'1987: When the Day Comes': Sarat Makna, Sejarah dan Air Mata

JAKARTA, Indonesia — Film box office terbaru asal Negeri Ginseng siap menghibur penikmat film Tanah Air. Film ini berjudul 1987: When the Day Comes. Tayang di jaringan bioskop CGV Cinemas mulai 17 Januari 2018 lalu, film besutan sutradara Jang Joon Hwan ini menyuguhkan kisah nyata yang menjadi salah satu bagian kelam sejarah Korea Selatan.
Sekilas, peristiwa June Democracy Movement yang terjadi di Korea Selatan tahun 1987 mengingatkan kita pada demonstrasi mahasiswa yang mendahului terjadinya Reformasi tahun 1998. Kurang lebih, perjuangan mahasiswa Indonesia saat itu serupa dengan apa yang terjadi di Korea Selatan Juni 1987.
Sutradara mengemas apik kisah demi kisah di film ini. Berbagai lapisan cerita dan karakter turut dihadirkan demi menyuguhkan adegan yang mendekati peristiwa sesungguhnya, meski dengan beberapa tambahan dramatisasi yang menyayat hati penontonnya.
Deretan akting yang dipertontonkan para pendukung film ini pun layak diacungi jempol. Ada Kim Yoon Seok yang berperan sebagai Komisioner Park Cheo Won. Ada juga Ha jung Woo sebagai Jaksa Choi Wan. Yoo Hae Jin sebagai Sipir Han Byung Yong. Aktris Kim Tae Ri tampil sebagai mahasiswi bernama Yeon Hee. Park Hee Soon sebagai Letnan Jo Han Kyung serta Lee Hee Joon sebagai reporter bernama Yoon Sang Sam.
Dengan latar belakang ceritanya masing-masing, para karakter utama ini berusaha membongkar kebusukan pemerintah Korea Selatan saat itu. Terutama dalam upaya mereka menjatuhkan sang tokoh antagonis utama: Park Cheo Won.
Rangkuman cerita
Film berdurasi 129 menit ini dimulai dengan kisah kematian seorang aktivis mahasiswa Seoul National University yang bernama Park Jong Chul (diperankan Yeo Jin Goo) pada 14 Januari 1987 yang berusaha ditutup-tutupi oleh pihak kepolisian. Usut punya usut, Jong Chul meninggal saat disiksa dalam proses interogasi oleh unit kepolisian yang dipimpin oleh Park Cheo Won.
Letnan yang bertugas dalam proses interogasi tersebut adalah Jo Han Kyung.
Karena korupsi merajalela dan kediktatoran yang terjadi di rezim pemerintahan presiden Chun Doo Wan saat itu, kematian Jong Chul pun jadi skandal besar. Pihak pemerintah bersikeras menutup-nutupi alasan kematian sang mahasiswa tersebut. Bahkan pemerintah menolak proses autopsi dan tidak membeberkan alasan kematian Jong Chul bahkan pada keluarganya.
Jaksa Choi Wan yang kemudian berdiri melawan pemerintah meski akhirnya ia harus kehilangan pekerjaan karena sikap vokalnya menuntut autopsi jenazah Jong Chul. Choi Wan akhirnya memberikan semua informasi terkait kematian Jong Chul pada seorang reporter bernama Yoon Sang Sam yang kemudian mengekspos berita tersebut sehingga membuat pemerintah terpojok.

Skandal ini pula yang menjadi sejarah kelam Korea Selatan. Kematian Jong Chul kemudian menggerakkan mahasiswa melakukan pemberontakan sekaligus menandai dimulainya proses demokrasi yang sesungguhnya di Korea pada Juni 1987.

