Comscore Tracker

Komunikasi Publik COVID-19, Pemimpin Perempuan Lebih Baik

Penuh empati dan tegas

Jakarta, IDN Times – Negara yang dipimpin perempuan dinilai lebih baik dalam menangani pandemik COVID-19. Sebuah penelitian yang dilakukan di 194 negara menunjukkan, negara yang kepala pemerintahannya perempuan secara sistematis dan signifikan lebih baik kondisinya saat pandemik ini.

Studi yang dilakukan Supriya Garikipati dari University of Liverpool dan Uma Kambhampati dari University of Reading, menemukan bahwa, “dipimpin perempuan membuat negara unggul saat krisis ini”. Hasil penelitian diumumkan Juni 2020.

Tentu saja, studi itu menunjukkan bahwa negara yang dipimpin laki-laki, seperti AS, Spanyol, Italia, Brasil, dan Inggris terbukti buruk dalam penanganan pandemik dan mencatatkan angka kematian akibat COVID-19 yang tinggi.

Negara yang dipimpin perempuan, seperti Jerman, Denmark, Selandia Baru, Taiwan, Islandia, dan Finlandia mencatatkan kematian yang jauh lebih rendah.

Peneliti melakukan studi terhadap jumlah kasus dan angka kematian, apakah para pemimpin membuat keputusan cepat soal lockdown, dan bagaimana gaya komunikasi yang dilakukan. Terutama di awal masa pandemik. Kesimpulannya, pemimpin perempuan membawa negaranya dalam situasi lebih baik.

“Kami menemukan bahwa situasi COVID-19, secara sistematis dan signifikan lebih baik di negara yang dipimpin perempuan, dan ini bisa dijelaskan dengan tindakan proaktif yang mereka ambil,” demikian kedua peneliti, dalam tulisan yang dimuat di laman blog Forum Ekonomi Dunia (WEF), Juli 2020.

Laporan itu diberi judul, “Memimpin Pertarungan Melawan Pandemik; Apakah Gender Berpengaruh?” Dari 194 negara yang diteliti, ada 19 yang dipimpin perempuan. Penulis juga membandingkan 19 negara yang dipimpin perempuan itu dengan negara tetangganya untuk melihat pola kecenderungan.

“Urusan mengontrol Produk Domestik Bruto per kapita, populasi, ukuran populasi urban, dan kalangan lanjut usia, negara yang dipimpin perempuan kinerjanya lebih baik dibandingkan dengan yang dipimpin laki-laki, “ kata laporan itu.

Memang sudah banyak buktinya bahwa perempuan memimpin lebih baik, lebih welas asih, apalagi selama pandemik.

Laman Business Insider mengutip mantan Presiden AS Barack Obama pada bulan Desember 2019, bahwa dia, “sangat percaya dalam dua tahun ini, jika setiap negara di dunia dipimpin oleh perempuan, kalian akan melihat perubahan lebih baik untuk semua bidang.”

Sejak penelitian ini dipublikasikan, pandemik belum reda, dan kasus terus naik termasuk di negara yang dipimpin perempuan.

Di Selandia Baru, misalnya, setelah lebih dari 100 hari tanpa penambahan kasus baru, ada kasus lagi. PM Jacinda Ardern kembali mengetatkan situasi di Auckland, di mana kasus baru itu ditemukan dan memutuskan menunda pemilihan umum selama satu bulan.

Komunikasi Publik COVID-19, Pemimpin Perempuan Lebih BaikIlustrasi Pemimpin Perempuan (IDN Times/M. Arief)

Baca Juga: Komunikasi Publik yang Ambyar di Masa Pandemik Virus Corona

Mengapa pemimpin perempuan lebih baik?

Menyampaikan kebenaran. Truth.

Kanselir Jerman Barat Angela Merkel sejak awal dalam pernyataan publiknya menyampaikan bahwa ini virus yang berbahaya, harus dihadapi serius dan 70 persen populasi negerinya bakal terpapar. “It’s serious,” kata dia. Pemimpin menganggap serius, rakyat juga akan menganggap serius. Testing masif dilakukan sejak awal. Jerman tidak mengalami fase penyangkalan (denial)¸ marah, tidak jujur, sebagaimana yang kita lihat di banyak negara.

