Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gus Dur Lebih Sering Terima Menteri di Istana ketimbang Rumah Pribadi

Gus Dur Lebih Sering Terima Menteri di Istana ketimbang Rumah Pribadi
Presiden keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Gus Dur lebih sering menjalankan aktivitas kepresidenan di Istana Merdeka, menerima menteri dan tamu negara secara formal dengan pendampingan pejabat terkait.
  • Kediaman Ciganjur digunakan Gus Dur untuk kegiatan santai dan nonformal, sementara urusan kenegaraan tetap dipusatkan di Istana demi keamanan dan efisiensi.
  • Selain Istana, Gus Dur juga memiliki tempat diskusi informal di Jalan Irian untuk bertemu kiai, aktivis, dan tokoh NGO dalam suasana lebih santai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mantan Juru Bicara Presiden ke-4 RI, Wahyu Muryadi, mengungkapkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lebih sering menerima menteri dan membahas urusan kenegaraan di Istana ketimbang di rumah pribadinya. 

Menurut Wahyu, meski Gus Dur dikenal sebagai sosok yang santai dan informal, Gus Dur tetap memisahkan ruang formal kenegaraan dengan ruang personal.

Table of Content

1. Gus Dur lebih banyak bekerja dari Istana Merdeka

1. Gus Dur lebih banyak bekerja dari Istana Merdeka

Gus Dur Lebih Sering Terima Menteri di Istana ketimbang Rumah Pribadi
Gus Dur gelar "open house" di Istana (sumber: instagram.com/jaringangusdurian)

Wahyu membeberkan, selama menjabat sebagai presiden, Gus Dur lebih banyak tinggal dan bekerja dari kompleks Istana Merdeka.

“Iya, beliau bertinggal dan berkantor di Istana Merdeka. Kemudian, kantornya itu kadang menerima tamu di Istana Merdeka, kadang menerima tamu di Bina Graha,” kata Wahyu saat diwawancarai IDN Times, Jumat (26/6/2026). 

Menurut dia, Istana Merdeka menjadi lokasi utama Gus Dur menjalankan aktivitas kepresidenan sehari-hari, baik untuk agenda resmi maupun pertemuan dengan tamu negara. 

“Kalau yang sering ya di Istana Merdeka, tapi sesekali di Bina Graha itu kalau mungkin tamunya lebih banyak, ada ruangan khusus di Bina Graha pakai meja yang dipakai Pak Harto dulu, tapi lebih sering di Istana Merdeka,” ujar Wahyu. 

Wahyu juga menjelaskan, saat menerima menteri atau tamu politik, Gus Dur biasanya didampingi pejabat yang relevan dengan isu yang dibahas, seperti Menteri Sekretaris Kabinet, atau menteri teknis. 

Sementara itu, Sinta Nuriyah Wahid disebut tidak ikut dalam agenda resmi kenegaraan.  

“Kalau acara resmi ya Bu Sinta tidak pernah ikut-ikut. Kecuali acara Ibu Negara atau urusan pribadi,” jelas dia. 

2. Rumah Ciganjur lebih sering dipakai untuk agenda informal

Gus Dur Lebih Sering Terima Menteri di Istana ketimbang Rumah Pribadi
Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (nu.or.id)

Meski sesekali datang ke kediaman pribadinya di Ciganjur, Wahyu mengatakan lokasi tersebut bukan tempat utama untuk membahas urusan negara. 

Gus Dur biasanya datang ke Ciganjur saat agenda salat Jumat atau sekadar beristirahat. 

“Beliau sekali-sekali juga tinggal di Ciganjur, tapi tidak bermalam biasanya. Biasanya kalau mau jumatan,” jelas dia. 

Ia menegaskan, jika ada pertemuan di Ciganjur, sifatnya cenderung santai dan nonformal. 

“Sekali-sekali manggil teman-temannya di situ, tapi tidak resmi,” kata Wahyu. 

Mantan Pemimpin Redaksi Tempo itu menjelaskan, alasan Gus Dur kala itu tidak menjadikan Ciganjur sebagai pusat aktivitas kerjanya. Menurut Wahyu, alasannya berkaitan dengan faktor keamanan dan efisiensi. 

