Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Betis Kram Saat Lari? Cepat Lakukan 5 Langkah Ini
ilustrasi kram kaki (magnific.com/gpointstudio)
  • Kram betis saat lari terjadi akibat kontraksi otot mendadak yang dipicu kelelahan dan gangguan kontrol neuromuskular, bukan semata karena dehidrasi atau kekurangan elektrolit.
  • Langkah cepat meredakan kram meliputi menghentikan aktivitas, melakukan peregangan betis, pijatan ringan setelah nyeri berkurang, menjaga hidrasi, dan tidak langsung kembali ke intensitas tinggi.
  • Pencegahan efektif mencakup peningkatan latihan bertahap, penguatan otot betis, pemulihan cukup, hidrasi seimbang, serta mengenali batas kemampuan tubuh untuk menghindari kram berulang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh pelari adalah kram betis. Saat ini terjadi, betis tiba-tiba mengencang, otot terasa seperti ditarik kuat dari dalam, nyeri muncul mendadak, dan akhirnya langkah kaki harus terhenti.

Kram betis adalah salah satu keluhan paling umum yang dialami pelari, baik pemula maupun atlet berpengalaman. Kondisi ini bisa muncul saat easy run, long run, interval training, bahkan menjelang garis finis perlombaan. Yang bikin frustrasi, kram betis bisa terjadi walaupun seseorang sudah cukup minum dan melakukan pemanasan.

Apa yang terjadi saat kram?

Kram otot yang berhubungan dengan olahraga atau exercise-associated muscle cramps (EAMC) adalah kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba, tidak disengaja, dan menimbulkan nyeri. Yang paling sering terdampak adalah otot betis, paha belakang, paha depan, atau telapak kaki.

Selama bertahun-tahun, kram sering dianggap semata-mata akibat dehidrasi atau kekurangan elektrolit. Namun penelitian modern menunjukkan bahwa penyebabnya tidak sesederhana itu.

Sejumlah studi menyebutkan bahwa kelelahan otot dan perubahan kontrol neuromuskular (hubungan antara saraf dan otot) kemungkinan menjadi faktor utama pada banyak kasus kram saat olahraga. Artinya, kamu bisa mengalami kram meski kadar elektrolitnya masih normal.

Langkah 1: segera kurangi intensitas atau berhenti berlari

Respons pertama yang paling tepat adalah menghentikan aktivitas atau setidaknya memperlambat langkah secara signifikan. Memaksakan diri untuk terus berlari saat otot sedang berkontraksi secara tidak normal justru dapat:

  • Memperparah nyeri.

  • Meningkatkan risiko cedera otot.

  • Menyebabkan strain atau robekan otot.

Banyak pelari mencoba melawan kram betis dengan terus berlari. Padahal, mengurangi beban pada otot yang mengalami kejang merupakan langkah awal yang paling rasional.

Kalau kram betis terjadi saat kamu sedang mengikuti lomba, menepi ke area yang aman lebih baik daripada memaksakan langkah yang sudah tidak stabil.

Langkah 2: sesegera mungkin lakukan peregangan betis

ilustrasi seorang perempuan melakukan peregangan kaki (unsplash.com/Mary West)

Peregangan merupakan tindakan yang paling konsisten direkomendasikan dalam literatur medis untuk meredakan kram akut.

Untuk kram pada otot betis (gastrocnemius), lakukan langkah-langkah ini:

  1. Berdiri menghadap tembok atau objek kokoh.

  2. Letakkan kaki yang kram di belakang.

  3. Jaga lutut tetap lurus.

  4. Dorong tubuh perlahan ke depan hingga terasa regangan pada betis.

  5. Tahan selama 15–30 detik.

  6. Ulangi beberapa kali sampai kontraksi mereda.

Pilihan lain adalah menarik ujung kaki ke arah tulang kering (dorsifleksi) saat duduk atau berdiri.

Peregangan membantu mengembalikan keseimbangan sinyal antara saraf yang merangsang kontraksi dan saraf yang menghambat kontraksi sehingga kejang otot dapat mereda.

Langkah 3: pijat ringan jika nyeri mulai berkurang

Setelah kontraksi mulai mereda, pijatan ringan bisa memberikan kelegaan. Gunakan telapak tangan untuk memijat area betis secara perlahan.

Yang perlu dihindari:

  • Menekan terlalu keras.

  • Menggunakan alat pijat agresif saat nyeri masih sangat hebat.

  • Memaksa otot diregangkan berlebihan.

Tujuannya adalah membantu relaksasi jaringan yang baru saja mengalami kontraksi kuat.

Langkah 4: evaluasi kondisi cairan dan elektrolit

Walaupun teori dehidrasi bukan satu-satunya penjelasan kram, tetapi hidrasi tetap penting. Kehilangan cairan dan natrium yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap kram pada sebagian atlet, terutama saat olahraga berlangsung lama dalam cuaca panas.

Jika kamu banyak berkeringat, berlari dalam cuaca panas, menempuh jarak jauh, atau tidak minum dalam waktu lama, segeralah minum air putih dan konsumsi minuman yang mengandung elektrolit jika tersedia.

Namun, perlu dipahami bahwa minuman elektrolit bukan obat instan yang langsung menghentikan kram dalam hitungan detik.

