Purbaya: Harga BBM Subsidi Bisa Naik jika Minyak Dunia Sentuh Level Ini

- Pemerintah membuka peluang menaikkan harga BBM subsidi jika harga minyak dunia menembus 92 dolar AS per barel dan mulai membebani APBN dengan defisit hingga 3,7 persen dari PDB.
- Harga minyak global naik signifikan, dengan WTI mencapai 84 dolar AS per barel dan Brent di 85,41 dolar AS per barel, mencatat lonjakan mingguan terbesar sejak tahun 2020.
- Untuk menjaga defisit tetap terkendali, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi seperti efisiensi belanja negara dan penundaan proyek nonprioritas tanpa mengganggu program Makan Bergizi Gratis.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi apabila harga minyak dunia melonjak tinggi dan mulai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam simulasi pemerintah, jika harga minyak mencapai 92 dolar AS per barel dan tidak ada langkah kebijakan yang diambil, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6 persen –3,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Kalau harga minyak naik ke 92 dolar AS per barel, apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa, defisit kita bisa naik ke 3,6 persen –3,7 persen dari PDB,” ujar Purbaya dalam acara buka bersama di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh 84 dolar AS per barel pada Jumat (6/3). Secara mingguan, harga minyak acuan Amerika Serikat itu melonjak sekitar 21 persen, menjadi kenaikan terbesar sejak 2020.
Sementara itu, harga minyak jenis Brent naik 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel.
Purbaya mengatakan, pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian harga BBM jika lonjakan harga minyak membuat beban subsidi energi semakin besar.
“Kalau anggarannya sudah tidak kuat, tidak ada jalan lain, kita harus berbagi beban dengan masyarakat. Artinya bisa saja ada kenaikan harga BBM jika nilainya terlalu tinggi dan anggaran tidak lagi mampu menanggung,” katanya.
Meski demikian, ia menilai lonjakan harga minyak saat ini belum berada pada level yang sangat ekstrem. Indonesia, menurutnya, pernah menghadapi kondisi lebih berat ketika harga minyak dunia sempat mencapai 150 dolar AS per barel.
“Bagi saya, tinggi itu sekitar 185 dolar AS per barel,” ujar Purbaya.



















