Mantan Guru Pengganti di Finlandia Diadili Kasus Pelecehan 361 Anak

- Mantan guru pengganti berusia 28 tahun diadili di Finlandia atas 361 dakwaan pelecehan seksual anak dan penyebaran materi seksual anak secara daring pada 2019–2022.
- Jaksa menyebut terdakwa menyamar sebagai anak perempuan di Snapchat untuk meminta konten seksual dari korban berusia 9–15 tahun; polisi menyita ribuan berkas digital.
- Terdakwa mengakui sekitar 90 persen tindakan yang didakwakan. Persidangan tertutup dijadwalkan sekitar 45 hari, dengan putusan diperkirakan dibacakan pada awal 2027.
Jakarta, IDN Times - Seorang pria berusia 28 tahun yang merupakan mantan guru pengganti mulai diadili di Pengadilan Distrik Pirkanmaa, Tampere, Finlandia, Senin (7/9/2026). Pria tersebut menghadapi dakwaan berlapis atas dugaan tindak pidana pelecehan seksual anak, pelecehan seksual anak yang diperberat, serta penyebaran materi seksual anak yang diperberat terhadap 361 anak laki-laki di berbagai penjuru negara.
Perkara ini tercatat sebagai salah satu kasus kejahatan seksual anak terbesar di Finlandia yang diduga dilakukan secara online melalui media sosial Snapchat pada rentang tahun 2019 hingga 2022. Otoritas penuntutan umum memproses ratusan dakwaan tersebut setelah aparat kepolisian mengungkap ribuan berkas bukti digital dari gawai milik terdakwa.
1. Modus penyamaran pelaku di media sosial

ilustrasi media sosial (pexels.com/Tracy Le Blanc) Berdasarkan paparan jaksa penuntut, pria tersebut mendekati anak-anak melalui aplikasi Snapchat dengan menyamar sebagai seorang anak perempuan bernama Emilia. Dia diduga mengirimkan gambar dan video bermuatan seksual terlebih dahulu sebelum meminta para korban untuk mengirimkan materi serupa. Terdakwa juga dituduh memberikan instruksi khusus mengenai materi yang harus dibuat korban serta merekam kiriman tersebut secara diam-diam.
Para korban yang berusia antara 9 hingga 15 tahun meyakini seluruh konten yang dikirimkan akan terhapus secara otomatis sesuai mekanisme sistem aplikasi perpesanan tersebut. Dari pengusutan perkara, penyidik menyita lebih dari 4.200 gambar serta rekaman video yang terhubung langsung dengan para pelapor. Merujuk laporan media Ilta-Sanomat sebagaimana dikutip Helsinki Times, sebanyak 3.225 dari 4.223 berkas digital terkait para pelapor dipastikan memuat materi seksual.
Pihak kepolisian memperkirakan jumlah keseluruhan anak yang sempat dihubungi oleh terdakwa mencapai sekitar 900 orang. Jaksa penuntut menyebutkan bahwa sekitar 530 orang yang terlihat di dalam fail sitaan tersebut hingga kini belum dapat diidentifikasi. Kendati demikian, penuntut umum menegaskan seluruh dugaan pelanggaran hukum berlangsung secara daring tanpa ada tuduhan pertemuan fisik langsung antara terdakwa dan para korban untuk tindak pidana yang didakwakan dalam perkara saat ini.
2. Keterkaitan dengan sekolah dan komunitas olahraga

ilustrasi guru (unsplash.com/Vitaly Gariev) Terdakwa diketahui pernah bekerja sebagai guru pengganti serta aktif berpartisipasi dalam pembinaan atlet junior dan penyelenggaraan kamp pemuda. Pria tersebut juga sempat tercatat berkarier sebagai pemain olahraga floorball di liga kasta tertinggi Finlandia. Hubungan melalui aktivitas olahraga serta lingkungan sekolah menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mengenal sejumlah korban sebelum melancarkan aksinya.
Pengacara Jyri Kilpi, yang mendampingi 77 korban di pengadilan, menyatakan bahwa kegiatan olahraga menjadi jembatan perkenalan bagi sebagian besar kliennya dengan terdakwa. Dia menjelaskan bahwa sebanyak 70 anak yang ia wakili merupakan peserta aktif olahraga beregu, sedangkan tujuh anak lainnya berteman dengan para atlet tersebut.
Sebelum perkara ini bergulir ke meja hijau, terdakwa pernah divonis tiga tahun penjara pada 2023 atas kasus pelecehan seksual berat terhadap anak. Kasus terdahulu tersebut menimpa seorang murid berusia 14 tahun yang dikenalnya ketika ia bertugas sebagai guru pengganti. Pemeriksaan barang bukti gawai dari penyidikan kasus lama itulah yang akhirnya mengantarkan penyidik kepolisian pada pembongkaran kasus berskala lebih luas ini.
3. Pengakuan terdakwa dan jalannya persidangan

ilustrasi pengadilan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Penyelidikan mendalam bermula saat kepolisian menyita ponsel milik terdakwa dalam penanganan kasus pidana lain pada akhir 2022. Pihak berwenang memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk mengidentifikasi anak-anak yang terekam dalam materi digital serta meminta keterangan resmi dari orang tua atau wali mereka. Dari 364 dugaan pelanggaran yang sempat diumumkan kepolisian pada Desember 2025, jaksa akhirnya memutuskan membawa 361 dakwaan ke persidangan.
Pada sidang perdana, terdakwa hadir melalui sambungan video dari Pengadilan Distrik Kanta-Hame dengan sebagian besar area wajahnya tertutup. Kuasa hukum terdakwa menyatakan kliennya menyesali perbuatannya dan telah menerima uraian kronologi jaksa dengan mengakui sekitar 90 persen tindakan yang didakwakan. Perbedaan pandangan di pengadilan hanya menyangkut sejumlah detail kejadian yang tidak dapat diingat secara gamblang oleh terdakwa saat pemeriksaan polisi.
Pengadilan Distrik Pirkanmaa mengalokasikan jadwal sekitar 45 hari sidang dan menggelar proses peradilan secara tertutup mulai hari kedua demi melindungi para korban di bawah umur. Dilansir TRT World, pihak pengadilan memperkirakan persidangan akan terus berlangsung "setidaknya hingga akhir tahun ini". Putusan majelis hakim atas kasus pelecehan seksual anak ini dijadwalkan baru akan dibacakan pada awal 2027.






