Langkah 5: jangan langsung lari kencang

ilustrasi kram betis saat lari (magnific.com/wayhomestudio)

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah langsung melakukan sprint atau kembali ke pace sebelumnya begitu nyeri mereda. Otot yang baru mengalami kram masih rentan mengalami kontraksi ulang.

Jika ingin melanjutkan lari, sarannya:

  • Mulai dengan berjalan kaki beberapa menit.

  • Beralih ke joging sangat ringan.

  • Tingkatkan intensitas secara bertahap.

Jika kram muncul lagi, lebih aman akhiri sesi lari.

Kenapa kram sering terjadi menjelang akhir lari?

Banyak pelari mengeluhkan kram muncul pada kilometer-kilometer terakhir.

Bukan kebetulan, penelitian menunjukkan bahwa kram lebih sering terjadi ketika otot mulai mengalami kelelahan.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko meliputi:

  • Long run yang terlalu jauh dari biasanya.

  • Pace terlalu cepat.

  • Kurang latihan spesifik.

  • Cuaca panas dan lembap.

  • Riwayat kram sebelumnya.

  • Pemulihan yang kurang optimal.

Makin lelah otot, makin besar kemungkinan terjadi gangguan kontrol neuromuskular yang memicu kontraksi abnormal.

Cara mencegah kram betis saat lari

Pencegahan terbaik adalah memperbaiki faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti:

  • Tingkatkan volume latihan secara bertahap. Lonjakan jarak atau intensitas latihan merupakan pemicu klasik kram. Gunakan prinsip progresif dan hindari peningkatan beban latihan yang terlalu agresif.

  • Latih kekuatan otot betis. Otot yang lebih kuat cenderung lebih tahan terhadap kelelahan. Latihan yang dapat membantu meliputi: calf raise, single-leg calf raise, walking lunges, plyometric drill sesuai kemampuan.

  • Perhatikan hidrasi. Minumlah sesuai kebutuhan sebelum, selama, dan setelah lari. Untuk sesi yang berlangsung lama atau dalam cuaca panas, pertimbangkan minuman yang mengandung natrium dan elektrolit.

  • Jangan abaikan pemulihan. Kurang tidur dan pemulihan yang buruk dapat mempercepat kelelahan otot. Pastikan tubuh memiliki waktu cukup untuk beradaptasi terhadap latihan.

  • Kenali batas tubuh. Banyak pelari mengalami kram ketika mencoba mempertahankan pace yang belum sesuai dengan kapasitas kebugarannya saat itu. Menyesuaikan target dengan kondisi aktual tubuh sering kali lebih efektif daripada memaksakan diri.

Kapan harus menemui dokter?

Betis kram sesekali saat lari biasanya tidak berbahaya. Namun segera konsultasikan ke dokter jika:

  • Kram sangat sering terjadi.

  • Terjadi meski tidak berolahraga.

  • Disertai kelemahan otot.

  • Disertai pembengkakan.

  • Disertai mati rasa.

  • Tidak membaik setelah beberapa hari.

Kondisi tersebut dapat mengindikasikan gangguan saraf, kelainan metabolik, efek samping obat tertentu, atau penyakit lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Saat betis kram ketika berlari, langkah paling penting adalah menghentikan atau mengurangi intensitas aktivitas, kemudian segera meregangkan otot yang mengalami kejang. Setelah itu, lakukan pijatan ringan, perbaiki hidrasi bila diperlukan, dan jangan terburu-buru kembali ke pace tinggi.

Meski dehidrasi dan kehilangan elektrolit dapat berperan pada sebagian kasus, tetapi kelelahan otot dan gangguan kontrol neuromuskular kemungkinan merupakan penyebab banyak kasus kram saat olahraga. Jadi, strategi pencegahan yang paling efektif bukan cuma minum lebih banyak, tetapi juga membangun kebugaran secara bertahap, memperkuat otot betis, pemulihan diri dengan baik, dan menghindari lonjakan beban latihan yang berlebihan.

Referensi

American Academy of Orthopaedic Surgeons. “Muscle Cramps.” Diakses Juni 2026.

Michael N Sawka et al., “Exercise and Fluid Replacement,” Medicine & Science in Sports & Exercise 39, no. 2 (February 1, 2007): 377–90, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e31802ca597.

Daniel H. Craighead et al., “Ingestion of Transient Receptor Potential Channel Agonists Attenuates Exercise‐induced Muscle Cramps,” Muscle & Nerve 56, no. 3 (February 13, 2017): 379–85, https://doi.org/10.1002/mus.25611.

Kevin C. Miller et al., “Exercise-Associated Muscle Cramps,” Sports Health a Multidisciplinary Approach 2, no. 4 (July 1, 2010): 279–83, https://doi.org/10.1177/1941738109357299.

M P Schwellnus, “Cause of Exercise Associated Muscle Cramps (EAMC) — Altered Neuromuscular Control, Dehydration or Electrolyte Depletion?,” British Journal of Sports Medicine 43, no. 6 (November 3, 2008): 401–8, https://doi.org/10.1136/bjsm.2008.050401.

Michael A. Grandner and John W. Winkelman, “Nocturnal Leg Cramps: Prevalence and Associations With Demographics, Sleep Disturbance Symptoms, Medical Conditions, and Cardiometabolic Risk Factors,” PLoS ONE 12, no. 6 (June 6, 2017): e0178465, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0178465.

Editorial Team

Related Article