Ukraina Sebut Operasi Militer AS di Venezuela Tepat

- Zelenskyy sebut AS tahu apa yang harus dilakukan kepada Maduro
- Sistem pertahanan Rusia di Venezuela dihancurkan AS
- Venezuela sebut miliki 5 ribu misil anti-pesawat buatan Rusia
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha mengatakan bahwa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro sudah melanggar hak asasi manusia (HAM). Menurutnya, proses penangkapan Maduro ini harus sesuai dengan hukum internasional.
“Ukraina mendukung hak dari rakyat Venezuela dari diktator, operasi, dan pelanggaran HAM. Rezim Maduro sudah melanggar seluruh prinsip tersebut. Dengan ini, warga Venezuela punya kesempatan kembali hidup normal,” paparnya, dikutip dari United24, pada Minggu (4/1/2026).
Sybiha menyampaikan bahwa Ukraina akan terus mendukung hak keamanan, kesejahteraan, kehormatan rakyat Venezuela. Ia menyebut, Ukraina konsisten tidak mengakui legitimasi Maduro yang melakukan kejahatan kepada oposisi.
1. Zelenskyy sebut AS tahu apa yang harus dilakukan kepada Maduro
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa AS tahu apa yang harus dilakukan dengan menangkap Maduro. Ia menilai Maduro adalah seorang diktator yang telah melakukan kejahatan.
“Baiklah, apa yang bisa saya katakan? Jika diktator dapat melakukan sesuatu seperti ini, maka AS tahu apa yang mereka lakukan ke depannya,” tutur Zelenskyy, dikutip dari Ukrinform.
Sebelumnya, AS melaporkan bahwa Maduro sudah ditangkap oleh pasukan eltite Delta Force. Presiden AS, Donald Trump juga mengatakan akan mengambilalih pemerintahan Venezuela hingga proses transisi berjalan aman dan lancar.
2. Sistem pertahanan Rusia di Venezuela dihancurkan AS
Dalam operasi militer skala besar AS di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari, helikopter AS dapat masuk ke Venezuela tanpa halangan. Keberhasilan ini berkat serangan AS yang berfokus pada infrastruktur militer di Caracas.
Padahal, Venezuela sudah mendapatkan sejumlah sistem pertahanan udara Buk-M2 dan Pantsir dari Rusia sebagai alat pertahanan. Namun, sistem pertahanan buatan Rusia itu terbukti tidak efektif dan berhasil dihancurkan oleh AS.
AS diketahui sudah mempersiapkan operasi militer di Venezuela selama beberapa bulan. Fokus operasi AS ini pada kompleks militer di Fort Tiuna yang menjadi kantor pusat komando dari militer Venezuela.
3. Venezuela sebut miliki 5 ribu misil anti-pesawat buatan Rusia
Pada Oktober, Maduro mengatakan bahwa Venezuela sudah menerima 5 ribu senjata anti-misil buatan Rusia. Pembelian dilakukan di tengah ketegangan antara AS dan Venezuela menyusul penerjunan militer di Karibia.
“Semua pasukan militer di dunia ini tahu seberapa kuatnya Igla-S dan Venezuela sudah memiliki tidak kurang dari 5 ribu unit,” terangnya, dilansir CNN.
Sebagai informasi, misil jarak pendek Igla-S memiliki kemampuan setara dengan Stringers milik AS. Sistem misil tersebut dapat menembak target di udara, seperti misil jelajah dan drone, serta helikopter dan pesawat yang terbang rendah.