Tsai-Ing-wen, Presiden Taiwan, sejak Januari 2020 sudah bertindak. Saat kabar wabah virus corona merebak di Wuhan, Tiongkok, pertengahan Desember 2019, dia menerbitkan 124 langkah untuk mencegah penyebaran virus tanpa harus memberlakukan lockdown yang saat itu terjadi di mana-mana. Sejak awal Taiwan berkontribusi mengirim 10 juta masker ke AS dan Eropa. Media CNN menilai Presiden Tsai salah satu pemimpin dunia yang terbaik dalam menangani virus.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern sejak awal memutuskan lockdown dan komunikasinya jelas soal bahayanya virus corona. Dia menerapkan isolasi mandiri bagi semua yang masuk ke negeri itu sejak awal, ketika baru ada 6 kasus terinfeksi. Warga asing dilarang masuk. Full. Kejelasan dalam komunikasi dan pengambilan keputusan yang cepat menyelamatkan negeri ini.

PM Ardern mendapatkan tingkat persetujuan publik 80 persen atas penanganan pandemik, meskipun bersikap tegas, mendahulukan kesehatan dibandingkan ekonomi. Termasuk rela resesi. Dalam survei yang dilakukan sebuah lembaga riset pemasaran, sembilan dari 10 responden warga Selandia Baru mematuhi apa yang diminta oleh pemerintah untuk menurunkan penyebaran virus.

‍Manfaatkan Teknologi Informasi

PM Islandia, Katrín Jakobsdóttir, sejak awal menyediakan testing gratis bagi warganya. Dan ini menjadi studi penting bagi penyebaran virus dan tingkat kematiannya. Banyak negara, termasuk Indonesia (di peringkat 24 dunia), melakukan testing PCR lebih sedikit dari yang seharusnya dilakukan terhadap orang dengan gejala. Bahkan sampai di April, negeri ini sudah mengetes lima kali lipat dari yang dilakukan Korea Selatan.

Sanna Marin menjadi kepala pemerintahan termuda di dunia saat dia terpilih, Desember 2019. PM Finlandia itu berusia 34 tahun, dan langsung harus memimpin penanganan pandemik COVID-19. Apa yang dia lakukan? Sebagai pemimpin usia millennial, dia memanfaatkan media sosial secara gencar sebagai agen komunikasi publik untuk memerangi virus corona dan menangani krisis.

Sanna menyadari bahwa tidak semua orang membaca konten media. Dia mengajak para pemberi pengaruh di semua tingkatan usia untuk menyebarluaskan informasi berbasis fakta dan sains untuk mengelola pandemik.

Komunikasi Publik COVID-19, Pemimpin Perempuan Lebih BaikIlustrasi Pemimpin Perempuan (IDN Times/M. Arief)

Tunjukkan Cinta, Empati

Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg menggunakan cara inovatif. Lewat televisi, dia berbicara langsung kepada anak-anak. Dia mengadakan jumpa pers singkat, 3 menitan, untuk pemutakhiran informasi. Dia bikin jumpa pers khusus untuk anak-anak. Dia menjawab pertanyaan anak-anak dari penjuru negaranya, menjelaskan dengan sabar mengapa gak perlu malu untuk merasa takut kepada virus. It’s oke. Ide orisinal ini sangat kreatif, bukan? Contoh komunikasi inovatif yang dilakukan pemimpin politik perempuan. Gak bakal terpikir oleh politisi laki-laki.

Secara umum, empati dan peduli adalah ciri komunikasi publik yang dijalankan oleh para perempuan pemimpin, termasuk pemimpin pemerintahan yang dicontohkan di atas.
Ketika mereka berpidato, jumpa pers, menjelaskan krisis kemanusiaan yang terjadi di negaranya, dia seperti mengulurkan tangannya, melampaui batas layar televisi, komputer atau gawai telepon, “memeluk” rakyatnya secara virtual. Rakyat merasa dekat dan hangat.

