Minyak Dunia Naik, Prabowo Yakin RI Hasilkan BBM dari Singkong-Tebu

- Presiden Prabowo menegaskan komitmennya mewujudkan swasembada energi dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu untuk produksi BBM nasional.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar tidak akan naik hingga Lebaran 2026 meski harga minyak dunia tembus 100 dolar AS per barel.
- Pemerintah berencana mempercepat penerapan program B50 dan E20 sebagai langkah efisiensi jangka panjang guna mengurangi ketergantungan pada minyak fosil impor.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto ikut buka suara terkait harga minyak dunia naik hingga 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel imbas perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Prabowo mengatakan, sedang memperjuangkan agar Indonesia bisa swasembada bahan bakar minyak (BBM).
"Masalh BBM, bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi," ujar Prabowo dalam pidatonya saat meresmikan 218 jembatan secara virtual, Senin (9/3/2026).
1. Prabowo yakin RI nanti tak akan tergantung pada impor BBM

Prabowo optimis Indonesia bisa swasembada energi. Menurutnya, BBM bisa dihasilkan dari kelapa sawit, singkong, jagung hingga tebu. Semua tanaman tersebut bisa tumbuh subur di Indonesia.
"Dan kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa, bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu," kata dia.
2. Bahlil sebut tidak ada kenaikan harga BBM subsidi hingga lebaran

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Lebaran 2026. Pemerintah akan mempertahankan harga BBM jenis Pertalite maupun solar subsidi meski harga minyak mentah dunia kini telah melampaui angka 100 dolar AS per barel.
"Saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan hari raya ini Insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (9/3/2026).
3. Buka wacana percepat implementasi B50 dan E20

Sebagai strategi jangka panjang sekaligus langkah efisiensi, Bahlil mengungkapkan rencana pemerintah untuk mempercepat mandatori B50 (pencampuran 50 persen biodiesel dan minyak solar) dan penerapan E20 (pencampuran bensin dan 20 etanol).
Langkah itu dinilai lebih ekonomis dibanding terus bergantung pada minyak fosil murni saat harga dunia sedang tinggi. Menurutnya, melakukan blending atau pencampuran bahan bakar nabati lebih murah secara biaya.
"Kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui 100 dolar AS per barel, maka itu lebih murah," kata dia.


















