Di bangku itu, pernah kutitipkan mimpi-mimpi yang mekar di dada
Kita duduk berimpit, menertawakan dunia yang belum kita tahu
Saat beban terberat hanyalah lembar ujian yang memburu
Dan masa depan masih terasa jauh, ringan, dan utuh

Ada sisa coretan tipis, namaku dan namamu di sudut kayu
Saksi bisu cinta lokasi yang dulu bikin hati ini layu
Janji kecil yang tertulis tanpa rencana panjang
Lalu pudar bersama waktu yang tak menunggu

Sepuluh tahun berlalu, bangku itu mungkin telah diisi generasi baru
Namun tawa kita masih menggema di sana, hangat dan rindu
Terima kasih telah menjadi tempat tumbuh yang paling jujur
Sebelum kita semua sibuk mengejar hidup yang makin terukur