[PUISI] Bangku Kuliah Sepuluh Tahun Lalu

Di bangku itu, pernah kutitipkan mimpi-mimpi yang mekar di dada
Kita duduk berimpit, menertawakan dunia yang belum kita tahu
Saat beban terberat hanyalah lembar ujian yang memburu
Dan masa depan masih terasa jauh, ringan, dan utuh
Ada sisa coretan tipis, namaku dan namamu di sudut kayu
Saksi bisu cinta lokasi yang dulu bikin hati ini layu
Janji kecil yang tertulis tanpa rencana panjang
Lalu pudar bersama waktu yang tak menunggu
Sepuluh tahun berlalu, bangku itu mungkin telah diisi generasi baru
Namun tawa kita masih menggema di sana, hangat dan rindu
Terima kasih telah menjadi tempat tumbuh yang paling jujur
Sebelum kita semua sibuk mengejar hidup yang makin terukur
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.


















