5 Calon Manajer Kopdes Meninggal, Wamenhan Ungkap Penyebabnya

- Kementerian Pertahanan dan Kementerian Kesehatan membentuk tim investigasi untuk menyelidiki penyebab meninggalnya lima calon manajer Kopdes saat latihan dasar militer program SPPI.
- Hasil awal menunjukkan lima faktor penyebab kematian, yaitu kelelahan, perubahan pola hidup, cuaca ekstrem, penyakit bawaan, serta gangguan jantung dan paru-paru pada peserta.
- Sebagai tindak lanjut, Kemhan mengubah program menjadi bela negara tanpa latihan taktis militer dan memberikan santunan Rp50 juta kepada keluarga korban ditambah bantuan dari BPJS.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto mengatakan pihaknya sudah membentuk tim investigasi yang terdiri dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Kesehatan, untuk mencari tahu penyebab meninggalnya lima peserta latihan dasar militer program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Kelimanya meninggal saat mengikuti latihan dasar militer di masing-masing satuan pendidikan. Kelima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal yaitu Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dan Nola Dya Sari.
"Kami sudah membentuk tim investigasi yang merupakan gabungan antara Kementerian Pertahanan dan Kementerian Kesehatan. Kami nanti akan menindaklanjuti untuk melihat atau mencari-cari data tambahan kenapa kok bisa hal ini terjadi," ungkap Donny usai rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan proses investigasi juga bakal menelusuri bagaimana proses peserta melakukan pemeriksaan seluruh tubuh atau medical check-up. "Itu nanti yang kami evaluasi oleh tim yang terdiri dari Kemhan dan Kementerian Kesehatan," kata purnawirawan pejabat tinggi TNI Angkatan Udara (AU) itu.
1. Perubahan pola hidup hingga kelelahan disebut jadi penyebab calon manajer Kopdes meninggal

Lebih lanjut, Donny mengatakan penyebab meninggalnya lima calon manajer kopdes berbeda-beda. Namun, berdasarkan kesimpulan sementara, ada lima faktor penyebab kelimanya meninggal.
Pertama, diakui Donny, karena merasa kelelahan. Kedua, adanya perubahan pola hidup.
"Tadinya mungkin masuk ke kehidupan sipil lalu bergeser masuk ke kehidupan di barak. Sementara, semua aktivitas dilakukan dengan penuh disiplin. Nah, mungkin itu mengagetkan juga," kata purnawirawan pejabat tinggi TNI Angkatan Udara (AU) itu.
Ketiga, kata Donny, karena faktor cuaca. Kemudian, faktor keempat karena para peserta memiliki penyakit bawaan. Meskipun, kata Donny, penyakit bawaan itu sudah terdeteksi dalam proses seleksi, namun, aktivitas fisik yang dijalani diklaim masih dalam batas aman.
"Mungkin ada kasus-kasus tertentu yang disebabkan cuaca sehingga menyebabkan dari kondisi yang sudah terbatas tersebut akhirnya meninggal dunia," tutur dia.
Faktor kelima, ungkap Donny, kelima peserta memiliki penyakit jantung dan paru-paru. Dari kelima peserta yang meninggal, dua diakibatkan penyakit di paru-paru. Sedangkan, tiga peserta lainnya meninggal karena penyakit jantung.
"Yang mengalami kesehatan paru-paru, semuanya ikut pendidikan di satuan pendidikan Halim. Sedangkan, sisanya berlatih di satdik Baturaja, Balikpapan dan Singkawang," imbuhnya.
2. Program Komcad untuk calon manajer Kopdes diubah jadi bela negara

Usai meninggalnya lima peserta, Kemhan akhirnya melakukan evaluasi terhadap program latihan dasar itu. Kini formatnya hanya tersisa bela negara, latihan taktis militer dihapus.
"Jadi, tidak ada lagi pelajaran-pelajaran terkait dengan senjata ataupun taktik-taktik militer," kata Donny.
Materi yang diajarkan dalam program bela negara, katanya, terkait dengan nasionalisme, patriotisme dan disiplin. Itu sebabnya jadwal harian juga dilakukan penuh disiplin agar membentuk karakter.
"Kami memberikan pelajaran kepada mereka terkait dengan kepemimpinan lapangan. Sebab, mereka kan nantinya akan memimpin koperasi tersebut. Sebagai manajer, mereka akan memiliki beberapa staf yang harus dipimpin," tutur dia.
Materi itu, kata Donny, perlu dilengkapi dengan kemampuan kepemimpinan untuk bisa membina kerja sama dan kebersamaan.
3. Kemhan sudah berikan santunan kepada keluarga korban masing-masing Rp50 juta

Ketika ditanyakan pertanggung jawaban yang telah dilakukan Kemhan, Donny menyebut, institusi yang ia pimpin telah membantu proses pemulangan jenazah dan pemakaman. Selain itu, keluarga korban juga diberikan santunan senilai Rp50 juta.
Ia menyebut santunan itu bertambah, sebab BPJS Ketenagakerjaan juga akan memberikan Rp42 juta. Nominal santunan dari BPJS akan bertambah besar bila ditetapkan penyebab kematiannya karena kecelakaan.
"Nah, ini nanti kami lihat kriterianya apakah mereka masuk kecelakaan atau karena sakit," tutur dia.
Ia juga mengucapkan duka cita bagi lima keluarga korban atas meninggalnya para calon manajer kopdes itu. "Kami mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga korban atas musibah ini," imbuhnya.


