Bandingkan dengan sejumlah pemimpin negara lain yang menggunakan krisis pandemik ini untuk: penyangkalan (denial), menyalahkan pihak lain dan rakyat yang tidak disiplin, mengkriminalisasi mereka yang kritisi penanganan pandemik, menyalahkan jurnalis dan media.

Nampak bahwa komunikasi menjadi faktor yang sangat penting, dan dilakukan para pemimpin perempuan dengan lebih baik.

Pelajaran apa yang kita dapatkan?

Gunakan jalur dan alat komunikasi yang inklusif dan biasa digunakan

PM Ardern menggunakan Facebook Live Chats. Dia menjawab pertanyaan rakyatnya, sambil menyampaikan informasi penting untuk warga secara langsung. Partisipan bisa bertanya di kolom komentar, dan dia menjawab sejumlah pertanyaan saat itu juga. Ardern memilih metode ini karena 60 persen populasi Selandia Baru aktif di Facebook.

Pola serupa kita lihat dilakukan PM Sanna Marin dan PM Erna Solberg.

‍Gunakan pendekatan komunikasi yang lebih humanis

Gaya kepemimpinan Ardern dinilai menunjukkan empati, seraya berbicara jelas dan padat atas apa yang ingin dia sampaikan. Tidak berbelit-belit, apalagi menyampaikan hal yang berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Ardern melakukan siaran Facebook menggunakan busana yang kasual, busana saat di rumah, dengan bahasa yang mudah dipahami. Tapi tetap informatif dan fokus. Pendekatan ini dianggap humanis, dan menempatkan PM sejajar dengan rakyatnya yang merasa, pemimpinnya bersama mereka dalam pandemik ini. ‍

Bersikap transparan selama krisis

Saat mengumumkan penerapan lockdown yang tergolong paling ketat di dunia pada Maret 2020, PM Ardern memastikan semua rakyat paham konsekuensinya dan betapa pentingnya ini dilakukan untuk melempengkan kurva pandemik. Rakyat jadi paham mengapa keputusan itu harus diambil, dan menyambut positif pembatasan yang ada. Ketika pandemik mereda, pembatasan dilonggarkan. Dan langsung diketatkan lagi begitu ada kasus baru.

Angela Merkel, Sanna Marin, Katrín Jakobsdóttir, Tsa Ing-wen, Jacinda Ardern, Erna Solberg melakukannya. Jujur lebih baik. Jujur dan transparan membangun solidaritas bangsa.

Pandemik ini membawa situasi ketidakpastian. Jika pemimpin tidak bersikap transparan, jujur, menjelaskan dengan bahasa yang jelas dan padat, berbasis fakta dan sains, maka warga akan mencari informasi dari jurusan lain, yang sangat mungkin isinya palsu dan atau bohong.

Informasi yang jujur dan transparan, dan dilakukan secara reguler, interaktif, membantu dalam menipiskan unsur ketidakpastian yang membuka pintu bagi hoaks, misinfomasi.
Tidak kalah pentingnya, berdasarkan pengalaman PM Ardern dan pemimpin perempuan lainnya yang dianggap sukses, informasi disampaikan hanya oleh satu atau dua pintu. Dalam konteks di Selandia Baru, hanya PM Ardern dan Direktur Jenderal Kesehatan.

Guru besar UVM, Thomas Patterson mendefinsikan komunikasi publik sebagai, “praktik untuk memahami, mendesain, mengimplementasi dan evaluasi kampanye dalam kerangka pelayanan publik. Digunakan untuk menginformasikan dan membujuk, serta membangun hubungan dan mendorong dialog terbuka”.

Sementara definisi komunikasi politik adalah proses interaksi diantara politisi, media dan publik menyangkut kepentingan publik.

Dari para pemimpin perempuan di atas, belajar bagaimana praktik baik sebuah kepemimpinan diterapkan selama pandemik COVID-19, yang ditunjukkan lewat komunikasi yang patut dipujikan.

Baca Juga: Komunikasi Pemerintah RI Tangani COVID-19 Jadi Sorotan Jurnalis Asing

Topic:

  • Umi Kalsum
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya