- Polri: membangun 1.415 SPPG hingga Juni 2026.
- Kadin Indonesia: membangun 742 SPPG hingga Maret 2026.
- TNI: mengelola 452 SPPG berdasarkan data terakhir pada September 2025.
- Muhammadiyah: mengoordinasikan 302 SPPG hingga Mei 2026.
- Jaringan lembaga dan yayasan NU: mengoperasikan 254 SPPG dengan pendampingan PBNU hingga April 2026.
- Yayasan mitra lainnya: tercatat sebagai pengelola dalam daftar 315 SPPG yang siap beroperasi pada Maret 2025
Ada 27.820 Dapur MBG Beroperasi, Siapa Saja yang Mengelola?

- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan lewat 27.820 dapur SPPG di seluruh Indonesia, dikelola oleh Polri, TNI, Kadin, Muhammadiyah, jaringan NU, dan berbagai yayasan.
- Sebaran dapur MBG mencakup 38 provinsi dengan jumlah terbanyak di Jawa Barat, disusul Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut data Badan Gizi Nasional per Juni 2026.
- Meski ribuan dapur telah beroperasi, sejumlah SPPG masih tertunda akibat kendala teknis dan administratif; sebagian bahkan sempat disuspend sebelum kembali aktif.
Jakarta, IDN Times - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali didistribusikan kepada penerima manfaat mulai Senin (13/7/2026), bertepatan dengan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar setelah libur sekolah.
Pelaksanaan program tersebut ditopang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tersebar di berbagai daerah. Pengelolaannya melibatkan berbagai pihak, mulai dari institusi negara, organisasi kemasyarakatan, hingga yayasan. Lantas, lembaga dan yayasan apa saja yang terlibat dalam pengelolaan dapur MBG?
Berikut daftar lembaga dan yayasan yang terlibat dalam pengelolaan SPPG, sebaran dapur MBG di setiap provinsi, serta data SPPG yang telah dan belum beroperasi secara nasional.
Table of Content
1. Polri hingga Kadin terlibat dalam pengelolaan dapur MBG

Polri telah membangun 1.415 SPPG hingga Juni 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 828 SPPG yang telah beroperasi, 227 dalam tahap operasional, dan 360 masih dalam proses pembangunan, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Data tersebut disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, saat berpidato dalam Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Lapangan Satuan Latihan (Satlat) Korps Brimob Polri, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026).
Polri menargetkan pembangunan 1.500 SPPG hingga akhir tahun. Jika target tersebut tercapai, SPPG Polri diproyeksikan dapat melayani 3,5 juta penerima manfaat dan menyerap lebih dari 70 ribu tenaga kerja.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga terlibat dalam pembangunan dapur MBG. ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menyebut Kadin telah mencapai pembangunan SPPG ke-742 dari target 1.000 unit saat meresmikan SPPG di Mampang, Jakarta Selatan, pada 6 Maret 2026.
Di sisi lain, berdasarkan keterangan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto pada September 2025, TNI turut mengelola 452 SPPG yang tersebar di jajaran TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. TNI sendiri mendapat alokasi untuk membangun hingga 2.000 SPPG secara bertahap.
Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan turut terlibat dalam pengembangan jaringan SPPG. Hingga Mei 2026, Muhammadiyah tercatat mengoordinasikan 302 SPPG di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 202 SPPG telah beroperasi dan sekitar 100 lainnya masih dalam proses pembangunan. Jaringan SPPG Muhammadiyah tersebar di 30 provinsi, dengan menjangkau 174 kabupaten/kota serta 299 kecamatan.
Adapun PBNU melalui Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) berperan mendampingi lembaga dan yayasan di lingkungan NU dalam pengajuan SPPG. Hingga April 2026, sebanyak 254 SPPG dalam jaringan tersebut telah beroperasi, 77 dalam tahap persiapan, dan sekitar 700 lainnya masih dalam proses pendaftaran awal.
PBNU menegaskan, tidak memiliki dapur MBG secara langsung. Kepemilikan dan pengelolaan SPPG berada di tangan masing-masing lembaga atau yayasan, sedangkan PBNU berperan dalam pendampingan proses pengajuan dan regulasi.
Selain institusi dan organisasi besar, pengelolaan SPPG juga melibatkan berbagai yayasan. Berdasarkan data BGN mengenai 315 SPPG yang siap beroperasi mulai 17 Maret 2025, sejumlah yayasan tercatat sebagai pengelola dapur MBG di berbagai daerah.
Beberapa di antaranya adalah Yayasan Pemuda Santri Aceh Barat, Yayasan Kurnia Jaya Abadi, dan Yayasan Makmur Maju Bersama. Data tersebut merupakan gambaran pengelola SPPG pada masa awal pelaksanaan Program MBG.
Secara ringkas, berikut sejumlah lembaga dan jaringan yang terlibat dalam pengembangan SPPG:
2. Sebaran dapur MBG di 38 provinsi

