Bersihkan Sisa Banjir, PMI Kirim Sekop Hingga Alat Berat ke Sumatra

Bantuan alat berat akan dikirim pada 3 Januari 2026 ke Sumatra
Jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 1.141 jiwa
Pemerintah terus lakukan modifikasi cuaca untuk cegah banjir susulan
Jakarta, IDN Times - Palang Merah Indonesia (PMI) masih terus menunjukkan komitmennya untuk membantu dalam penanganan banjir di Pulau Sumatra. Organisasi kemanusiaan itu mengirimkan bantuan peralatan pembersihan dalam jumlah besar. Sebab, salah satu fokus PMI yaitu pada upaya pembersihan sisa lumpur, kayu dan material banjir yang masih menutup pemukiman warga.
"Bantuan alat pembersihan itu meliputi 20 ribu cangkul, 20 ribu sekop, dan 20 ribu cleaning kit. Selain itu, PMI juga mengirimkan alat berat berupa 41 unit excavator mini dan 6 unit excavator besar," ujar Ketua Umum PMI, Jusuf "JK" Kalla di dalam keterangan tertulis pada Selasa (30/12/2025).
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu menegaskan langkah ini diambil untuk mempercepat proses pemulihan pasca-bencana. Selain itu, dapat mendorong masyarakat agar melakukan pembersihan secara mandiri.
"Kami bersama BNPB membersihkan jalan, lumpur, dan kayu. Kami akan fokus membersihkan rumah-rumah dengan mengirimkan peralatan untuk melakukan pembersihan secara mandiri," tutur dia.
1. Bantuan alat berat akan dikirim pada 3 Januari 2026

Lebih lanjut, JK menyebut excavator mini dapat menjangkau area yang sempit ketika diturunkan untuk membersihkan sisa material banjir. Selain itu, excavator mini bisa lebih leluasa bergerak dan mobile.
Alat berat itu mampu beroperasi di kawasan padat pemukiman yang tertimbun lumpur pascabanjir bandang. Dengan begitu, rumah-rumah warga bisa lebih cepat bersih.
"Seluruh bantuan dari PMI ini direncanakan bakal dikirim ke lokasi bencana di Sumatra pada 3 Januari 2026 menggunakan kapal Kalla Lines. Bantuan akan dikirim dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju ke Aceh dan Sumatra," tutur dia.
JK berharap dengan adanya bantuan dari PMI maka proses pembersihan lingkunganm, rumah warga dan fasilitas umum dapat berjalan lebih cepat. Sehingga, masyarakat dapat segera beraktivitas.
2. Jumlah korban meninggal sudah mencapai 1.141 jiwa

Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui datanya mengenai kondisi pasca Sumatra dihantam banjir dan tanah longsor. Berdasarkan data per Selasa (30/12/2025), jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.141 jiwa. Terdapat tambahan penemuan satu jenazah lainnya.
"Jumlah korban meninggal di Aceh mencapai 514 jiwa, di Sumatra Utara 365 jiwa dan di Sumatra Barat mencapai 262 jiwa," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari di Graha BNPB, Jakarta Timur.
Namun, jumlah korban meninggal itu berpotensi terus bertambah lantaran masih ada 163 jiwa yang dilaporkan hilang. Sedangkan, 395.795 jiwa masih tinggal di tenda pengungsian. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah pengungsi terbesar yakni 374.286 jiwa.
Abdul juga menyampaikan ada 21 kabupaten yang memperpanjang masa tanggap daruratnya. Aceh menjadi wilayah yang paling banyak memperpanjang masa tanggap daruratnya yakni 11 kabupaten atau kota.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf pada pekan lalu telah memperpanjang status tanggap darurat hingga 8 Januari 2026. Selama status tanggap darurat berlaku, maka fokus pemda hanya pada pencarian dan evakuasi korban serta pemenuhan kebutuhan logistik.
3. Pemerintah terus lakukan modifikasi cuaca untuk cegah banjir susulan

Sementara, untuk mengantisipasi terjadinya banjir susulan, pemerintah terus melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Otoritas berwenang mengerahkan empat pesawat untuk melakukan OMC. Armada yang dikerahkan untuk Aceh lebih besar karena Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Senin kemarin memprediksi hujan ekstrem akan turun di Aceh pada Rabu (31/12/2025).
Sedangkan, dua pesawat dikerahkan untuk melakukan OMC di Sumatra Uratara. Sebanyak tiga pesawat dikerahkan untuk melakukan OMC di Sumatra Barat.



















