UNICEF: 324 Anak Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran dan Lebanon

- UNICEF melaporkan 324 anak tewas akibat serangan AS dan Israel di Iran serta Lebanon sejak akhir Februari 2026, dengan 206 korban dari Iran dan 118 dari Lebanon.
- Serangan yang menargetkan fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit menyebabkan banyak korban anak-anak serta memperburuk kondisi layanan kesehatan dan pasokan kebutuhan dasar.
- Lebih dari empat juta warga, termasuk lebih dari satu juta anak, terpaksa mengungsi ke wilayah aman atau negara tetangga karena serangan yang masih terus berlanjut hingga akhir Maret 2026.
Jakarta, IDN Times - UNICEF merilis laporan terbaru mengenai jumlah korban anak-anak yang timbul akibat serangan Amerika Serikat dan Israel di Iran dan Lebanon. Menurut Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, dalam pernyataannya pada Senin (23/3/2026), serangan AS dan Israel di kedua negara tersebut telah menewaskan sekitar 324 anak.
Chaiban menambahkan, 206 anak-anak yang tewas berasal dari Iran. Sementara itu, 118 anak lainnya berasal dari Lebanon. Jumlah korban anak-anak tersebut merupakan akumulasi akibat serangan AS dan Israel yang dilakukan di Iran dan Lebanon sejak 28 Februari 2026 lalu.
“Di balik angka-angka ini ada orangtua, kakek-nenek, guru, saudara laki-laki, dan saudara perempuan. Masyarakat, kota, dan negara sedang terguncang. Di samping korban tewas dan luka-luka, kita menyaksikan pengungsian cepat di beberapa negara yang dipicu oleh pengeboman tanpa henti dan perintah evakuasi yang telah mengosongkan komunitas dan seluruh wilayah perkotaan,” kata Chaiban dilansir The Hill.
1. Ratusan ribu anak di Iran dan Lebanon terpaksa mengungsi

Menurut Chaiban, serangan AS dan Israel juga telah membuat banyak warga di Iran dan Lebanon, termasuk anak-anak, terpaksa mengungsi. Mereka mengungsi untuk mencari tempat yang lebih aman dari serangan.
Saat ini, ada sekitar 3,2 juta warga di Iran, termasuk 846.000 anak-anak, yang sudah mengungsi. Sementara itu, di Lebanon, ada lebih dari 1 juta warga yang sudah mengungsi. Jumlah tersebut juga sudah termasuk 370.00 anak-anak.
Semua warga dan anak-anak tersebut memutuskan mengungsi di desa-desa yang lebih aman. Namun, sebagian juga ada yang mengungsi di negara-negara tetangga.
2. Korban anak-anak timbul karena AS-Israel kerap menyerang fasilitas umum

Banyaknya korban anak-anak ini terjadi karena AS dan Israel kerap menyerang fasilitas umum yang ada di Iran dan Lebanon. Contohnya saja seperti sekolah.
Dalam serangan pertama di Iran, misalnya, AS-Israel menyerang sebuah sekolah yang ada di Teheran. Serangan tersebut menewaskan sekitar 168 orang. Dari jumlah tersebut, 100 di antaranya merupakan anak-anak.
“Terlalu banyak rumah, sekolah, dan rumah sakit, sistem dan layanan yang diandalkan anak-anak, telah rusak atau hancur. Sistem kesehatan yang sudah berada di bawah tekanan kini semakin terbebani. Rantai pasokan terganggu,” jelas Chaiban.
3. Serangan AS-Israel di Iran dan Lebanon masih berlanjut

Hingga saat ini, serangan AS dan Israel di Iran dan Lebanon masih berlanjut. Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan dirinya akan tetap melakukan serangan ke Iran dan Lebanon sampai dirasa cukup.
Serangan terbaru di Iran terjadi pada Senin (23/3/3026). Saat itu, serangan dilakukan oleh Israel di Teheran. Serangan tersebut dilancarkan ketika AS kini sedang membuka opsi untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Di sisi lain, serangan terbaru juga terjadi di Lebanon pada Senin dan Selasa (24/3/2026). Serangan tersebut juga dilakukan oleh Israel yang ingin membasmi kelompok milisi Hizbullah yang bermarkas di Beirut.


