SPPG tersebar di seluruh 38 provinsi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per 8 Juni 2026, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah SPPG terbanyak, disusul Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Berikut sebaran SPPG di 38 provinsi:
- Aceh: 737 SPPG
- Sumatra Utara: 1.592 SPPG
- Sumatra Barat: 446 SPPG
- Riau: 775 SPPG
- Kepulauan Riau: 263 SPPG
- Jambi: 234 SPPG
- Sumatra Selatan: 850 SPPG
- Kepulauan Bangka Belitung: 106 SPPG
- Bengkulu: 175 SPPG
- Lampung: 1.209 SPPG
- Banten: 1.403 SPPG
- DKI Jakarta: 667 SPPG
- Jawa Barat: 6.721 SPPG
- Jawa Tengah: 4.590 SPPG
- DI Yogyakarta: 461 SPPG
- Jawa Timur: 4.340 SPPG
- Bali: 277 SPPG
- Nusa Tenggara Barat: 871 SPPG
- Nusa Tenggara Timur: 339 SPPG
- Kalimantan Barat: 566 SPPG
- Kalimantan Tengah: 136 SPPG
- Kalimantan Selatan: 312 SPPG
- Kalimantan Timur: 326 SPPG
- Kalimantan Utara: 67 SPPG
- Sulawesi Utara: 203 SPPG
- Gorontalo: 117 SPPG
- Sulawesi Tengah: 239 SPPG
- Sulawesi Barat: 225 SPPG
- Sulawesi Selatan: 892 SPPG
- Sulawesi Tenggara: 328 SPPG
- Maluku: 124 SPPG
- Maluku Utara: 125 SPPG
- Papua: 92 SPPG
- Papua Barat: 65 SPPG
- Papua Selatan: 20 SPPG
- Papua Tengah: 36 SPPG
- Papua Pegunungan: 14 SPPG
- Papua Barat Daya: 48 SPPG
3. Sebanyak 27.820 SPPG telah beroperasi secara nasional

Meski pembangunan dapur MBG terus berjalan, tidak semua SPPG yang telah selesai dibangun langsung bisa beroperasi. Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, misalnya, dari 197 dapur MBG yang tercatat dalam proses pembangunan hingga awal 2026, baru 105 di antaranya yang benar-benar beroperasi.
Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhamad Ramdhan, menjelaskan kesenjangan ini terjadi karena sejumlah faktor teknis dan administratif yang belum terpenuhi, mulai dari kelengkapan tenaga inti, verifikasi survei, hingga pemenuhan standar operasional.
Persoalan serupa juga mencuat pada 8 Juni 2026. Dalam sebuah rekaman video yang beredar di media sosial, terlihat sejumlah investor SPPG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mendatangi langsung Kantor BGN di Jakarta Pusat untuk menuntut kejelasan soal kelanjutan operasional dapur yang telah mereka bangun.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BGN Nanik S. Deyang, mengakui bahwa para investor merasa telah memenuhi kewajiban mereka membangun dapur, tetapi belum mendapat kepastian soal langkah selanjutnya.
“Bukan dihentikan dapurnya, mereka investor dapur 3T yang selama ini merasa sudah membangun dapur tapi gak jelas kelanjutannya. Saya kan baru masuk September 2025,” kata Nanik kepada IDN Times, Selasa (9/6/2026).
Di tengah persoalan tersebut, jumlah SPPG yang beroperasi secara nasional sebenarnya terus bertambah seiring perluasan Program MBG. Berdasarkan data BGN per 18 Juni 2026, tercatat sudah 27.820 SPPG yang aktif beroperasi di seluruh Indonesia.
Namun, dalam data tersebut BGN tidak merinci jumlah SPPG yang belum pernah beroperasi secara nasional. Sejumlah kasus menunjukkan dapur yang belum aktif dapat berada dalam tahapan berbeda, mulai dari proses pembangunan, pemenuhan persyaratan teknis dan administratif, hingga menunggu kepastian operasional.
Selain SPPG yang belum memulai operasional, terdapat pula dapur yang sebelumnya telah beroperasi tetapi kemudian dihentikan sementara atau di-suspend.
Data BGN hingga 29 Mei 2026 menunjukkan, sebanyak 8.182 SPPG pernah mengalami suspend sejak Program MBG berjalan. Dari jumlah tersebut, 5.659 SPPG sudah kembali beroperasi, sementara 2.213 SPPG masih berstatus suspend karena belum memenuhi petunjuk teknis, baik yang menyangkut aspek manajemen maupun kondisi bangungan SPPG.



















