Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Layanan VIP, Rombongan Perdana Haji Khusus Tiba di Madinah

Layanan VIP, Rombongan Perdana Haji Khusus Tiba di Madinah
Jemaah haji sudah tiba di madinah (DOK. MCh 2026)
Intinya Sih
  • Rombongan perdana haji khusus Patuna Travel tiba di Madinah membawa 42 orang, menandai dimulainya operasional haji khusus tahun 2026 setelah antrean delapan tahun.
  • Jemaah haji khusus menikmati fasilitas premium dengan biaya hingga Rp500 jutaan, termasuk penginapan mewah dan skema ibadah fleksibel seperti Tanazul serta murur di Muzdalifah.
  • Kementerian Haji dan Umrah memastikan pengawasan ketat terhadap layanan PIHK agar seluruh hak jemaah, mulai dari akomodasi hingga bimbingan ibadah, tetap terpenuhi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Madinah, IDN Times – Operasional kedatangan jemaah haji khusus di Tanah Suci resmi dimulai. Rombongan perdana yang dikelola oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) PT Patuna Mekar Jaya (Patuna Travel) telah mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, pada Sabtu (2/5/2026) pukul 11.20 Waktu Arab Saudi.

Ayman Sofyan, selaku Koordinator Bandara untuk grup Patuna, membenarkan bahwa kedatangan hari ini merupakan kedatangan perdana dari grup Patuna. Rombongan perdana ini membawa total 42 orang, yang terdiri dari 39 jemaah serta tiga orang petugas pendamping, yakni pembimbing ibadah, petugas kesehatan, dan pemimpin rombongan. Meskipun haji khusus, waktu antrean selama delapan tahun telah mereka lalui untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima ini.

1. Para jemaah "excited" bisa tiba di Tanah Suci

Beberapa petugas dan jemaah haji berdiri bersama di depan bus di Medinah, mengenakan seragam dan pakaian khas haji di bawah sinar matahari.
Achmad Syaifuddin (kanan) dan Abdul Basir (tengah) menyambut kedatangan jemaah haji Khusus di Medinah (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 20Y)

Pembimbing Ibadah Haji Khusus, Achmad Syaifuddin, mengungkapkan bahwa rasa haru dan kerinduan sangat kental terasa di antara para jemaah setibanya di Madinah.

"Jemaah yang tadi hadir di Madinah memang sudah menanti suasana yang mereka rindukan selama ini. Mereka ingin bersilaturahmi, berjumpa dengan Nabi di Kota Nabi, mereka excited bisa hadir di Madinah ini," ungkap Achmad.

Sebagai pembimbing ibadah, Achmad berkomitmen untuk memberikan pendampingan yang intensif agar perjalanan spiritual para jemaah benar-benar bermakna. "Insyaallah kami sebagai pembimbing akan memberikan bimbingan, pendampingan, agar kehadiran jemaah di Kota Nabi ini benar-benar membuat mereka meresapi apa yang sebenarnya Nabi inginkan dalam kehidupan di dunia ini," tambahnya.

Petugas PPIH berbicara dengan jemaah haji khusus yang baru tiba, dengan latar belakang bus dan cuaca cerah di area keberangkatan.
Petugas PPIH menyambut kedatangan jemaah haji khusus (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Secara keseluruhan, Ayman Sofyan menyebutkan bahwa Patuna akan memberangkatkan total 1.100 jemaah haji khusus pada tahun ini. Jumlah tersebut akan diberangkatkan menggunakan 26 unit bus. Ia menjelaskan bahwa jemaah haji khusus ini rata-rata akan menghabiskan waktu total selama 30 hari dalam rangkaian ibadahnya.

Khusus di Madinah, paket kedatangan perdana (sekitar 40 orang) ini merupakan paket Arbain, sehingga mereka akan menetap selama 10 hari. Karena penerbangan dimajukan satu hari, masa tinggal di Madinah bertambah menjadi 10 malam. Sementara untuk paket non-Arbain, jemaah haji khusus hanya akan berada di Madinah selama 4 hari. Untuk agenda city tour di Madinah, rute yang diambil tetap sama dengan jemaah reguler, meliputi kunjungan ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, hingga kebun kurma.

2. Fasilitas premium dan skema ibadah khusus

Maktab haji khusus di Mina, Arab Saudi. (IDN Times/Sunariyah)
Maktab haji khusus di Mina, Arab Saudi dalam Perhajian 2023 (IDN Times/Sunariyah)

Sebagai layanan haji dengan biaya yang tidak sedikit, jemaah haji khusus mendapatkan fasilitas dan skema ibadah yang dirancang untuk memberikan kenyamanan ekstra. Ayman Sofyan membeberkan bahwa paket layanan termahal yang ditawarkan untuk jemaah mencapai angka sekitar Rp500 jutaan.

Dengan biaya tersebut, jemaah mendapatkan fasilitas penginapan kelas atas, bahkan memiliki skema pergerakan khusus saat fase puncak haji (Armuzna), atau yang biasa dikenal dengan sistem Tanazul. Ayman menjelaskan bahwa saat di Arafah, jemaah tetap mendapatkan tenda. Namun, perlakuan berbeda diterapkan pada fase menginap (mabit) di Mina.

"Sementara saat mabit, dia (jemaah haji khusus) enggak dapat tenda, dia justru stay-nya di Dar Al Tawhid Intercontinental Makkah. Di waktu asar mereka naik bus dari Masjidil Haram pergi ke tempat lempar jumrah, terus kembali lagi," papar Ayman menjelaskan skema pergerakan jemaah.

Skema ibadah yang lebih fleksibel juga diterapkan pada saat jemaah berada di Muzdalifah. Achmad Syaifuddin menerangkan bahwa rombongannya akan mengambil skema murur (melintas tanpa turun dari bus).

"Kami akan mengambil murur ya saat di Muzdalifah. Setelah tengah malam, kami pastikan lebih dari tengah malam, kami baru akan meninggalkan Muzdalifah. Insyaallah kami akan langsung menuju ke Makkah melakukan tawaf ifadah, sa'i, dan tahalul awal. Ini yang akan kami ambil sesuai itinerary," tegas Achmad.

3. Pengawasan melekat dari kemenhaj

Rombongan jemaah haji khusus mengenakan pakaian ungu tiba di Bandara Internasional Madinah Prince Mohammed bin Abdul Aziz dengan membawa koper.
Jemaah haji khusus mendarat perdana di Bandara Internasional Madinah Prince Mohammed bin Abdul Aziz (Dok. MCH 2026)

Meski jemaah haji khusus membayar biaya premium kepada pihak travel swasta, pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah tetap melakukan pengawasan melekat demi memastikan tidak ada hak jemaah yang diabaikan.

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, yang turut hadir menyambut kedatangan jemaah haji khusus di bandara, menegaskan bahwa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan mengawal ketat seluruh komitmen layanan PIHK.

"Nanti kami juga akan tetap melakukan pengawasan layanan PIHK kepada jemaah haji, mulai dari pengawasan layanan akomodasi, layanan katering, bimbingan ibadah, sampai hak-hak lainnya yang harus diterima oleh jemaah," tegas Abdul Basir.

Share
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Related Articles

See More