Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

UNICEF Sebut Gencatan Senjata Gaza Ilusi, Soroti Serangan ke Anak-anak

UNICEF Sebut Gencatan Senjata Gaza Ilusi, Soroti Serangan ke Anak-anak
potret anak-anak (pexels.com/Ahmed akacha)
Intinya Sih
  • UNICEF menyebut gencatan senjata di Gaza sebagai ilusi mematikan karena Israel tetap melancarkan serangan meski kesepakatan damai dengan Hamas sudah berlaku sejak Oktober 2025.
  • Sebanyak 265 anak Palestina tewas dan lebih dari 400 lainnya terluka akibat serangan Israel, yang sering terjadi saat anak-anak beraktivitas sehari-hari tanpa sempat berlindung.
  • UNICEF menyoroti kondisi medis anak-anak Gaza yang memburuk akibat infeksi serius dan keterbatasan fasilitas kesehatan, serta menyerukan bantuan internasional untuk evakuasi dan perawatan mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - UNICEF menyebut gencatan senjata di Gaza hanyalah “ilusi mematikan”. Sebab, meski Israel sudah menyepakati gencatan senjata dengan Hamas, mereka masih tetap menyerang Gaza dan sejumlah wilayah Palestina lainnya hingga menewaskan banyak warga sipil, termasuk anak-anak.

Israel dan Hamas sendiri sudah menyepakati gencatan senjata fase pertama di Gaza sejak Oktober 2025 lalu. Gencatan senjata fase kedua juga sudah berlaku pada Januari. Sayangnya, sejak gencatan senjata fase pertama berlaku, negara mayoritas Yahudi itu masih menyerang Gaza dan Tepi Barat.  

1. Ada 265 anak Palestina yang tewas imbas serangan Israel

Israel menyerang Gaza.
potret serangan Israel di Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Menurut UNICEF, serangan Israel sejak Oktober 2025 sudah menewaskan 265 anak di Palestina. Sementara itu, lebih dari 400 anak lainnya mengalami luka-luka. Oleh karena itu, UNICEF mendesak Israel segera menghentikan serangan ke Gaza, terutama kepada anak-anak. Sebab, anak-anak juga merupakan warga sipil yang tidak boleh jadi target serangan dalam peperangan. 

"Selama periode yang seharusnya ditandai dengan pengekangan dan perlindungan, rata-rata seorang anak telah terbunuh setiap hari selama lebih dari delapan bulan. Selama berbulan-bulan, dunia telah diberitahu bahwa ada gencatan senjata di Gaza. Namun, bagi anak-anak Palestina, apa yang disebut gencatan senjata ini telah menjadi ilusi yang kejam dan mematikan," kata Juru Bicara UNICEF, James Elder, pada Jumat (19/6/2026), seperti The New Arab.

2. Anak-anak Palestina dibunuh saat sedang melakukan aktivitas sehari-hari

Anak-anak Palestina yang ada di pengungsian Gaza.
Anak-anak Palestina yang ada di pengungsian Gaza. (pexels.com/Hosny salah)

Dalam pernyataannya, Elder menjelaskan, umumnya, Israel menyerang anak-anak di Palestina saat mereka sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, anak-anak tersebut tidak sempat berlindung di tempat aman sehingga nyawa merekalah yang jadi korbannya.

"Mereka (anak-anak Palestina) terbunuh di rumah mereka, di sekolah mereka. saat bermain sepak bola, dan saat memancing. Mereka ditembak, dibom, dan ditabrak oleh quadcopter. Jika seorang anak terbunuh setiap hari, tentu saja perdebatan bukan lagi tentang kualitas gencatan senjata. Ini tentang kredibilitas menyebutnya sebagai gencatan senjata," tambah Elder. 

3. Anak-anak Palestina banyak yang terkena infeksi penyakit serius

Virus yang dilihat dari mikroskop elektron.
ilustrasi penyakit (pexels.com/Daniel Dan)

Elder menambahkan, anak-anak Palestina, khususnya yang berada di Gaza kini juga membutuhkan evakuasi medis. Sebab, banyak dari mereka yang terinfeksi penyakit serius. Namun, fasilitas kesehatan dan pasokan medis di pengungsian tidak memadai sehingga mereka tidak bisa ditangani dengan baik. 

Oleh karena itu, Elder menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional untuk menambah bantuan medis ke Palestina. Langkah ini bertujuan agar anak-anak di sana bisa sembuh dari penyakitnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More