Kemensos Akan Beri Sekolah Gratis ke Kakak Siswa SD yang Akhiri Hidup di NTT

- Menteri Sosial Saifullah Yusuf prihatin terhadap kasus anak SD yang bunuh diri karena tak mampu beli buku dan alat tulis.
- Gus Ipul melakukan langkah pencegahan dengan memiliki data yang akurat, memberikan pendidikan gratis kepada kakak korban, dan meminta agar kasus ini dikembangkan lebih dalam.
- KPAI meminta agar polisi tetap memproses hukum, khawatir ada faktor perundungan pada anak yang belum punya buku dan pena. Masyarakat diingatkan untuk tidak menganggap remeh kasus bunuh diri di tingkat SD.
Bekasi, IDN Times - Menteri Sosial Saifullah Yusuf turut prihatin terhadap peristiwa siswa SD yang berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya lantaran tidak mampu membeli buku dan alat tulis untuk mengikuti kegiatan belajar karena keterbatasan ekonomi.
"Iya, saya kemarin sudah sampaikan yang pertama tentu kita prihatin, tentu kita ikut berduka. Kita juga, tim sedang berada di sana untuk melakukan asesmen," kata Saifullah atau yang akrab disapa Gus Ipul saat ditemui di Kota Bekasi, Rabu (4/2/2026).
1. Cara Gus Ipul lakukan pencegahan

Gus Ipul mengatakan, pihaknya juga telah melakukan langkah-langkah agar peristiwa tersebut tidak lagi terulang. Salah satunya yakni dengan memiliki data yang akurat.
"Yang lebih penting lagi ke depan, kita ingin bersama daerah memperkuat data, dengan data yang akurat semuanya bisa diberi perlindungan dan diberi dukungan yang diperlukan," jelasnya.
Dengan data yang akurat, pemerintah dapat melakukan mitigasi dan langsung melakukan penanganan lebih lanjut.
"Jadi mudah-mudahan tidak terjadi lagi, bisa kita mitigasi, kita bisa cegah hal-hal seperti ini salah satunya dengan menghadirkan data yang akurat," jelas dia.
2. Menyekolahkan kakak korban

Terkait peristiwa tersebut, Gus Ipul mengungkapkan, pihaknya telah bertemu dengan orang tua korban dan berencana memberikan pendidikan gratis kepada kakak korban.
"Nanti ada kakaknya, masih ada kakaknya yang akan kita coba untuk bisa bersekolah, apakah di sekolah-sekolah yang dekat sana atau nanti di sekolah rakyat," jelas Ipul.
3. KPAI meminta agar kasus ini dikembangkan, khawatir ada perundungan

Sementara, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, meminta agar kasus ini dikembangkan lebih dalam oleh Polres Ngada untuk melihat apakah ada faktor perundungan pada anak karena belum punya buku dan pena.
"Kami juga berharap bahwa polisi tetap memproses hukum karena anak yang sudah meninggal mendapatkan kejelasan penyebab kematian, sehingga anak tidak mendapatkan stigma yang negatif," kata dia.
Diyah berharap, masyarakat tak menganggap remeh kasus ini, karena karena anak yang mengakhiri hidup di tingkat SD setiap tahun ada.
"Kasus seperti ini juga pernah terjadi 2023 di Kebumen. Hampir mirip, hanya saja anaknya ini meminta uang jajan, tidak ada uang. Kemudian dia menceburkan diri di sungai," ujarnya.
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan jiwa serius yang sering diabaikan masyarakat. Jika kamu membutuhkan pertolongan atau mengenal seseorang yang membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungi layanan konseling pencegahan bunuh diri, di nomor telepon gawat darurat (emergency) hotline (021) 500–454 atau 119, bebas pulsa.
NGO Indonesia pencegahan bunuh diri:
Jangan Bunuh diri || telp: (021) 9696 9293 || email: janganbunuhdiri@yahoo.com
Organisasi INTO THE LIGHT || message via page FB: Into The Light Indonesia (@IntoTheLightID) || direct message via Twitter: @IntoTheLightID
Kementrian Kesehatan Indonesia || telp: (021) 500454



















