Banjir Rob Bukan Sekadar Bencana, Bisa Ubah Potret Sosial

- Banjir rob di Demak bukan sekadar bencana lingkungan, tapi sudah mengubah struktur sosial-ekonomi masyarakat pesisir melalui perubahan mata pencaharian dan keterbatasan akses layanan dasar.
- Penanganan banjir rob dinilai masih fokus pada infrastruktur, padahal dibutuhkan pendekatan sosial-ekonomi yang lebih terintegrasi untuk memperkuat kapasitas masyarakat pesisir.
- Fenomena banjir rob juga terjadi di Jakarta Utara, menegaskan perlunya kebijakan adaptasi jangka panjang yang sesuai dengan kondisi nyata kehidupan masyarakat pesisir.
Jakarta, IDN Times - Banjir rob biasanya diasosiasikan sekadar sebuah bencana. Namun, banjir rob justru sudah menjadi sebuah fenomena yang bisa mengubah tatanan sosial di masyarakat.
Dosen sekaligus peneliti Graduate School of Sustainable Development Universitas Indonesia, Irene Sondang Fitrinitia, menyatakan banjir rob yang termasuk slow onset disaster atau bencana dengan dampak perlahan, sudah mengubah tatanan sosial-ekonomi masyarakat.
Hal itu tercermin dalam kehidupan masyarakat di pesisir Demak, Jawa Tengah. Sebagai wilayah yang sering dilanda banjir rob, lewat penelitian longitudinal terhadap masyarakat pesisir berketahan iklim yang didukung Global Development Awards Competition 2024, berbasis focus group discussion (FGD) dengan Pemerintah Kabupaten Demak dan Provinsi Jawa Tangah, Irene menemukan adanya kecenderungan perubahan sosial-ekonomi di tatanan masyarakat.
1. Bisa membatasi akses layanan dasar dan permukiman

Dalam temuannya, Irene menyatakan jika masyarakat di Demak mulai menemukan kesulitan dalam akses layanan dasar. Selain itu, masyarakat di Demak juga memiliki keterbatasan terhadap akses permukiman, pekerjaan, hingga keberlanjutan ruang hidup karena wilayahnya terus tergenang.
"Masyarakat pesisir tidak hanya menghadapi banjir rob sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga mengalami perubahan sosial dan ekonomi yang sangat kompleks. Mulai dari meluasnya genangan permanen, perubahan mata pencaharian warga tambak menjadi nelayan tangkap, meningkatnya tekanan ekonomi rumah tangga, hingga keterbatasan akses dan mobilitas sehari-hari. Di sisi lain, masyarakat terus meninggikan rumah secara mandiri tanpa panduan teknis yang memadai, sementara pembangunan infrastruktur masih cenderung bersifat reaktif dan jangka pendek," ujar Irene, kepada IDN Times.
2. Penanganan harus terintegrasi

Penanganan banjir rob di Demak selama ini masih sekadar penguatan secara infrastruktur. Padahal, perlu ada intervensi di berbagai sektor, demi memecahkan masalah yang pelik untuk masyarakat pesisir. Hasil dari penelitian ini, dianggap penting dalam penguatan kebijakan penanganan slow onset disaster yang adil, partisipatif, dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir
"Pendekatan infrastruktur sudah banyak dilakukan, tetapi sudah semestinya kita melihat kembali pendekatan yang berbasis sosial dan ekonomi dalam bentuk penguatan kapasitas atau lainnya," ujar perwakilan OPD Kabupaten Demak dari Badan Perencanaan, Pembangunan, dan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Jarwo Darmanto.
3. Bahkan, kawasan Jakarta juga ada yang mengalaminya

Banjir rob tak cuma terjadi di kawasan seperti Demak. Bahkan, kawasan Jakarta Utara juga mengalami hal serupa. Kehidupan warga di Jakarta Utara juga begitu kompleks dan harus segera ditindaklanjuti.
"Kebijakan adaptasi slow onset disaster yang lebih terintegrasi, berjangka panjang, dan berangkat dari realitas kehidupan masyarakat pesisir, begitu penting untuk diimplementasikan," ujar Irene.

















