Drama Lele Mentah MBG

- Sejumlah sekolah di Pamekasan menerima paket lele mentah dari SPPG untuk program Makan Bergizi Gratis, namun ditolak karena dikhawatirkan membahayakan kesehatan siswa.
- Hasil uji menunjukkan lele mentah yang disimpan di suhu ruang lebih dari empat jam berisiko tinggi mengandung bakteri dan senyawa berbahaya meski sudah dimarinasi.
- BGN menangguhkan operasional beberapa SPPG yang menyajikan lele mentah karena melanggar SOP, sementara Presiden Prabowo menegaskan program MBG akan tetap dilanjutkan.
Jakarta, IDN Times - Pada pertengahan Maret 2026, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengirim menu lele mentah ke beberapa sekolah, untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alasannya, karena siswa sedang berpuasa di bulan Ramadan dan dianggap bisa digoreng di rumah menjelang berbuka puasa. Peristiwa ini pun viral.
Salah satu yang mendapat menu lele mentah adalah SMAN 2 Pamekasan, Jawa Timur. Total, ada 1.022 porsi lele mentah yang dikirim ke SMAN 2 Pamekasan. Menu tersebut dibagikan kepada siswa pada Senin, 9 Maret 2026. Paket makanan berisi lele marinasi bumbu kuning, dua potong tahu, dan dua potong tempe.
Kepala SMAN 2 Pamekasan, Moh Arifin, mengatakan paket makanan itu dikirim SPPG As-Salman yang berada di Desa Buddagan. Paket tersebut merupakan jatah makan untuk tiga hari, 9 hingga 11 Maret 2026.
"Yang ditolak ini untuk jatah tiga hari, tanggal 9, 10, dan 11. Isinya dua potong tempe, dua potong tahu, dan satu lele mentah,” kata Arifin.
Sekolah menolak menu lele mentah karena khawatir bisa membahayakan kesehatan siswa.
1. Lele mentah disimpan di suhu ruang lebih dari 4 jam berbahaya

Science Content Creator, Andrea Novita, melakukan penelitian secara langsung terhadap lele yang sudah dimarinasi, seperti yang diberikan SPPG. Hasilnya, lele mentah yang disimpan di suhu ruang lebih dari 4 jam berbahaya karena sudah muncul banyak bakteri.
"Nah, kalau lele yang 4 jam di suhu ruang itu ternyata sudah banyak ya bakteri yang tumbuh, ini berisiko bikin kita sakit kalau kemakan. Tapi karena kita start ujinya di 4 jam, kita narik kesimpulannya emang kalau di 4 jam itu udah nggak aman, sudah tidak layak makan. Nah, kita belum uji nih di 2 jam gimana, 3 jam gimana, jadi emang kita start ujinya di 4 jam, gitu Kak," ujar Andrea saat dihubungi IDN Times, Minggu, 15 Maret 2026.
Andreas mengatakan, dari hasil pengujiannya, diduga muncul banyak bakteri salmonella dari lele yang disimpan di suhu ruang setelah 4 jam.
"Ketika kita lihat hasil ujinya itu kan memang banyak bakteri hitam yang tumbuh. Nah, adanya bakteri hitam di media ini tuh salah satu ciri-ciri Salmonella ya kalau kita mengacu ke teori yang ada. Tapi tetap balik lagi, kita gak bisa konfirmasi 100 persen menyatakan kalau itu fix bakteri Salmonella, perlu ada uji lanjutan," Kata dia.
Meski sudah dimasak, efek dari memakan lele atau daging lainnya yang disimpan di suhu ruang terlalu lama hingga tumbuh banyak bakteri, bisa menyebabkan gangguan kesehatan.
"Dan sebenarnya selain bakteri, kalau misalnya ada ikan mentah di suhu ruang gitu, itu juga udah ada senyawa-senyawa lain yang diproduksi, seperti contohnya histamin. Nah, kalau dikonsumsi ini bisa bikin kita mengalami gejala inflamasi gitu, misal contohnya ruam, mual muntah, diare, atau kayak sakit kepala gitu" kata Andrea.
2. Bagaimana dengan proses marinasi?

