Video Lama Viral, Pemimpin Spiritual Bangladesh Tewas Dikeroyok Massa

- Sebuah video lama berisi pernyataan kontroversial Shamim Reza Jahangir tentang kitab suci viral di media sosial, memicu kemarahan warga dan ketegangan komunal di Bangladesh.
- Lebih dari 200 orang menyerang rumah Jahangir di Distrik Kushtia meski polisi sudah bersiaga; korban tewas akibat luka parah setelah dikeroyok massa yang marah.
- Pemerintah dan kepolisian Bangladesh berjanji mengusut tuntas pelaku pengeroyokan, sementara dunia internasional menyoroti meningkatnya kekerasan komunal serta lemahnya perlindungan hukum di negara tersebut.
Jakarta, IDN Times - Seorang tokoh spiritual tewas dikeroyok ratusan massa di Distrik Kushtia, Bangladesh, pada Sabtu (11/4/2026). Insiden mematikan ini dipicu oleh ketegangan komunal pasca-beredar sebuah video lama di media sosial yang memicu kemarahan warga.
Peristiwa ini menambah panjang daftar aksi main hakim sendiri di Bangladesh, di tengah upaya negara tersebut memulihkan supremasi hukum pascagelombang protes mahasiswa pada 2024 lalu. Pihak berwenang kini dihadapkan pada tantangan berat untuk mencegah eskalasi kerusuhan meluas ke wilayah lain.
1. Pernyataan kontroversial mengenai kitab suci

Kekerasan bermula dari tersebarnya sebuah video di media sosial pada Jumat (10/4/2026). Dalam video tersebut, korban, Shamim Reza Jahangir (60), terekam mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai kitab suci yang memicu kemarahan warga.
Video tersebut diduga menunjukkan Jahangir mengeklaim bahwa penulis Al-Quran buta huruf dan pembacanya berada dalam kondisi moral yang buruk. Tuduhan penistaan agama semacam ini kerap menjadi pemicu kerusuhan besar di Bangladesh.
Pihak kepolisian mengklarifikasi bahwa rekaman yang beredar sebenarnya adalah video lama dari tahun 2021. Korban juga pernah ditangkap karena kasus yang sama pada tahun tersebut. Namun, penyebaran kembali video ini di tengah situasi politik yang sensitif berujung fatal.
"Jahangir sempat ditahan sebentar pada 2021 karena komentar yang membuat warga marah. Video yang viral hari Jumat itu sebenarnya video lama dari tahun tersebut," ungkap seorang sumber kepolisian, dilansir Times of India.
2. Pengeroyokan yang dilakukan oleh lebih dari 200 orang

Lebih dari 200 orang berkumpul di depan rumah Jahangir dengan membawa tongkat kayu dan benda tumpul. Meski aparat kepolisian sudah bersiaga di lokasi dan mencoba menghalau massa, petugas kewalahan menahan jumlah warga yang terus bertambah.
"Karena merasa akan ada kejadian buruk, polisi segera ke lokasi. Pemerintah setempat sudah berusaha maksimal, tapi massa yang marah jumlahnya lebih dari 200 orang dan langsung menyerang rumahnya," jelas Touhid bin Hasan, pejabat administratif Kushtia, dilansir The Straits Times.
Setelah aksi pengeroyokan mereda, polisi segera mengevakuasi Jahangir ke rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis. Sayangnya, nyawa korban tidak tertolong akibat luka dalam yang fatal. Dokter yang menanganinya menyatakan bahwa Jahangir telah meninggal dunia setibanya di rumah sakit.
3. Kepolisian berjanji akan mengusut tuntas pelaku di balik serangan brutal

Kasus ini tercatat sebagai insiden main hakim sendiri pertama yang menelan korban jiwa di bawah pemerintahan Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) sejak mengambil alih kekuasaan pada Februari 2026. Menurut data dari organisasi hak asasi manusia Odhikar, terdapat sedikitnya 153 orang tewas akibat kekerasan massa di Bangladesh antara Agustus 2024 hingga September 2025.
Pihak kepolisian menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas para pelaku di balik serangan brutal ini guna mencegah kejadian serupa terulang. Meningkatnya tren kekerasan komunal ini memicu kekhawatiran dari dunia internasional. Pemerintah Bangladesh didesak untuk segera membenahi sistem keamanan guna memastikan hak asasi dan keselamatan setiap warga negaranya tetap terlindungi.


















