Kasus Chromebook Nadiem, Ibrahim Arief Divonis 4 Tahun Penjara

- Ibrahim Arief, eks konsultan Kemendikbudristek, dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp500 juta atas kasus korupsi pengadaan Laptop Chromebook.
- Vonis terhadap Ibrahim lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, serta uang pengganti Rp16,9 miliar.
- Dalam kasus yang merugikan negara Rp2,1 triliun ini, dua pejabat Kemendikbudristek sudah divonis sebelumnya sementara Nadiem Makarim masih menunggu tuntutan jaksa.
Jakarta, IDN Times - Eks Konsultan Teknologi Kemendikbudristek, Ibrahim Arief alias Ibam divonis 4 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 120 hari kurungan dalam kasus korupsi pengadaan Laptop Chromebook.
"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Ibrahim Arief alias Ibam oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun," ujar Hakim di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).
Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa menuntut Ibam 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan serta uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara.
Sementara itu, dua mantan anak buah eks Mendikbudristek Nadiem Makarim telah lebih dulu divonis dalam perkara ini.
Sri Wahyuningsih selaku Direktur Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah tahun 2020-2021 divonis 4 tahun penjara dan denda Rp500 juta.
Mulyatsyah selaku Direktur SMP Kemendikbudristek 2020 divonis 4,5 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 120 hari.
Selain itu, Hakim juga menghukum Mulyatsyah membayar uang pengganti senilai Rp2,28 miliar subsider 2 tahun. Meski begitu, hakim juga mempertimbangkan uang yang telah disita senilai Rp725.000.000.
Adapun Nadiem Makarim baru akan menerima tuntutan jaksa pada persidangan yang berlangsung pada Rabu (13/5/2026).
Diketahui, Ibrahim Arief didakwa bersama-sama Nadiem Makarim, Sri Wahyuningsih, dan Mulyatsyah melakukan korupsi dalam pengadaan Laptop Chromebook.
Pengadaan ini disebut merugikan negara Rp2,1 triliun. Jumlah itu berasal dari angka kemahalan harga Chromebook sebesar Rp1.567.888.662.716,74 (Rp1,5 triliun) serta pengadaan CDM yang tidak diperlukan dan tidak bermanfaat sebesar Rp 621.387.678.730 (Rp621 miliar).
Selain itu, pengadaan ini diduga memperkaya 25 pihak.


















