Anggota DPR Benny K Harman Sebut Jurnalis "Punya Otak Gak?", KWP Geram

- KWP mengecam pernyataan Benny K Harman yang dinilai merendahkan wartawan saat menjelaskan ketidakhadiran SBY.
- KWP menilai pertanyaan berulang dari wartawan merupakan bagian dari konfirmasi ulang dalam tugas jurnalistik.
- Benny menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan pernyataannya terkait pertanyaan tentang kehadiran SBY.
Jakarta, IDN Times - Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) mengecam pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Anggota Komisi III DPR, Benny K Harman, yang dinilai merendahkan profesi jurnalis, saat memberikan keterangan mengenai ketidakhadiran Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD.
Kejadian itu bermula saat Benny menyampaikan, SBY tidak menghadiri agenda kenegaraan tersebut, karena masih menjalani pemeriksaan kesehatan di Amerika Serikat hingga akhir Agustus. Pernyataan itu disampaikan Benny saat ditemui jurnalis di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Tak hanya Benny K Harman, sebelumnya anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Deddy Sitorus juga menyebut jurnalis "sirkus". Bahkan, kasus ini belum tuntas, dan masih proses di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.
1. Benny tanya ke jurnalis punya otak atau tidak

Anggota Komisi III, Benny K Harman, saat kunjungan kerja di Polda Sulsel, Jumat (12/9/2025)/Istimewa Dalam sesi tanya jawab, seorang jurnalis menanyakan kembali mengenai ketidakhadiran SBY pada 17 Agustus. Benny kemudian merespons dengan kalimat yang dinilai merendahkan jurnalis.
“Woi, kau otak kamu ada gak? Saya jelaskan gitu kok. Iya kan. Kalau dia sudah check up di sana sampai akhir bulan, kok masih nanya lagi, banyak wartawan yang aneh-aneh sekarang ini,” ujar Benny.
Wakil Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) Erwin Siregar menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan politikus senior Partai Demokrat tersebut.
“Kami menyayangkan dan mengecam pernyataan yang merendahkan dari Pak Benny K Harman,” kata Erwin.
Menurut Erwin, pertanyaan jurnalis merupakan bagian dari tugas jurnalistik, termasuk ketika mereka melakukan konfirmasi ulang terhadap informasi yang telah disampaikan sebelumnya.
“Seharusnya bisa dijawab baik-baik, karena media bertanya juga secara baik-baik. Apabila media bertanya secara berulang, itu memang perlu untuk konfirmasi ulang,” ujarnya.
2. Benny diminta memberikan permintaan maaf

Anggota DPR dari Demokrat, Benny K Harman (fraksidemokrat.org) Erwin menegaskan, jurnalis memiliki kepentingan untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar jelas, dan tidak menimbulkan tafsir berbeda. Karena itu, pertanyaan lanjutan tidak semestinya dianggap sebagai bentuk ketidakmampuan memahami penjelasan narasumber.
Karena itu, KWP mendesak Benny menyampaikan permintaan maaf secara pribadi kepada jurnalis yang bersangkutan maupun kepada publik, atas pernyataan penghinaan tersebut.
“Kami meminta Pak Benny K Harman meminta maaf secara pribadi kepada wartawan yang bersangkutan dan juga kepada publik,” tegas Erwin.
KWP juga mengingatkan seluruh pejabat publik dan politisi agar menghormati kerja jurnalistik, serta menjaga komunikasi yang sehat dengan insan pers. Menurut KWP, perbedaan pandangan atau pertanyaan berulang dari jurnalis seharusnya direspons secara proporsional, dan tidak dengan pernyataan yang merendahkan.
“Jika tidak ada permintaan maaf, kami akan melaporkan persoalan ini ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD),” kata Erwin.
KWP berharap kejadian tersebut menjadi momentum bagi semua pihak, untuk menjaga etika komunikasi dengan jurnalis, terutama di lingkungan parlemen, sehingga hubungan antara pers dan wakil rakyat tetap berjalan secara profesional dan saling menghormati.
3. Benny sampaikan permohonan maaf

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Benny K. Harman. (IDNTimes/Melani Putri) Saat ditemui terpisah, Benny menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan yang disampaikan tersebut.
"Ya, saya ngomong itu sebetulnya kan begini, tadi kan saya ditanya, apakah Bapak Presiden Indonesia yang ke-6 akan hadir acara pidato Presiden Tahunan? Saya menyampaikan bahwa Bapak Presiden ke-6 saat ini lagi menjalani check up di Amerika. Besar kemungkinan sampai akhir bulan," ucapnya.
"Oleh sebab itu, tentulah beliau tidak berkesempatan, tidak bisa menghadiri acara kenegaraan ini. Ya, itu sebetulnya itu intinya, sudah jelas. Lalu tadi teman-teman bertanya lagi, 'berarti Presiden ke-6 Bapak SBY apakah hadir atau tidak hadir?' Ya kalau beliau sampai di sana akhir bulan ya otomatislah beliau tidak bisa hadir," tegas dia.
Menurut Benny, jurnalis tidak seharusnya bertanya kembali karena jawabannya sudah cukup jelas.
"Itu sudah selesai, kan begitu, ah. Lalu selesai begitu, saya bilang, ah ini kalau tanya mesti pakai otak lah sedikit wartawan ini ya. Jangan sudah dijawab ya ditanya lagi, ditanya lagi itu. Tapi itu bukan konteksnya. Jadi saya mohon maaf kalau tadi terasa tersinggung berarti, tapi gak ada soal yang lebihlah gitu, jadi itu bukan isu utamanya ya," imbuh Benny.





















