Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penyebab Pria Sering Kencing di Malam Hari, Tak Selalu Terkait Prostat
ilustrasi buang air kecil (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)
  • Sering kencing tidak selalu disebabkan oleh pembesaran prostat. Kandung kemih, diabetes, infeksi, obat, hingga gangguan tidur juga dapat berperan.

  • Perhatikan apakah urine keluar sedikit-sedikit atau volumenya memang bertambah banyak karena keduanya mengarah pada penyebab yang berbeda.

  • Catatan minum dan buang air kecil selama tiga hari dapat membantu dokter menemukan pola dan menentukan pemeriksaan yang diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sering kencing di malam hari (nokturia) pada pria bisa disebabkan berbagai hal. Bisa karena sleep apnea, pembesaran prostat jinak, atau pada lansia perubahan kemampuan mengonsentrasikan urine atau penyakit lain terkait penuaan.

Penting bagi pria untuk memahami kemungkinan penyebab sering buang air kecil pada malam hari agar pemeriksaan dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan sejak dini.

1. Terlalu banyak minum, kafein, atau alkohol

Minum banyak cairan dalam waktu singkat akan meningkatkan produksi urine. Kopi, teh berkafein, minuman energi, dan alkohol juga dapat meningkatkan pengeluaran urine sekaligus mengiritasi kandung kemih pada sebagian orang. Akibatnya, rasa ingin kencing bisa muncul walaupun kandung kemih belum terlalu penuh.

Coba perhatikan hubungan antara keluhan dan waktu minum. Jika frekuensi kencing meningkat setelah minum kopi pada sore hari atau banyak minum menjelang tidur, kurangi secara bertahap dan pindahkan konsumsinya lebih awal.

Namun, jangan mengurangi air secara ekstrem. Pedoman European Association of Urology (EAU) menganjurkan agar pembatasan cairan disesuaikan dengan catatan asupan dan produksi urine. Tubuh tetap perlu mendapat cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi.

2. Pembesaran prostat jinak

Benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak makin umum setelah usia 40 tahun. Prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra. Ketika membesar, prostat dapat menekan saluran keluarnya urine sehingga kandung kemih harus bekerja lebih keras.

Selain sering kencing dan terbangun pada malam hari, tanda yang mengarah ke BPH meliputi:

  • Sulit memulai buang air kecil.

  • Pancaran urine melemah atau terputus-putus.

  • Harus mengejan.

  • Urine menetes setelah selesai.

  • Kandung kemih terasa belum kosong.

Kandung kemih yang tidak kosong sepenuhnya akan lebih cepat terasa penuh kembali. Namun, berat ringannya gejala tidak selalu sejalan dengan ukuran prostat. Prostat yang cuma membesar sedikit bisa menimbulkan gangguan berat, sedangkan prostat besar kadang hanya menimbulkan sedikit keluhan.

3. Diabetes atau gula darah yang belum terkontrol

ilustrasi gula darah tinggi (magnific.com/xb100)

Ketika kadar glukosa darah sangat tinggi, ginjal berusaha membuang kelebihannya melalui urine. Air ikut tertarik keluar sehingga volume urine meningkat. Kondisi ini biasanya disertai rasa haus berlebihan, mulut kering, mudah lelah, pandangan kabur, atau berat badan turun tanpa direncanakan. Poliuria (tubuh memproduksi urine secara berlebihan), rasa haus berlebihan, dan penurunan berat badan termasuk gejala khas hiperglikemia (gula darah tinggi).

Diabetes juga dapat merusak saraf yang mengatur kandung kemih. Akibatnya, seseorang dapat mengalami urgensi, kebocoran urine, atau kandung kemih yang tidak kosong sempurna. Urine yang tertinggal membuat seseorang merasa harus kembali ke toilet tidak lama kemudian.

Jika urine keluar dalam jumlah banyak dan keluhan disertai sering haus, pemeriksaan gula darah perlu dipertimbangkan, bukan cuma pemeriksaan prostat.

4. Kandung kemih overaktif

Overactive bladder atau kandung kemih overaktif ditandai oleh dorongan kencing yang datang mendadak dan sulit ditahan. Kondisi ini biasanya disertai sering buang air kecil, nokturia, dan kadang mengompol sebelum sampai ke toilet. Diagnosisnya baru dipertimbangkan setelah infeksi atau penyebab lain yang jelas disingkirkan.

Berbeda dari poliuria, orang dengan kandung kemih overaktif bisa berkali-kali kencing dalam jumlah kecil. Pemicunya dapat berkaitan dengan gangguan komunikasi antara saraf, otak, dan otot kandung kemih. Pada pria, gejala kandung kemih overaktif juga dapat muncul bersamaan dengan BPH.

Dokter dapat menyarankan pengaturan cairan, latihan kandung kemih, pengurangan kafein, latihan otot dasar panggul, atau obat sesuai hasil pemeriksaan.

5. Infeksi saluran kemih atau prostatitis

Infeksi kandung kemih dapat menimbulkan rasa ingin kencing terus-menerus meski urine yang keluar hanya sedikit. Gejala lain dapat berupa rasa terbakar saat buang air kecil, nyeri perut bawah, serta urine keruh, berbau menyengat, atau bercampur darah.

