan AS.
  • Perjanjian damai resmi ditandatangani di KTT G7 Prancis, menggantikan rencana awal penandatanganan di Swiss yang semula dijadwalkan pada 19 Juni 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut kesepakatan damai dengan Iran belum final. Sebab, meski perjanjian sudah ditandatangani dan sudah resmi berlaku, Trump mengatakan akan menyerang Iran jika mereka tidak mematuhi semua poin yang ada di dalamnya, terutama soal pembukaan Selat Hormuz. Trump mengatakan akan kembali membombardir Iran jika mereka tidak membuka selat tersebut. 

“Ini belum final. Ini adalah nota kesepahaman. Jika saya tidak menyukainya, jika mereka (Iran) tidak berperilaku baik, kita akan kembali menjatuhkan bom tepat di tengah kepala mereka, oke? Sebab, mereka telah berperilaku buruk selama 47 tahun,” ujar Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian, Prancis, Rabu (17/6/2026), seperti dilansir Times of Israel.  

1. Pembukaan Selat Hormuz jadi salah satu poin kesepakatan damai AS dan Iran

Peta Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Pembukaan Selat Hormuz sendiri memang menjadi salah satu dari 14 poin yang ada dalam kesepakatan damai AS dan Iran. Dalam kesepakatan tersebut, Iran bersedia kembali membuka Selat Hormuz secara penuh sebagai imbalan karena AS sudah bersedia damai dengan mereka.   

Pekan lalu, Iran memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz secara penuh. Keputusan ini diambil Iran sebagai balasan atas serangan AS. Sebab, selama pekan lalu, AS mulai kembali menyerang mereka. Padahal, gencatan senjata kedua negara masih berlangsung.  

2. AS dan Iran meraih kesepakatan damai usai negosiasi alot

Negosiasi perdamaian di antara dua negara.
ilustrasi negosiasi perdamaian (pexels.com/Monstera Production)

Kesepakatan damai AS dan Iran sendiri resmi dicapai pada Minggu (14/6/2026) pekan lalu. Kesepakatan ini akhirnya diraih usai kedua negara menjalani negosiasi alot yang dimediasi Pakistan sejak Mei lalu. Pada awal Juni, Iran sempat menghentikan negosiasi damai dengan AS. Keputusan ini dilakukan sebagai protes karena Israel terus menyerang Lebanon. Namun, Teheran akhirnya bersedia kembali melanjutkan negosiasi dengan Washington.

“Kesepakatan (damai) dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semuanya! Dengan ini, saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol. Bersamaan dengan itu, saya mengizinkan pencabutan segera blokade angkatan laut Amerika Serikat. Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social

3. AS dan Iran resmi menandatangani kesepakatan damai di KTT G7 Prancis

Para pemimpin negara sedang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 2026 di Evian, Prancis.
Para pemimpin negara sedang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 2026 di Evian, Prancis. (commons.wikimedia.org/ Government of India)

Awalnya, perjanjian damai AS dan Iran akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6/2026) waktu setempat. Resort Burgenstock jadi tempat yang dipilih Washington dan Teheran untuk meneken perjanjian sakral tersebut. Namun, AS dan Iran memilih untuk menandatangani kesepakatan damai di KTT G7. Oleh karena itu, pertemuan di Swiss kemungkinan besar tidak akan dilaksanakan. 

“Pertemuan hari Jumat telah dikonfirmasi hingga beberapa jam yang lalu. Namun, ketika diputuskan bahwa presiden dari kedua belah pihak (Iran dan AS) akan menandatangani perjanjian tersebut, diputuskan untuk menunda pertimbangan pertemuan hari Jumat untuk sementara waktu,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baghaei.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More