Banjir Bangkok Makin Parah, Warga Tidur di Atas Meja

- Hujan deras sejak 24 September menyebabkan banjir Bangkok, mengevakuasi hampir 4.900 warga dan berdampak pada sekitar 52 ribu rumah tangga; genangan juga melanda 25 provinsi lain.
- Warga menghadapi rumah terendam, peringatan dini yang terlambat, serta gangguan layanan. Ratusan sekolah ditutup, stok kebutuhan pokok menipis, dan sebagian pengungsi membutuhkan pakaian.
- Penampungan sekolah menampung sekitar seribu pengungsi dengan bantuan selimut dan kelambu. Otoritas mempercepat pengeringan genangan, sementara hujan diperkirakan mereda pada 28 September 2026.
Jakarta, IDN Times – Hujan deras membuat ribuan warga Bangkok mengungsi setelah rumah, toko, dan jalan di ibu kota Thailand terendam sejak pertengahan pekan. Data Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) mencatat hampir 4.900 orang telah dievakuasi ke penampungan dan sekitar 52 ribu rumah tangga terdampak akibat curah hujan yang menembus 330 milimeter sejak Kamis (24/9/2026) hingga Minggu (27/9/2026).
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mengimbau warga melalui media sosial agar menghindari perjalanan yang tak diperlukan karena sejumlah ruas jalan masih tergenang. Chadchart juga meninjau kondisi penampungan di sebuah sekolah kawasan Kheha Romklao yang menjadi tempat tinggal sementara sekitar seribu pengungsi.
Gimnasium sekolah itu diubah menjadi lokasi pengungsian sementara dan dipenuhi warga yang berteduh di bawah tenda kelambu. Permukaan air di jaringan kanal kota masih tinggi, sedangkan otoritas berusaha mempercepat pengeringan genangan.
1. Warga Bangkok terjang genangan banjir

Banjir di Bangkok, Thailand (Chanakarn Laosarakham/AFP) Sejumlah warga Bangkok harus berjalan menembus air keruh setinggi lutut, sementara sebagian lainnya membawa barang menggunakan bak plastik dan perahu kecil. Pemberitahuan Departemen Pencegahan dan Penanggulangan Bencana (DDPM) menyebut banjir turut menerjang 25 provinsi lain dan membuat beberapa distrik di Nonthaburi serta Samut Prakan ditetapkan sebagai zona bencana.
Kosin Nilset, pekerja kantoran yang tinggal di sekitar kanal Premprachakorn, mengatakan air telah melewati dinding penahan hingga memasuki lantai dasar rumahnya.
“Rumah kami terendam air selama sekitar 30 jam,” kata Kosin sembari menambahkan bahwa air keran dan listrik di tempat tinggalnya masih berfungsi, dikutip The Guardian.
Warga lainnya menghadapi persoalan serupa akibat sistem peringatan dini yang terlambat. Pekerja kantoran Bandit Pankan mengatakan dirinya tak sempat melakukan persiapan karena pesan singkat peringatan bencana baru diterima setelah air memasuki rumah pada malam hari.
2. Banjir Bangkok ganggu fasilitas pendidikan

Banjir di Bangkok, Thailand (Sarot Meksophawannakul/Thai News Pix/AFP) Thidarat Silsuwan, warga berusia 56 tahun yang tinggal seorang diri di tepi kanal Premprachakorn, harus tidur di atas meja selama dua hari dan membiarkan perabot rumahnya rusak akibat terendam. Di sisi lain, meluasnya banjir turut mengganggu fasilitas pendidikan serta ketersediaan barang di pasaran.
Ratusan sekolah ditutup sementara, sementara stok kebutuhan pokok di sejumlah toko mulai menipis karena diborong warga. Kantor Perdana Menteri (PM) mengimbau masyarakat tak melakukan pembelian panik dan menyatakan permainan harga merupakan tindak pidana.
Kondisi di tempat pengungsian membuat warga bertahan menggunakan perlengkapan yang tersedia. Sunaporn Thongphajuti, karyawan toko kelontong berusia 46 tahun yang tiba di penampungan, menyampaikan bahwa pakaian menjadi salah satu bantuan yang sangat dibutuhkan.
“Saya datang hanya dengan satu kemeja. Akan sangat bagus jika saya bisa mendapatkan satu lagi,” kata Sunaporn, dikutip France 24.
3. Penampungan Bangkok salurkan bantuan warga

ilustrasi bantuan obat-obatan (pexels.com/RDNE Stock project) Koordinator penampungan Namphet Chanjuingtavorn mengatakan, pejabat distrik telah berupaya maksimal dengan membagikan selimut dan kelambu. Namphet yang berprofesi sebagai guru memilih tinggal di tempat kerjanya setelah aliran listrik dan pasokan air bersih di rumah susunnya terputus.
Hujan masih berpotensi mengguyur Bangkok dan provinsi di sekitarnya sepanjang Minggu sebelum mulai mereda pada Senin (28/9/2026). Petugas lapangan tetap menangani banjir agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
Anomali cuaca ekstrem yang melanda Thailand berkaitan dengan fenomena perubahan iklim global. Para ilmuwan memperingatkan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem akan meningkat seiring pemanasan bumi akibat lonjakan emisi bahan bakar fosil.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















