Ferry Irwandi Terbitkan Buku Pertama Berjudul Prinsipil Ekonomi
- Ferry Irwandi merilis buku pertamanya berjudul “Prinsipil Ekonomi” yang bertujuan menjembatani pemahaman ekonomi agar lebih relevan dan mudah dipahami masyarakat tanpa latar belakang akademik khusus.
- Buku ini menyoroti pentingnya literasi ekonomi di tengah maraknya penipuan investasi, berhasil terjual 20.000 eksemplar dalam dua bulan, dan meraih status national best seller.
- Peluncuran Malaka Books menunjukkan optimisme terhadap kebangkitan minat baca anak muda Indonesia meski attention span menurun, menjadi tanda kesadaran baru akan pentingnya membaca berkualitas.
Jakarta, IDN Times - Pegiat media sosial sekaligus Co-founder Malaka, Ferry Irwandi, menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Prinsipil Ekonomi”. Peluncuran buku ini diselenggarakan dalam rangkaian acara Malaka Books Grand Launch.
Bagi banyak orang, ilmu ekonomi sering dirasa berjarak dengan keseharian dan dianggap berisi deretan angka dan grafik rumit yang hanya bisa dipahami para ekonom, akademisi, atau pejabat negara. Padahal, menurut penuturan Ferry, setiap keputusan kita melibatkan ilmu ekonomi.
“Ekonomi bukan hanya tentang tarif impor dan IHSG, tapi juga tentang cara memilih pakaian, strategi mengatur waktu, perencanaan karier, hingga keputusan pertemanan. Singkatnya, ekonomi adalah ilmu tentang pilihan,” ujar Ferry dalam keterangannya dikutip Senin (2/3/2026).
1. Jadi jembatan untuk belajar ekonomi secara masuk akal, relevan, dan aplikatif
Ferry menjelaskan, buku “Prinsipil Ekonomi” ditulis sebagai jembatan bagi siapa saja yang ingin mempelajari ekonomi secara masuk akal, relevan, dan aplikatif—tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang tersebut.
Literasi dasar ekonomi ia nilai kian penting seiring dengan perkembangan instrumen finansial yang membuka banyak celah penipuan. Mengingat dalam enam tahun terakhir, kerugian akibat penipuan investasi ilegal mencapai Rp139,65 triliun.
Antusiasme publik terhadap buku ini membuktikan masyarakat punya kemauan belajar yang tinggi. Dalam waktu kurang dari dua bulan saat pre-order dibuka (16/12/2025) sampai saat peluncuran (15/2/2026), buku ini sudah terjual 20.000 eksemplar. Membuat buku tersebut meraih status national best seller.
2. Indeks tingkat gemar membaca nasional naik

Sementara, Pendiri Malaka Books, Abigail Limuria, mengungkapkan optimisme terhadap masa depan literasi Indonesia. Berdasarkan data, indeks tingkat gemar membaca nasional tercatat naik konsisten sebesar 4,17 persen dari tahun 2020 hingga 2024.
"Ada fight back atau keinginan untuk kembali membaca buku di kalangan anak muda. Ini adalah sinyal harapan yang sangat kuat," ujar Abigail.
3. Attention span alami penurunan

Meski tantangan kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus sedang menurun secara global (attention span), antusiasme banyaknya anak muda yang memadati peluncuran Malaka Books membuktikan adanya keinginan kuat untuk melawan tren tersebut. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa anak muda mulai sadar akan pentingnya meningkatkan kembali attention span dengan membaca buku yang berkualitas.
Co-founder Malaka Books, Cania Citta mnyebut, membaca buku bisa menjadi cara untuk melatih kemampuan berpikir analitis. “Kemampuan berpikir mendalam adalah syarat minimal untuk bisa punya mastery atau keahlian di suatu bidang,” ujar Cania.

















