Perkuat Identitas, Bogor Menuju Kota Gastronomi Unesco

- IPB University menjadi mitra riset dan co-creator dalam pengembangan inovasi pangan berbasis bahan lokal.
- Memanfaatkan bahan autentik dan status warisan budaya tak benda.
- Bogor memanfaatkan bahan baku autentik dengan nilai historis tinggi namun tetap relevan di industri kuliner modern.
Bogor, IDN Times - Kota Bogor baru saja meresmikan langkah besar untuk mendunia. Melalui pembentukan Forum Bogor Kota Gastronomi, kota hujan ini siap bersaing mendapatkan pengakuan internasional dari Unesco. Tak sekadar soal makanan enak, langkah ini merupakan upaya menjaga akar budaya dan sejarah di setiap piring sajian khas Bogor.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menekankan status Kota Gastronomi tidak hanya ditentukan rasa, tetapi juga cerita di baliknya. Menurutnya, kuliner harus menjadi identitas yang menjelaskan jati diri kota kepada dunia.
“Penguatan kuliner Kota Bogor tidak cukup hanya berbicara soal rasa atau popularitas. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun narasi yang tepat, karena narasi inilah yang akan membungkus, menjelaskan, sekaligus memberi makna pada kuliner Bogor sebagai bagian dari identitas kota," tegas Dedie.
1. Kolaborasi strategis dengan IPB University sebagai 'Co-Creator'

Salah satu senjata utama Bogor adalah keberadaan IPB University. Kampus ini tidak hanya berperan sebagai pemberi teori, tetapi juga menjadi mitra riset untuk mengembangkan inovasi pangan berbasis bahan lokal. Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung dalam proses kreatif ini.
“Ini merupakan peluang dan IPB siap tidak hanya menjadi mitra, tetapi juga sebagai co-creator untuk bersama-sama membangun kota gastronomi,” ungkap Alim.
2. Memanfaatkan bahan autentik dan status warisan budaya tak benda

Pada 2025, menu legendaris seperti Asinan Bogor, Doclang, dan Bir Kotjok secara resmi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Kekuatan Bogor terletak pada bahan baku autentik seperti talas, kelapa kopyor, hingga buah pala yang memiliki nilai historis tinggi namun tetap relevan di industri kuliner modern.
3. Misi besar Forum Bogor Kota Gastronomi

Dipimpin Haidhar Wurjanto, forum ini akan menjadi jembatan antara Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pelaku street food, hingga industri besar. Fokus utamanya adalah mendokumentasikan resep kuno, mempromosikan wisata kuliner berkelanjutan, dan membangun jejaring nasional melalui MoU dengan Dewan Kuliner Indonesia.
“Forum ini merupakan langkah penting untuk memperkuat komitmen Kota Bogor sebagai pusat gastronomi yang tidak hanya dikenal karena makanan yang lezat, tetapi juga karena upaya melestarikan tradisi,” pungkas Haidhar.


















