"Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 (jiwa), kemudian korban yang mengalami luka ada 1.603 jiwa dan warga yang mengungsi ada 180.327 jiwa," katanya.
BMKG Prediksi Gempa Susulan NTT Masih Terjadi hingga 1 Bulan ke Depan

- BMKG memperkirakan gempa susulan di NTT masih berlangsung tiga hingga empat minggu. Per 24 Agustus 2026 tercatat 6.409 susulan, dengan gempa terbesar magnitudo 6,2.
- Gempa berdampak pada 100 korban meninggal, 1.603 luka-luka, dan 180.327 pengungsi. Sebanyak 73.818 rumah serta 1.915 fasilitas umum rusak, terutama di Manggarai dan Manggarai Timur.
- Sebanyak 1.225 ton logistik telah dikirimkan, namun bantuan belum merata karena pengungsian mandiri tersebar di tujuh kabupaten. BNPB membentuk satgas untuk menyalurkan bantuan hingga lokasi terpencil.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gempa susulan masih akan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tiga hingga empat minggu atas sekitar satu bulan ke depan. Jumlah gempa susulan yang terjadi sejak gempa utama pada Sabtu, 15 Agustus 2026 masih terus meningkat.
Berdasarkan data yang dibacakan per Senin (24/8/2026), sudah ada 6.409 gempa susulan. Gempa susulan terbesar memiliki kekuatan magnitudo 6,2.
"Berdasarkan data dari BMKG per hari ini, tepatnya tadi pagi dilakukan pelaporan, gempa (susulan) Flores sampai hari ini yang terjadi dilaporkan 6.409 kali. Gempa susulan terbesar ada 6,2 magnitude, terkecil magnitude 1,1, sedangkan (gempa kekuatan) lebih dari magnitudo 5,5 ada 33 kali dan itu pasti dirasakan oleh masyarakat. Tetapi, dari lebih dari 6.409 gempa susulan, ada 139 kali gempa yang dirasakan oleh masyarakat," ungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Suharyanto ketika menyampaikan keterangan pers virtual pada Senin, 24 Agustus 2026.
Lantaran jumlah gempa susulan masih terus meningkat, maka masyarakat merasa takut dan memilih mengungsi. Suharyanto mengatakan, rumah yang mereka huni mengalami kerusakan ringan.
"Namun, kondisinya sudah mulai menurun. Dalam 24 jam terakhir, hanya terjadi satu kali gempa yang dirasakan oleh masyarakat. Kondisi ini masih dirasakan terus hingga tiga atau empat minggu ke depan. Menurut BMKG, kondisinya akan lebih stabil," tutur dia.
1. Jumlah korban meninggal sudah tembus 100 jiwa

Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Mia Amalia) Suharyanto juga memperbarui data mengenai korban yang meninggal dan luka-luka. Hingga hari ini korban meninggal sudah tembus 100 jiwa. Sedangkan, korban yang mengalami luka mencapai 1.603 jiwa. Di sisi lain, jumlah warga yang mengungsi 180.327 jiwa.
Ia menjelaskan, korban meninggal merupakan mereka yang semula korban luka berat dan sempat dirawat namun tidak berhasil diselamatkan. Artinya, dalam sembilan hari sudah ada penambahan 52 warga yang meninggal terhitung sejak 15 Agustus 2026.
Adapun jumlah sementara rumah yang rusak mencapai 73.818 unit. Kerusakan rumah itu terbagi menjadi rumah yang rusak berat mencapai 23.276 unit, rumah rusak sedang 17.563 unit, dan rumah yang rusak ringan mencapai 32.979 unit.
"Data sementara untuk fasilitas umum yang mengalami kerusakan adalah sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, dan infrastruktur lainnya total ada 1.915 unit," tutur dia.
Ia menambahkan, data tersebut diperoleh personel BNPB secara berjenjang dimulai dari rukun tetangga, kampung, desa, camat, bupati dan dihimpun di tingkat nasional. Jenderal bintang tiga itu juga menyebut dampak gempa turut dirasakan di tujuh kabupaten.
"Yang paling merasakan dampaknya adalah Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur," ucapnya.
2. Jumlah bantuan yang sudah dikirimkan 1.225 ton

Data logistik yang sudah dikirimkan bagi para korban gempa NTT berdasarkan data BNPB, Senin, 24 Agustus 2026. (Tangkapan layar YouTube BNPB) Suharyanto menjelaskan mengenai jumlah bantuan logistik yang telah dikirimkan pada periode 15 Agustus hingga 23 Agustus 2026. Totalnya mencapai 1.225 ton. Bantuan itu terbagi menjadi dua bagian yakni 869 ton ke Labuan Bajo dan 356 ton ke Maumere.
"Logistik ini dikirimkan dari pos aju di Bandara Halim. Tapi, ada juga bantuan-bantuan dari pemerintah, pihak swasta, perorangan atau unsur-unsur lain yang langsung disalurkan ke daratan Flores. Tidak melalui posko nasional di Halim Perdanakusuma. Itu juga dibolehkan," katanya.
Ia juga mengingatkan agar bantuan tidak terlalu lama disimpan di gudang posko Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan itu, kata Suharyanto, harus segera dikirimkan ke warga.
3. BNPB jelaskan alasan keluhan masih ada bantuan yang belum diterima

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto ketika menyampaikan keterangan pers dari NTT. (Tangkapan layar YouTube BNPB) Di forum itu, Suharyanto menyampaikan banyaknya titik pengungsian mandiri yang dibuat oleh warga di tujuh kabupaten berbeda. Mereka memilih membangun pengungsian mandiri karena khawatir masih akan terjadi gempa susulan. Jumlah pengungsian mandiri yang tersebar dari pos pengungsian utama menyebabkan pembagian bantuan dan logistik kurang merata.
"Kami akui masih banyak keluhan dan pertanyaan soal adanya titik-titik pengungsian mandiri para pengungsi yang karena takut adanya gempa susulan, tersebar di seluruh tujuh kabupaten Flores, mereka mengaku belum mendapat bantuan," ujar Suharyanto.
Untuk mengatasi keluhan itu, jenderal bintang tiga itu mendorong agar masyarakat mengungsi ke titik pengungsian terpusat yang sudah disiapkan oleh pemerintah di setiap desa, kecamatan dan kabupaten. Meski begitu, Suharyanto memahami masyarakat tak bisa dipaksa harus mengungsi ke lokasi yang disediakan oleh pemerintah. Bila mereka memilih untuk bertahan, BNPB membentuk satgas-satgas kabupaten, kecamatan dan desa.
"Di posko-posko di tingkat kabupaten atau kota ini lah yang mendistribusikan kebutuhan logistik masyarakat terdampak, baik yang bersifat komunal maupun yang bersifat orang per orang, keluarga per keluarga atau per kelompok masyarakat kecil," katanya.
Sementara itu, pemda memperbaiki titik pengungsian mandiri, baik tenda, alas tidur, matras hingga menyalurkan kebutuhan logistik.
"Ada armada di tingkat kabupaten baik menggunakan roda empat, pick up kecil, sepeda motor, bahkan dengan berjalan kaki," tutur dia.
Salah satu contoh dari pendistribusian logistik ke lokasi terpencil bisa dilihat di Pulau Palue. Di awal terjadinya gempa, akses menuju ke sana tak bisa dilewati dengan menggunakan roda empat dan roda dua.
"Sehingga, kami menyalurkan bantuan dengan cara berjalan kaki," ujarnya.



