Selain Jong Chul, saat demonstrasi marak terjadi, seorang mahasiswa Yonsei University bernama Lee Han Yeol (diperankan oleh Gang Dong Won) pun tewas terkena tembakan gas air mata oleh kepolisian. Kematian Han Yeol pun jadi simbol pergerakan mahasiswa yang lebih menyeluruh. Han Yeol meninggal dunia pada 5 Juli 1987 dan sebanyak 1,6 juta orang berkumpul dalam upacara pemakamannya.
Highlight
Sutradara Jang Joong Hwan dengan cerdas merangkum cerita di film ini dengan menyatukan beberapa sudut pandang yang berbeda. Pemerintah, kepolisian, kejaksaan, pers, penjara, institusi agama, serikat pekerja hingga mahasiswa. Semua berperan dan memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sangat menarik untuk menyaksikan perpindahan adegan dari satu atmosfer ke atmosfer lainnya.
Adegan saat keluarga Park Jong Chul mengetahui bahwa anggota keluarga mereka tewas di tangan kepolisian adalah yang paling mengharukan. Sang ibu meraung-raung tak terima anaknya meninggal dunia, sementara ayahnya hanya terdiam memeluk foto Jong Chul. Yang paling menyayat hati juga saat ayahnya menaburkan abu jenazah Jong Chul di sebuah sungai. Air mata pun jatuh menyaksikan pilunya kisah keluarga yang ditinggal mati Jong Chul tanpa alasan jelas.

Dialog yang kuat dan sangat berkarakter yang disajikan Park Hee Soon sebagai Letnan Jo Han Kyung saat dirinya dipenjara pun sangat menggugah. Meski sebagai karakter antagonis, Hee Soon mampu menampilkan emosi maksimal sebagai Jo Han Kyung saat berhadapan dengan ancaman dari atasannya, Park Cheo Won.
Kisah cinta (yang pastinya didramatisasi) antara dua mahasiswa: Yeon Hee dan Han Yeol pun pas jadi pemanis kisah pilu ini. Apalagi dengan embel-embel kisah sepasang sepatu yang menyatukan keduanya. Sayang, kisah cinta ini berakhir tragis.
Adegan yang juga paling mengesankan sepanjang film ini adalah ketika proses kematian Jong Chul akhirnya terungkap. Bagaimana ia menjalani proses interogasi hingga meninggal dunia karena dibenamkan paksa di dalam air. Bikin merinding.
Bicara soal akting, saya mengacungkan dua jempol pada aktor senior Kim Yoon Seok yang berperan sebagai Komisioner Park Cheo Won. Karakternya yang antagonis dan tak punya ampun sukses membuat saya (dan mungkin banyak penonton lainnya) ingin berontak. Setiap dialog yang diucapkannya dan sorotan mata serta mimik wajahnya nyaris mendekati sempurna sebagai seseorang dengan pengaruh dan kekuasaannya mengintimidasi banyak orang.

Kelemahan
Menurut saya, film ini nyaris tak memiliki kelemahan berarti. Tapi dibutuhkan konsentrasi, fokus dan perhatian penuh saat menyaksikannya. Karena karakter dan cerita yang disuguhkan cukup banyak dan beragam. Silap sedikit, penonton tidak akan paham apa yang terjadi. Ditambah lagi, durasi film cukup panjang.
Mungkin karena banyaknya karakter dan lapisan cerita membuat alur film bisa berlompat-lompat dengan cepat. Misalnya, di awal film kisah perjuangan Jaksa Choi Wan jadi highlight utama. Tapi kemudian dia "menghilang" digantikan tokoh lain sebelum akhirnya kembali muncul di akhir cerita.
Rating
9/10
Rekomendasi kami
Film 1987: When the Day Comes sangat layak untuk disaksikan. Selain bisa belajar tentang sejarah demokrasi Korea Selatan, penonton juga disuguhi beragam adegan yang menyeluruh. Mulai dari kisah pergerakan mahasiswa, kisah cinta anak muda hingga skema korupsi yang merajalela.
Tapi siap-siap tisu atau sapu tangan karena banyak adegan yang dijamin menguras air mata.
—Rappler.com
![[QUIZ] Menurutmu Andrie Yunus Diteror karena Motif Pribadi atau Bukan?](https://image.idntimes.com/post/20260325/upload_2b9b957f1322ac600bb4db96b8a0efba_b6dc01e5-de83-4416-89bc-27e4f57b06d0.jpg)

