Terkait adanya anggapan proses marinasi bisa membuat tahan lebih lama daging lele mentah, Andrea menyebut, hal tersebut tidak berpengaruh signifikan apabila disimpan di suhu ruang.
"Kalau di suhu ruang, bakteri pembusuk tumbuh sangat cepat. Jadi, faktor marinasi (seperti garam, rempah) akan tidak cukup kuat untuk melawan laju pertumbuhan bakteri ini. Jadi, kalau di suhu ruang, mau lele biasa atau dimarinasi pun, dua-duanya akan tetap cepat busuk," ujar dia.
"Tapi, marinasi ini bisa lebih efektif kalau ikan masuk ke suhu dingin. Di suhu dingin, pertumbuhan bakteri pembusuk melambat drastis, faktor marinasi bisa efektif melawan bakteri-bakteri pembusuk." sambung Andrea.
Andrea kemudian menyarankan agar SPPG bisa menyanyikan daging matang kepada siswa penerima MBG. Menurutnya, hal tersebut bisa menghindari kebusukan daging mentah.
"Mendingan dikirimnya matang saja ikannya, jadi itu lebih aman, atau kalau mau kirim mentah, harus handling yang bagus, dalam keadaan frozen dan pakai cooler box" ucap dia.
3. BGN suspend SPPG yang sajikan lele mentah

Sementara, Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II Badan Gizi Nasional (BGN), Albertus Dony Dewantoro, mengatakan pihaknya sudah mencabut SPPG di Pamekasan, yang menyajikan lele mentah kepada siswa.
"Berdasarkan pertimbangan pimpinan BGN, permasalahan tersebut dinilai telah menghambat proses distribusi dalam Program Makan Bergizi Gratis. Oleh karena itu, operasional SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan untuk sementara waktu dihentikan," ujar Albertus dalam keterangannya.
Secara terpisah, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan tidak ada dalam petunjuk teknis (juknis) penyaluran MBG diberikan secara mentah.
"Tidak ada di dalam juknis pemberian lele mentah," ujar Nanik melalui pesan singkat, Minggu, 15 Maret 2026.
Melalui keterangan tertulisnya, Nanik menyampaikan, BGN sudah melakukan suspend atau penghentian sementara operasional SPPG yang memberikan lele mentah kepada siswa. Total, ada 9 SPPG di Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang di-suspend.
"Pemberian kelapa utuh sebelumnya sudah menjadi perhatian publik di beberapa daerah. Seharusnya hal itu menjadi pembelajaran bagi seluruh pengelola SPPG agar lebih berhati-hati dalam menentukan menu yang diberikan kepada penerima manfaat," ujar Nanik.
4. SPPG harus ikuti pedoman menu

Nanik menegaskan, SPPG harus mengikuti standar menu dan pedoman operasional yang sudah ditetapkan BGN untuk program MBG. Apabila hal itu tidak dilakukan, sanksi menanti.
"Seluruh SPPG tetap harus mengikuti pedoman menu dan standar pelayanan yang sudah ditetapkan. Karena itu, sembilan SPPG di Gresik yang memberikan kelapa utuh saat ini kami hentikan sementara operasionalnya untuk proses evaluasi," kata dia.
Tak hanya itu, Nanik juga memerintahkan kepala SPPG untuk diberikan sanksi. Sebab, sebagai penanggung jawab, dianggap tidak menjalankan aturan yang sudah ditetapkan.
"Saya juga perintahkan Kepala SPPG ditindak tegas dengan memberikan SP 1 atau rotasi karena sebagai pimpinan tidak mengikuti berita sehingga kejadian serupa terulang," ucap dia.
5. Kepala BGN anggap paket lele mentah pelanggaran SOP

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan MBG harus disajikan secara matang dan bisa langsung dimakan. Oleh karena itu, pemberian lele mentah merupakan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis.
"MBG menyajikan hidangan ready to eat. Paket MBG dengan menyajikan lele yang di marinasi saja adalah pelanggaran SOP dan Juknis. SPPG-nya juga sudah dihentikan sementara," ujar Dadan.
6. Prabowo ingin terus melanjutkan MBG

Dalam diskusi bersama jurnalis senior dan pakar di kediaman pribadinya, Hambalang, Bogor, Selasa, 17 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan tetap melanjutkan program MBG di tengah ketidakpastian global. Dia mengatakan lebih baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digunakan untuk MBG daripada dikorupsi.
"Saya akan bertahan sedapat mungkin daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan," ujar Prabowo.
Landasan utama tetap berjalannya program tersebut didasari temuan kasus tengkes atau stunting di masyarakat. Prabowo mengaku sempat menemui anak berusia 11 tahun dengan kondisi fisik yang serupa dengan balita berumur 4 tahun.
"Saya haqul yakin berada di jalan yang benar (dengan melanjutkan program MBG). Uang kita ada," kata Prabowo.

















