FSGI: Pemerintah Cuma Kejar Angka Sukses MBG, Cuek Tren Keracunan

- FSGI mengkritik pemerintah karena terlalu fokus pada angka keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengabaikan keselamatan siswa setelah insiden keracunan massal di Jakarta Timur.
- Data FSGI menunjukkan total 4.755 korban keracunan MBG dalam dua bulan pertama 2026, dengan lonjakan rata-rata bulanan sebesar 42,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
- FSGI mendesak evaluasi besar-besaran terhadap sistem pengawasan makanan MBG karena tren kenaikan kasus dianggap bukti masalah serius yang belum diselesaikan oleh Badan Gizi Nasional.
Jakarta, IDN Times - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kritik ini dipicu insiden keracunan massal yang menimpa 72 siswa SD dan SMA di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, usai mengonsumsi menu spageti dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang sama.
FSGI menilai, pemerintah terlalu fokus pada statistik kesuksesan program dan menutup mata terhadap fakta ribuan korban yang terus berjatuhan. Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, menyoroti adanya pengabaian sistemis terhadap keselamatan kesehatan anak-anak sekolah yang baru saja kembali masuk usai libur Idul Fitri.
”Menurut FSGI terkait kebijakan MBG, pemerintah sering kali menggunakan angka untuk menunjukkan keberhasilan. Namun abai menganalisis saat ada kasus keracunan MBG, padahal angka keracunan justru menunjukkan masalah yang semakin serius,” ujar Retno Listyarti dalam keterangannya, dikutip Senin (6/4/2026).
1. Desakan evaluasi total

Pemerintah didesak untuk tidak hanya sekadar bertanggung jawab membiayai perawatan rumah sakit, tetapi melakukan perombakan pada sistem pengawasan kualitas makanan.
“Ketika jumlahnya ribuan, itu bukan lagi kesalahan kecil, melainkan tanda bahwa evaluasi besar-besaran perlu dilakukan,” ujar Retno.
2. Lonjakan korban pada awal 2026

Berdasarkan data yang dihimpun FSGI, dalam dua bulan pertama tahun 2026, total korban keracunan MBG telah mencapai 4.755 orang. Rinciannya, terdapat 2.835 korban pada Januari dan 1.920 korban pada Februari.
Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung, mengatakan, rata-rata korban per bulan pada 2026 melonjak 42,56 persen dibandingkan tahun 2025. Jika tahun lalu rata-rata korban berada di angka 1.667 orang per bulan, tahun ini angkanya melompat ke 2.377 orang per bulan.
”Jika kasus keracunan terjadi berulang dan melibatkan ribuan orang, berarti ada masalah dalam pengawasan, kualitas bahan makanan, kebersihan, atau distribusinya,” kata Fahriza.
3. Tren kenaikan rata-rata tahunan jadi bukti masalah di MBG

FSGI memperingatkan penurunan angka korban pada Februari tidak boleh dijadikan alasan untuk berpuas diri, mengingat hal itu lebih dipengaruhi oleh periode Ramadan dan libur Idul Fitri.
Retno kembali menekankan tren kenaikan rata-rata tahunan adalah bukti adanya masalah yang belum diselesaikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).


















