Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prabowo Singgung Yaman, Ini Jejak Penyebaran Islam Melalui Hadramaut

Prabowo Singgung Yaman, Ini Jejak Penyebaran Islam Melalui Hadramaut
Hadramaut, Yaman (Moataz Kaity, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pernyataan Presiden Prabowo tentang Yaman menuai protes dari Rizieq Shihab, yang menilai ucapannya tidak pantas dan menyinggung dalam konteks pidato politiknya.
  • Yaman, khususnya wilayah Hadramaut, memiliki peran penting dalam penyebaran Islam ke Nusantara melalui pedagang dan ulama yang berdagang sekaligus berdakwah sejak abad ke-7 M.
  • Ulama Hadramaut berkontribusi besar pada pendidikan Islam di Indonesia, memperkenalkan Mazhab Syafi’i, serta memiliki keterkaitan historis dengan Walisongo sebagai tokoh penyebar Islam di Jawa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Yaman kembali menjadi sorotan setelah tokoh Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, memprotes pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut negara tersebut dalam pidatonya. 

Sebelumnya, Prabowo menyinggung narasi ‘Indonesia Gelap’ dan ‘Kabur Aja Dulu’. Ia menyebut bahwa akan mempersilakan siapa pun yang ingin “kabur” ke Yaman. 

Hal itu diprotes Rizieq dalam ceramahnya, hingga ia menyebut bahwa pernyataan Prabowo tersebut tidak bagus. 

“Itu perkataan jelek, nggak bagus, jahat itu pernyataan saudara,” ujar Rizieq dalam ceramahnya yang dikutip dari akun YouTube Islamic Brotherhood Television, Senin, 12 Mei 2026.

Di luar polemik tersebut, Yaman sejatinya memiliki hubungan historis dengan Indonesia, terutama dalam proses penyebaran agama Islam. 


1. Pedagang Hadramaut yang berdagang ke Indonesia

Prabowo Singgung Yaman, Ini Jejak Penyebaran Islam Melalui Hadramaut
ilustrasi para pedagang Arab (pixabay.com/Xisdom)

Proses penyebaran Islam di Indonesia tidak bisa lepas dari kehadiran pedagang dari Timur Tengah (Arab, Gujarat, dan Persia) yang datang sejak abad ke-7 M. Salah satunya adalah pedagang dari Hadramaut, Yaman.  

Dikutip dari jurnal berjudul “Peran Orang Arab dalam Sejarah Perkembangan Agama Islam di Indonesia” yang ditulis Maryamah dkk, disebutkan bahwa tujuan awal mereka datang ke Nusantara adalah karena alasan ekonomi. 

Hal ini dikarenakan tempat awal mereka yang tandus, sehingga mereka mencoba berdagang ke luar Arab untuk mencari keuntungan. 


2. Penyebaran Islam melalui Hadramaut

Salat tarawih di Masjid Istiqlal (IDN Times/Sunariyah)
Salat tarawih di Masjid Istiqlal (IDN Times/Sunariyah)

Berdasarkan buku “Sejarah Islam Nusantara” karya Rizem Aizid, banyak sejarawan menilai bahwa yang membawa Islam ke Nusantara adalah pedagang Arab, khususnya kaum Alawiyyin yang berasal dari Hadramaut.  

Pendatang dari Hadramaut itu tidak hanya berdagang, tetapi juga membawa ajaran Islam dan budaya mereka ke Nusantara. 

Selain melalui perdagangan, pendidikan atau dakwah, proses penyebaran Islam juga terjadi melalui pernikahan. Proses ini dinilai mempercepat islamisasi di Nusantara 

Melalui akulturasi dan interaksi tersebut, ajaran Islam diperkenalkan tanpa paksaan, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat Nusantara yang saat itu masih dipengaruhi kepercayaan dan budaya sebelumnya.


3. Kontribusi di bidang pendidikan

Ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak, Kamis (6/4/2023). Perjalanan Ramadan Bersama Lebih Bermakna, Paragon Goes to Pesantren juga ingin Meneladani spirit penggerak kebaikan dari wali songo. (IDN Times/Bandot Arywono)
Ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak, Kamis (6/4/2023). Perjalanan Ramadan Bersama Lebih Bermakna, Paragon Goes to Pesantren juga ingin Meneladani spirit penggerak kebaikan dari wali songo. (IDN Times/Bandot Arywono)

Ulama dari Hadramaut yang berdakwah juga memberikan kontribusi dalam pendidikan Islam di Nusantara. Mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi pusat pengajaran agama Islam.

Tak hanya itu, terdapat beberapa kitab fikih dari Hadramaut yang masih menjadi bahan ajar populer di pesantren yang ada di Indonesia.

Salah satunya adalah kitab Safinatun Najah yang ditulis oleh Syeikh Salim bin Sumair al-Hadromy, seorang ulama dari Hadramaut yang menetap di Batavia.

Selain itu, pengaruh penting dari datangnya pedagang Hadramaut adalah berkembangnya Mazhab Syafi'i di Nusantara. Mengutip dari jurnal berjudul “Mazhab Syafi'i sebagai Paradigma dalam Pemikiran dan Penetapan Hukum Islam di Indonesia” yang ditulis Syaiful Anwar dkk, mazhab ini dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Hadramaut. 

Hingga kini, mazhab Syafi’i masih menjadi mazhab yang paling banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh ulama Hadramaut dalam membentuk tradisi keislaman di Nusantara.


4. Keterkaitan Wali Songo dengan Hadramaut

Ziarah ke makam Sunan Muria, Kamis (6/4/2023). Perjalanan Ramadan Bersama Lebih Bermakna, Paragon Goes to Pesantren juga ingin Meneladani spirit penggerak kebaikan dari Wali Songo. (IDN Times/Bandot Arywono)
Ziarah ke makam Sunan Muria, Kamis (6/4/2023). Perjalanan Ramadan Bersama Lebih Bermakna, Paragon Goes to Pesantren juga ingin Meneladani spirit penggerak kebaikan dari Wali Songo. (IDN Times/Bandot Arywono)

Mengutip jurnal “Menelusuri Mazhab Walisongo” karya Khalili Hasib, terdapat teori yang berpendapat bahwa leluhur Wali Songo berasal dari kalangan Alawiyyin dari Hadramaut. Teori ini juga diakui oleh banyak sejarawan, salah satunya adalah Van den Berg. 

Hal ini diperkuat oleh mazhab dan akidah yang dibawa oleh Wali Songo, yaitu Ahlusunnah-Syafi’iyyah, yang diturunkan oleh leluhur mereka dari kalangan Alawiyyin di Hadramaut. 

Selain itu, disebutkan bahwa kakek dari Maulana Malik Ibrahim, Jamaluddin al-Husein, merupakan keturunan Hadramaut yang lahir di India.


Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More