Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Abu Vulkanik Sampai Jakarta, Begini Cara Pemprov DKI Lindungi Warga

Abu Vulkanik Sampai Jakarta, Begini Cara Pemprov DKI Lindungi Warga
Penyemprotan water mist secara serentak di lima wilayah Jakarta. (dok. Pemprov DKI Jakarta)
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September menyebarkan abu hingga Jakarta; Pemprov DKI memprioritaskan kualitas udara dan perlindungan kelompok rentan.

  • Pemprov menyemprot water mist serentak di lima wilayah, mengerahkan kendaraan tangki, dan mencatat indikasi perbaikan partikulat PM10 pada pemantauan 6–7 September 2026.

  • Seluruh sekolah menerapkan PJJ hingga 8 September; warga diminta memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruang, membersihkan abu secara basah, serta mengikuti informasi resmi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sejak Jumat (4/9) membuat sebaran abu vulkanik meluas hingga sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta.

Merespons hal ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta langsung mengambil sejumlah kebijakan strategis. Bukan hanya menjaga kualitas udara, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan.

Sejumlah instansi terkait pun bergerak cepat melakukan langkah antisipasi. Mulai dari penyemprotan water mist untuk mengurangi abu yang beterbangan, penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), membagikan masker, hingga imbauan agar warga lebih waspada saat beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta tetap tenang dan mengikuti informasi hanya dari instansi resmi agar tidak termakan hoaks.

Berikut detail langkah yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

  1. 1. Water mist untuk kurangi sebaran abu

    siaranpers_pemprov_dki-20260906202344_o7jr1q_795.jpeg
    Penyemprotan water mist secara serentak di lima wilayah Jakarta. (dok. Pemprov DKI Jakarta)

    Water mist disemprotkan secara serentak di lima wilayah sejak Minggu (6/9). Langkah ini untuk membasahi endapan abu vulkanik agar tidak kembali beterbangan. Pemprov DKI juga terus memantau kondisi udara untuk melihat perkembangan sebaran partikulat sekaligus mengevaluasi langkah mitigasi yang dilakukan.

    “Sebaran abu vulkanik bisa kita rasakan sampai ke lokasi Monas. Karena itu, kami memilih melakukan langkah antisipasi sejak dini sambil terus memantau informasi dan perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto.

    Untuk mendukung penyemprotan, Pemprov DKI mengerahkan kendaraan tangki air dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Pertamanan dan Kehutanan (Distamhut).

    Penyemprotan dilakukan di sejumlah koridor sesuai kebutuhan dan kondisi aktual di lapangan. Pelaksanaannya juga terus dievaluasi dan dapat dilakukan selama masih diperlukan.

    Di Jakarta Pusat, penyemprotan dilakukan di kawasan Silang Monas serta Jalan M.H. Thamrin–Jenderal Sudirman. Sementara di Jakarta Utara, penyemprotan mencakup Jalan Yos Sudarso dari Tanjung Priok hingga Cempaka Mas, Jalan Gunung Sahari, dan Jalan Pluit.

    Penyemprotan juga dilakukan di koridor Cempaka Mas hingga Green Pramuka. Di Jakarta Timur, kegiatan mencakup kawasan Green Pramuka hingga UKI serta Terminal Kampung Melayu hingga PGC Cawang.

    Untuk Jakarta Selatan, penyemprotan dilakukan di Jalan Rasuna Said dari depan KPK hingga Pejaten Village serta Jalan M.T. Haryono hingga Semanggi. Adapun di Jakarta Barat, penyemprotan dilakukan di sepanjang Jalan Slipi, Tomang, dan sekitarnya.

    Hasil pemantauan pada 6–7 September 2026 menunjukkan adanya indikasi perbaikan sebaran partikulat PM10 setelah penyemprotan dilakukan. Kondisi ini menjadi salah satu sinyal positif dari upaya mitigasi yang dilakukan untuk menjaga kualitas udara Jakarta.

  2. 2. Sekolah terapkan PJJ untuk lindungi peserta didik

    6857a3883b1a3fba7fec34c1ab9e178f.jpg
    ilustrasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). (beritajakarta.id)

    Dampak abu vulkanik juga menjadi perhatian di lingkungan pendidikan. Pemprov DKI Jakarta menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta, mulai dari PAUD hingga SMA sederajat. Kebijakan ini untuk menjaga kesehatan dan keselamatan warga sekolah.

    Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, mengatakan penerapan PJJ bukan berarti kegiatan belajar mengajar dihentikan. Pembelajaran tetap berjalan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing peserta didik.

    Meski sebaran abu vulkanik di Jakarta menunjukkan penurunan, Pemprov DKI sempat memperpanjang penerapan PJJ hingga Selasa (8/9). Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi udara yang membaik, tetapi abu vulkanik masih ditemukan di sejumlah wilayah.

    “Abu vulkaniknya sudah mengalami penurunan yang luar biasa. Tetapi di beberapa daerah masih ada, dan kami masih memerlukan waktu satu hari untuk memperpanjang PJJ ini,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balai Kota Jakarta, Senin (7/9).

  3. 3. Warga dihimbau tetap waspada

    2917.jpg
    ilustrasi melakukan kegiatan dengan masker (magnific.com/tirachardz)

    Upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa kewaspadaan masyarakat. Warga perlu melakukan langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

    Untuk diketahui, abu vulkanik tidak sama dengan debu biasa. Partikelnya dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan warga ketika wilayah tempat tinggal atau aktivitasnya terdampak.

    Pertama, gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Masker kain biasa tidak seefektif masker yang dirancang untuk menyaring partikel berukuran kecil.

    Kedua, tutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah. Jika udara di luar terdampak abu, warga juga disarankan mematikan kipas atau pendingin ruangan yang menarik udara dari luar.

    Ketiga, kurangi aktivitas di luar rumah. Terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki asma atau gangguan pada paru dan jantung.

    Keempat, basahi abu sebelum dibersihkan. Abu yang berada di sekitar rumah sebaiknya dibasahi terlebih dahulu. Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikelnya kembali beterbangan dan terhirup.

    Kelima, lindungi makanan dan air. Tempat penyimpanan makanan dan air perlu ditutup agar tidak terpapar abu. Makanan atau air yang sudah terkontaminasi abu sebaiknya tidak dikonsumsi.

    Keenam, jangan abaikan gejala yang berat. Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk terus-menerus, atau iritasi mata yang semakin parah, segera cari pertolongan di fasilitas kesehatan.

    Ketujuh, laporkan kondisi darurat. Warga dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga melalui nomor 112 jika membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat di wilayah DKI Jakarta.

  4. Jangan asal percaya informasi

    Di tengah situasi seperti ini, informasi yang beredar di media sosial juga perlu disikapi dengan bijak. Pemprov DKI mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

    Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi udara sebaiknya merujuk pada sumber resmi, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Pemprov DKI Jakarta. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More