Bersihkan Abu Vulkanik Anak Krakatau, BNPB Modifikasi Cuaca dari Semarang

- BNPB dan BMKG menunda Operasi Modifikasi Cuaca pada 6 September 2026 karena bandara di Jakarta, Lampung, dan Jawa Barat tidak aman beroperasi akibat abu Anak Krakatau.
- OMC direncanakan dari Kertajati atau Semarang, termasuk memindahkan pesawat dari Kalimantan, untuk memicu hujan yang diharapkan meluruhkan abu vulkanik di Jawa dan Sumatra.
- Penutupan Halim diperpanjang hingga 23.59 WIB; Kemenhub menyiapkan enam bandara alternatif guna mendukung pengalihan penerbangan dan mencegah penumpukan penumpang.
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) batal melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Minggu, 6 September 2026. Hal itu lantaran tidak ada satu bandara yang dinyatakan aman untuk beroperasi.
Semula, pesawat untuk OMC sudah disiapkan untuk terbang dari Bandara Pondok Cabe, Tangerang, Banten. Namun, sejak Minggu, 6 September 2026, bandara itu dinyatakan ditutup sementara. Nasib serupa juga terjadi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Maka, Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto menyiapkan OMC untuk mengatasi dampak penyebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau, dengan melakukan penerbangan dari bandara di Semarang, Jawa Tengah.
"Kemarin (Minggu) close penerbangan semuanya, baik yang di Jakarta, Lampung, dan Jawa Barat. Sehingga kami dan BMKG tidak bisa terbang untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC)," ungkap Suharyanto di Graha Marinir, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).
"Kami akan melakukannya dari Bandara Pondok Cabe dan Halim, juga tidak bisa," sambung dia.
Maka, Suharyanto menyebut, OMC akan dicoba melalui Bandara Kertajati, Majalengka atau Semarang.
1. BNPB akan geser pesawat dari Kalimantan ke Semarang untuk OMC

Bandara Kertajati (bijb.co.id) Jenderal bintang tiga itu mengatakan, seandainya OMC tidak bisa dilakukan melalui Bandara Kertajati, maka BNPB akan menggeser pesawat dari Kalimantan ke Semarang.
"Nanti kalau memang (bandara) di wilayah DKI, Banten, Lampung, dan Sumatra Selatan tidak bisa terbuka, maka kami akan melaksanakan OMC-nya dari Semarang, Jawa Tengah," ujarnya.
Suharyanto berharap bila OMC berhasil, maka hujan bisa turun pada hari ini atau Selasa, 8 September 2026, sehingga bisa meluruhkan abu vulkanik yang kini mengganggu aktivitas warga di sebagian Pulau Jawa dan Sumatra.
"Karena salah satu upaya paling tepat untuk meluruhkan abu vulkanik adalah dengan mendatangkan hujan," tutur dia.
2. Penutupan Bandara Halim diperpanjang hingga pukul 23.59 WIB

Pengumuman perpanjangan waktu penutupan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur karena dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (www.instagram.com/@halimperdanakusumaairport) Sementara, otoritas Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur memperpanjang waktu penutupan sementara, akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Bila semula bandara ditutup hingga Senin (7/9/2026) pukul 17.29 WIB, kemudian diperpanjang menjadi hingga pukul 23.59 WIB.
"Kami lakukan ini demi mengutamakan keselamatan penerbangan," demikian tulis pihak Bandara Halim di akun media sosianya.
Otoritas di Bandara Halim kemudian mendorong penumpang yang terdampak agar menghubungi pihak maskapai masing-masing. Tujuannya supaya bisa mendapatkan pembaruan status penerbangan, informasi proses penjadwalan ulang maupun pengajuan refund.
3. Kemenhub siapkan enam bandara alternatif untuk atasi imbas erupsi Anak Krakatau

Situasi Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada 6 September 2026 (Dok.IDN Times/istimewa) Sementara, Kementerian Perhubungan menyiapkan enam bandara alternatif untuk menjaga konektivitas penerbangan di tengah penutupan sejumlah bandara, akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Enam bandara tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengalihan penerbangan dan mencegah penumpukan penumpang, dengan tetap mempertimbangkan kondisi operasional dan keputusan masing-masing maskapai.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengatakan pemerintah mendorong maskapai memanfaatkan bandara alternatif tersebut sesuai kebutuhan.
"Kami mendorong agar maskapai dapat menggunakan bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang. Ini yang kami harapkan supaya pengaturan penumpang bisa optimal," ujar Dudy di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).
Dudy menegaskan, penggunaan bandara alternatif tersebut tetap menyesuaikan kesiapan operasional masing-masing bandara, rute penerbangan, serta kebijakan maskapai. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, dan instansi terkait untuk memastikan pengalihan penerbangan dapat dilakukan secara aman dan terkoordinasi.





















