Kasus Aurelie Cermin Kekerasan Struktural dalam Relasi Intim

- Testimoni Aurelie bantu perempuan kenali kekerasan dan grooming
- Perempuan korban kekerasan sering ada di posisi rentan saat bersuara
Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif The Indonesian Legal Resource Center, Siti Aminah Tardi, mengatakan, kisah kekerasan seksual dan child grooming yang dialami aktris Aurelie Moeremans bukan sekadar tentang kisah personal. Menurut dia, kasus ini jadi upaya memperlihatkan bagaimana perempuan mengalami kekerasan struktural dalam relasi intim.
"Bagi saya, kisah Aurelie penting dilihat bukan semata sebagai kisah personal, tetapi sebagai cermin kerentanan struktural yang dialami perempuan korban kekerasan, khususnya kekerasan berbasis relasi kuasa, khususnya relasi intim," kata dia kepada IDN Times, dikutip Kamis (22/1/2026).
1. Testimoni Aurelie bantu perempuan kenali kekerasan dan grooming

Ami, sapaan akrabnya mengatakan, memoar Aurelie berjudul "Broken Strings" membantu masyarakat lebih paham soal child grooming dan korban kekerasan dalam hubungan.
"Testimoninya tidak hanya menjadi bagian pemulihan untuk Aurelie, namun juga membantu masyarakat, khususnya perempuan dan anak perempuan mengenali bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan melalui grooming," kata dia.
2. Perempuan korban kekerasan sering ada di posisi rentan saat bersuara

Ami yang juga mantan komisioner Komnas Perempuan ini juga mengatakan, perempuan korban kekerasan sering berada dalam posisi yang sangat rentan ketika menyuarakan pengalamannya. Di satu sisi, pengungkapan cerita dapat menjadi proses pemulihan, edukasi publik dan keadilan.
"Namun di sisi lain, korban kerap menghadapi penyangkalan, stigma, victim blaming, kriminalisasi termasuk ancaman, baik secara langsung maupun melalui ruang digital," kata dia.
3. Ancaman ke pihak yang dukung korban adalah bentuk intimidasi dan kekerasan lanjutan

Menurut dia, ancaman pada pihak yang mendukung korban adalah bentuk intimidasi dan kekerasan lanjutan. Hal itu bertentangan dengan prinsip perlindungan korban dalam perspektif hak korban yang sekaligus menunjukkan terganggunya nilai-nilai patriarki. Dengan demikian, ancaman menjadi cara untuk membungkam korban dan pendukungnya.
"Prinsipnya keamanan korban dan pendukungnya harus diutamakan. Karena itu, jika ada ancaman kekerasan, korban ancaman kekerasan dapat melaporkan ancaman ini kepada aparat penegak hukum," ujar Ami.
"Broken Strings" adalah memoar yang ditulis oleh aktris dan penyanyi Indonesia, Aurelie Moeremans, yang dirilis dalam format digital pada 10 Oktober 2025. Buku yang berjudul lengkap "Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah" ini viral pada awal tahun 2026 karena menceritakan pengalaman Aurelie sebagai korban pelecehan anak, manipulasi emosional, dan kekerasan yang dimulai ketika Aurelie berusia 15 tahun.

















