67 Ribu Jemaah sudah Tiba di Madinah, Kedatangan Haji Khusus Dimulai

- Lebih dari 67 ribu jemaah haji Indonesia gelombang pertama telah tiba di Madinah, termasuk 14.650 lansia, dengan total 174 kloter mendarat hingga Sabtu pagi waktu setempat.
- Kedatangan perdana jemaah haji khusus dimulai melalui PT Patuna dengan 42 orang, menandai awal fase baru layanan haji berfasilitas lebih premium dan masa tunggu lebih singkat.
- Pemerintah memperketat pengawasan dan keamanan menjelang puncak haji, mengimbau petugas tetap waspada serta membawa dokumen lengkap demi kelancaran pelayanan bagi seluruh jemaah.
Madinah, IDN Times - Arus kedatangan tamu Allah di Tanah Suci terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hingga Sabtu (2/5/2026) pagi, jumlah jemaah haji Indonesia gelombang pertama yang telah mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, menembus angka lebih dari 67 ribu orang.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, menyampaikan pembaruan data operasional tersebut yang ditarik pada pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS).
"Untuk update kedatangan jemaah kita sampai dengan hari ini, tanggal 2 Mei pukul 06.00 Waktu Arab Saudi, telah landing di Bandara Madinah sebanyak 174 kloter, dengan jumlah jemaah keseluruhan mencapai 67.683 jemaah," jelas Abdul Basir.
Dari total kedatangan masif tersebut, pemerintah terus memberikan perhatian ekstra mengingat jumlah jemaah lanjut usia (lansia) yang telah mendarat kini mencapai 14.650 orang.
1. Kedatangan Haji Khusus dimulai

Di tengah padatnya arus jemaah reguler, hari ini juga menandai dimulainya fase kedatangan perdana bagi jemaah haji khusus. Rombongan pertama yang mendarat berasal dari penyelenggara PT Patuna, yang tiba tepat pada pukul 10.00 WAS.
Kasubdit Pengawasan Haji Khusus, dr. Dani Pramudya, menjelaskan bahwa rombongan perdana ini terbang langsung dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Madinah menggunakan maskapai Etihad Airways. Berdasarkan manifes, kloter pertama haji khusus ini membawa total 42 orang, yang terdiri dari 39 jemaah serta 3 petugas pendamping yang meliputi dokter, pembimbing ibadah, dan pengurus travel.
Berbeda dengan jemaah reguler yang seringkali melalui jalur fast track, rombongan haji khusus ini masuk melalui gerbang kedatangan internasional. Kedatangan ini menjadi pembuka bagi rangkaian pendaratan jemaah haji khusus lainnya yang dikelola oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).
2. Sekilas perbedaan Haji Khusus dan Reguler

Dani Pramudya memaparkan beberapa aspek mendasar yang membedakan layanan haji khusus dengan haji reguler. Dari segi masa tunggu, jemaah haji khusus memiliki waktu antrean yang jauh lebih singkat, yakni berkisar antara 5 hingga 6 tahun. Biaya yang dikeluarkan pun lebih tinggi, dengan estimasi berada di angka Rp300 jutaan.
Durasi ibadah haji khusus juga lebih singkat, yakni rata-rata selama 22 hari di Tanah Suci. Selain durasi, keunggulan utama layanan ini terletak pada fasilitas akomodasi.
"Hotel dan maktabnya, terutama yang di Mina, itu lebih dekat dengan Jamarat. Jarak untuk melaksanakan lempar jumrah itu memang didesain lebih dekat bagi jemaah haji khusus," jelas Dani.
Meskipun dikelola secara mandiri oleh PIHK atau biro perjalanan swasta, pemerintah tetap memegang kendali pengawasan yang ketat. PIHK memiliki kewajiban untuk melaporkan setiap keberangkatan jemaah kepada Kementerian Agama sesuai dengan antrean yang telah didaftarkan. Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi jemaah reguler yang ingin berpindah ke haji khusus dengan biaya tambahan tertentu sesuai ketentuan.
3. Peringatan keamanan jelang Puncak Haji

Terkait prosedur penyambutan, Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menegaskan bahwa PPIH tetap memberikan pelayanan prima bagi seluruh jemaah Indonesia tanpa membeda-bedakan status reguler maupun khusus. Tim Seksi Pengawasan Haji Khusus pun telah disiagakan untuk melakukan pendataan dan pengawasan langsung terhadap layanan yang diberikan travel di lapangan.
Mengingat otoritas Arab Saudi mulai memperketat pengamanan di berbagai titik menjelang puncak haji, para petugas di lapangan diingatkan untuk tetap waspada. Seluruh petugas diminta untuk selalu membawa dokumen identitas lengkap, termasuk paspor, visa, dan kartu Nusuk saat bertugas maupun beraktivitas di luar jam tugas.
"Diimbau untuk tidak bepergian sendirian dan selalu memastikan kesehatan tetap terjaga di tengah jadwal yang semakin padat," tegas Basir.
Pemerintah turut mengapresiasi kinerja seluruh personel di bandara yang meski banyak di antaranya merupakan petugas baru, namun mampu berkoordinasi dengan baik dalam memberikan layanan responsif bagi lebih dari 67 ribu jemaah yang kini telah memadati Madinah.
