Pada pria, bakteri juga dapat menginfeksi prostat. Prostatitis bakteri akut dapat menyebabkan frekuensi dan urgensi berkemih, demam, menggigil, nyeri saat kencing, serta nyeri di selangkangan, alat kelamin, perut bawah, atau punggung. Prostatitis kronis dapat menimbulkan gejala lebih ringan yang datang dan pergi, termasuk nyeri saat atau setelah ejakulasi.

Jangan membeli antibiotik sendiri. Pemeriksaan urine dan, pada kondisi tertentu, pemeriksaan lain diperlukan untuk memastikan apakah penyebabnya adalah infeksi.

6. Obat dan penyakit di luar saluran kemih

ilustrasi seseorang sedang memilah obat yang akan dikonsumsi (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Obat diuretik untuk tekanan darah tinggi, gagal jantung, atau pembengkakan memang dirancang untuk meningkatkan pengeluaran urine. Waktu konsumsinya dapat memengaruhi seberapa sering seseorang harus ke toilet, terutama pada malam hari.

Lithium serta beberapa obat lain juga dapat memengaruhi produksi atau penyimpanan urine.

Jangan menghentikan penggunaan obat atau mengganti waktu penggunaannya tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Sering kencing malam juga dapat berkaitan dengan:

  • Obstructive sleep apnea.

  • Gagal jantung.

  • Penyakit ginjal.

  • Pembengkakan pada tungkai.

  • Gangguan hormon yang mengatur keseimbangan air.

Saat seseorang berbaring, cairan yang sebelumnya menumpuk di tungkai dapat kembali ke aliran darah dan kemudian dibuang oleh ginjal. Sementara itu, sleep apnea dapat memengaruhi hormon yang mengatur produksi urine malam hari. Karena itu, pria yang mendengkur keras, terbangun tersedak, dan mengantuk berat pada siang hari perlu menyampaikan gejala tersebut kepada dokter.

7. Batu, penyempitan saluran, atau penyakit kandung kemih

Batu di saluran kemih dapat mengiritasi kandung kemih atau menghambat aliran urine. Keluhannya dapat berupa sering kencing, nyeri hebat dari pinggang ke selangkangan, nyeri saat berkemih, mual, atau darah dalam urine.

Jaringan parut yang menyempitkan uretra juga dapat membuat pancaran urine melemah dan kandung kemih tidak kosong sempurna. Penyempitan dapat terjadi setelah cedera, infeksi, pemasangan alat, atau prosedur pada saluran kemih.

Lebih jarang, sering buang air kecil dapat menyertai penyakit serius pada kandung kemih atau saluran kemih. Urine berwarna merah, merah muda, atau cokelat harus diperiksa meskipun tidak disertai nyeri. Darah dalam urine dapat disebabkan oleh infeksi, batu, BPH, penyakit ginjal, maupun kanker saluran kemih.

Catat pola buang air kecil sebelum berkonsultasi dengan dokter

Selama setidaknya tiga hari, catat:

  • Jam dan jenis minuman yang dikonsumsi.

  • Perkiraan jumlah cairan.

  • Waktu buang air kecil.

  • Perkiraan volume urine setiap kali.

  • Apakah muncul urgensi, nyeri, atau kebocoran.

  • Berapa kali terbangun pada malam hari.

Ini dapat membantu membedakan produksi urine berlebihan, kapasitas kandung kemih yang berkurang, serta pola nokturia.

Selanjutnya, dokter dapat melanjutkan penilaian dengan pemeriksaan urine, gula darah, pemeriksaan prostat, tes aliran urine, atau pengukuran sisa urine setelah berkemih.

Pemeriksaan tidak selalu memerlukan USG atau tindakan invasif; pilihannya bergantung pada pola gejala dan faktor risiko.

Segera cari pertolongan medis jika sering kencing disertai demam dan menggigil, tidak mampu buang air kecil, nyeri pinggang atau perut yang berat, muntah terus-menerus, darah dalam urine, atau kebingungan.

Referensi

Gang Liu et al., “Symptom Based Clustering of Men in the LURN Observational Cohort Study,” Journal of Urology 202, no. 6 (2019): 1230–1239, https://doi.org/10.1097/JU.0000000000000354.

European Association of Urology, “EAU Guidelines on the Management of Non-neurogenic Male Lower Urinary Tract Symptoms: Diagnostic Evaluation and Disease Management,” diakses Juli 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Enlarged Prostate (Benign Prostatic Hyperplasia),” diakses Juli 2026.

American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes, “2. Diagnosis and Classification of Diabetes: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, suppl. 1 (2026): S27–S49, https://doi.org/10.2337/dc26-S002.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Diabetes, Sexual, & Bladder Problems,” diakses Juli 2026.

American Urological Association and Society of Urodynamics, Female Pelvic Medicine & Urogenital Reconstruction, "The AUA/SUFU Guideline on the Diagnosis and Treatment of Idiopathic Overactive Bladder", 2024, diakses Juli 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of Bladder Infection in Adults,” diakses Juli 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Prostatitis: Inflammation of the Prostate,” diakses Juli 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Hematuria (Blood in the Urine),” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article