Rusia dan Korut Resmikan Jembatan Jalan Raya Pertama

- Rusia dan Korea Utara meresmikan jembatan jalan raya pertama sepanjang satu kilometer di Sungai Tumen, menghubungkan Khasan dan Rason serta memperkuat hubungan strategis kedua negara.
- Jembatan dua lajur ini berkapasitas 300 kendaraan dan 2.323 orang per hari; awalnya untuk angkutan barang, sebelum akses penumpang dan umum direncanakan dibuka akhir tahun.
- Infrastruktur ini diharapkan mendorong perdagangan, wisata, dan mobilitas pekerja, tetapi sejumlah analis mengkhawatirkannya dapat menjadi koridor logistik militer yang sulit dipantau.
Jakarta, IDN Times - Rusia dan Korea Utara (Korut) resmi membuka jembatan jalan raya pertama yang menghubungkan kedua negara melintasi Sungai Tumen pada Senin (7/9/2026). Peresmian jalur darat sepanjang satu kilometer ini menandai babak baru penguatan hubungan strategis antara Moskow dan Pyongyang.
Jembatan tersebut menghubungkan kawasan Khasan di wilayah timur jauh Rusia dengan kota perbatasan Rason di Korut. Infrastruktur ini melengkapi akses kereta api serta rute penerbangan langsung yang sudah beroperasi lebih dulu.
1. Jembatan mampu fasilitasi 300 kendaraan per hari

Bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli) Jembatan ini memiliki panjang satu kilometer dengan dua lajur kendaraan yang membentang di atas Sungai Tumen. Jalur tersebut dirancang untuk memfasilitasi pergerakan hingga 300 kendaraan dan 2.323 orang setiap hari.
Kesepakatan pembangunan jembatan tercapai saat Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Pyongyang pada 2024. Pengerjaan proyek ini kemudian dimulai pada April 2025 dan tuntas dalam waktu 495 hari.
Sebelum jalur mobil ini tersedia, mobilitas darat kedua negara hanya mengandalkan Jembatan Persahabatan untuk kereta api yang dibangun pada 1959. Kendaraan roda empat sebelumnya harus melewati papan kayu darurat yang dipasang di atas rel kereta api.
Jembatan ini dinamai Yakov Novichenko untuk mengenang perwira Tentara Merah Uni Soviet yang menyelamatkan pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, dari ledakan granat pada 1946. Pihak keluarga dari mendiang Novichenko turut hadir di lokasi untuk menyaksikan langsung upacara pembukaan fasilitas tersebut.
2. Jembatan diharapkan dapat dorong perekonomian kedua negara

Ilustrasi Bendera Rusia (pixabay.com/IGORN) Pada masa awal pengoperasian, jembatan ini difungsikan khusus untuk melayani pengangkutan barang kedua negara. Pemerintah Rusia berencana membuka akses tersebut secara penuh bagi kendaraan penumpang dan masyarakat umum pada akhir tahun ini.
Keberadaan jembatan diharapkan dapat mendongkrak arus wisatawan Rusia yang mulai diizinkan berlibur ke Korut sejak 2024. Selain mendorong kunjungan wisata, jembatan ini diproyeksikan mempermudah mobilitas ribuan tenaga kerja Korut ke berbagai sektor industri di Rusia.
"Saya yakin perluasan infrastruktur transportasi lintas batas akan memberikan dorongan kuat bagi pengembangan kerja sama perdagangan, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya," kata Perdana Menteri (PM) Rusia Mikhail Mishustin, dilansir Al Jazeera.
PM Korut Pak Thae Song menyatakan bahwa selesainya proyek jembatan menambah dinamika baru dalam kerja sama kedua negara. Pemerintah Korut memandang jembatan ini sebagai jaminan penting untuk memperluas peredaran komoditas dan pertukaran masyarakat.
3. Berpotensi digunakan sebagai koridor militer rahasia

tentara Korea Utara (unsplash.com/Mike Bravo) Pembukaan jembatan ini memicu kekhawatiran dari sejumlah analis mengenai potensi terbentuknya koridor logistik militer terselubung. Jalur tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi transaksi persenjataan yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Pergerakan armada truk dinilai akan lebih sulit untuk dipantau satelit intelijen dibanding kereta api yang memerlukan proses bongkar muat gerbong di perbatasan. Celah pengawasan ini dikhawatirkan dapat mempermudah transfer senjata diam-diam antara kedua belah pihak.
"Kecepatan konstruksi merupakan cerminan dari volume aktivitas perdagangan antara kedua belah pihak," ujar Victor Cha, pakar geopolitik dari Center for Strategic and International Studies, dilansir BBC.
Kemitraan Moskow dan Pyongyang semakin erat sejak perang Ukraina meletus pada 2022, salah satunya lewat pengerahan ribuan prajurit Korut ke wilayah Kursk. Sebagai balasan atas pasokan peluru artileri dan pasukan, Rusia dilaporkan mentransfer teknologi pertahanan udara dan satelit pengintai ke Pyongyang.





