“Beliau sadar kalau presiden itu kan ada pengamanan, berlapis-lapis, merepotkan. Disarankan memang untuk aspek keamanan, untuk aspek kemudahan, ya banyak pertimbangan lah.” 

“Akhirnya beliau ya mau di Istana merdeka. Kan sudah otomatis penjaganya sudah ada embedded itu pengamanan di situ kan. Kalau tinggal di Ciganjur, misalnya kan menggerakkan pasukan lagi ke sana, karena setiap pergerakan presiden itu harus disertai dengan pergerakan pasukan di pengamanan paspampres toh, nanti itu repot lagi, jadi ya udah yang praktis aja di Istana Merdeka,” jelas Wahyu.

3. Gus Dur juga punya ruang diskusi informal di Jalan Irian

Gus Dur Lebih Sering Terima Menteri di Istana ketimbang Rumah Pribadi
Gus Dur(instagram.com/jaringangusdurian)

Selain Istana dan Ciganjur, Gus Dur disebut kerap menerima tamu di sebuah rumah di Jalan Irian. Tempat tersebut biasa dipakai untuk diskusi nonformal dengan kiai, aktivis, hingga tokoh NGO. 

“Untuk jam-jam di luar jam kerja untuk mengatasi kesulitan birokrasi, hambatan, kendala-kendala kalau diterima di istana itu ribet. Beliau ada tempat untuk pertemuan di jalan Irian,” tutur Wahyu. 

Menurut dia, suasana di Jalan Irian jauh lebih santai dibanding di Istana. 

“Biasanya kalau pertemuan malam setelah maghrib di situ lebih informal. Biasanya kalau mau terima kiai-kiai, tokoh-tokoh LSM, teman-teman NGO, teman-teman budaya pergerakan di sana biasanya,” ujarnya.

4. Meski dikenal easy going, Gus Dur tetap tegas soal urusan negara

riwayat BBM di Indonesia
Presiden Gus Dur dan Amien Rais (commons.wikimedia.org/National Information and Communication Agency Republic of Indonesia)

Mantan Kepala Protokol Istana itu juga menilai, gaya kepemimpinan Gus Dur sangat khas karena menggabungkan pendekatan informal dengan komitmen kuat pada kepentingan publik. 

Kalau Gus Dur kan orangnya sangat informal sebenarnya. Karena berangkatnya dari tokoh-tokoh gerakan kaki lima kan sebenarnya,” ucap Wahyu. 

Menurut dia, banyak ide atau gagasan penting muncul dari diskusi santai bersama berbagai kalangan. Namun, keputusan tetap tidak diambil secara serampangan. 

“Ya bisa saja dari ide ini bagus, terus kemudian ayo. Tapi ya gak serta-merta, itu perlu proses pengkajian, perlu pendalaman, perlu pembicaraan antar instansi yang terkait,” terang Wahyu.

5. Gus Dur tak pernah mati-matian pertahankan kekuasaan

Potret Gus Dur (commons.wikimedia.org/National Information and Communication Agency Republic of Indonesia)
Potret Gus Dur (commons.wikimedia.org/National Information and Communication Agency Republic of Indonesia)

Bagi Wahyu, salah satu hal paling menonjol dari sosok Gus Dur adalah caranya memandang kekuasaan. 

“Tidak ada jabatan apapun di republik ini yang harus dipertahankan mati-matian,” ungkap dia. 

Ia menyebut, Gus Dur selalu menempatkan kemaslahatan publik sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan. 

“Gus Dur tuh paling cuek sama urusan harta benda, gak ada yang diberatin sama dia. Apalagi yang ditempelkan dalam hati, gak ada. Lepas itu. Nah, itu yang paling enaknya sehingga nothing to lose akhirnya. Ukuran sukses dari pemimpin imam kepada rakyatnya adalah bagaimana mensejahterakan mereka. Nah itu dipegang terus,” pungkas Wahyu.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More