Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

HUT ke-18 Gerindra, Azis Subekti: Kemenangan 2024 Bukan Kejutan

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyampaikan ucapan terima kasih atas kedatangan pendukungnya di Gelora Bung Karno, Jakarta, dalam acara kampanye akbar Sabtu siang bertajuk Pesta Rakyat. (Dok. TKN Prabowo-Gibran)
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyampaikan ucapan terima kasih atas kedatangan pendukungnya di Gelora Bung Karno, Jakarta, dalam acara kampanye akbar Sabtu siang bertajuk Pesta Rakyat. (Dok. TKN Prabowo-Gibran)
Intinya sih...
  • Gerindra lahir dari proses panjang, bukan kemudahan kekuasaan
  • Kekalahan bentuk karakter partai dan menguji kesetiaan pada proses demokrasi
  • Kemenangan 2024 adalah kemenangan waktu dan hasil dari proses panjang
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Jawa Tengah VI, Azis Subekti, menilai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra tidak semestinya dipahami sebagai perayaan kemenangan semata. Menurutnya, momen ini justru harus menjadi penanda jalan dan ruang refleksi atas perjalanan panjang partai dalam dinamika politik nasional.

“Sebab dalam politik, kemenangan yang tidak disertai ingatan kerap menjadi awal dari kelalaian,” ujar Azis dalam keterangannya, dikutip Sabtu (7/2/2026).

1. Gerindra disebut lahir dari proses panjang, bukan kemudahan kekuasaan

IMG-20260206-WA0079.jpg
Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad sebut kemenangan hari ini diraih dengan cara yang tidak mudah. (IDN Times/Amir Faisol).

Azis menjelaskan, Gerindra lahir pada 2008 bukan dari kelapangan kekuasaan, tetapi dari rasa belum selesai terhadap arah republik. Sejak awal, partai memilih jalur yang tidak selalu nyaman, dengan menempatkan organisasi sebagai fondasi utama.

“Gerindra lahir pada 2008 bukan dari kelapangan kekuasaan, tetapi dari rasa belum selesai terhadap arah republik. Sejak awal, Gerindra memilih jalur yang tidak selalu nyaman: organisasi lebih dulu, euforia belakangan,” katanya.

Ia menambahkan, struktur dibangun sebelum sorotan datang, kader dipersiapkan sebelum kursi tersedia. Meski kerap dianggap kaku, pilihan itu justru memberi daya tahan ketika politik nasional bergerak cepat dan sering kehilangan arah.

Masuk parlemen pada 2009 juga disebut bukan tujuan akhir. “Masuk parlemen pada 2009 adalah pijakan awal, bukan tujuan. Di fase ini, Gerindra belajar bahwa suara rakyat tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai titipan yang menuntut kerja berulang,” ujar Azis.

2. Kekalahan bentuk karakter partai

IMG-20251114-WA0031.jpg
Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa)

Azis menilai kekalahan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2009 dan 2014 menjadi momen pembelajaran yang menentukan bagi Gerindra. Kekalahan itu menguji kesetiaan partai pada proses demokrasi.

“Prabowo Subianto kalah, tetapi partai tidak runtuh. Kekalahan itu justru menguji sesuatu yang lebih mendasar: kesetiaan pada proses,” katanya.

Menurutnya, pilihan menjadi oposisi dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa oposisi bukan sekadar sikap, melainkan fungsi. “Gerindra memilih menjadi oposisi dengan kesadaran penuh bahwa oposisi bukan sekadar sikap, melainkan fungsi. Kritik diarahkan untuk menjaga kewarasan demokrasi, bukan untuk merawat dendam,” tutur Azis.

Sepuluh tahun berada di luar pemerintahan juga memperjelas bahwa oposisi terlalu lama bisa berubah menjadi identitas kosong jika tanpa refleksi. Karena itu, keputusan masuk pemerintahan pada 2019 disebut bukan lompatan emosional, melainkan langkah sadar.

“Keputusan untuk masuk ke pemerintahan pada saat itu bukan lompatan emosional, melainkan langkah sadar bahwa politik juga menuntut keberanian untuk berubah posisi tanpa kehilangan prinsip,” katanya.

3. Kemenangan 2024 adalah kemenangan waktu

Paslon nomor 02 Prabowo-Gibran (Dok. Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran)
Paslon nomor 02 Prabowo-Gibran (Dok. Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran)

Azis menegaskan, perubahan posisi itu menggeser cara publik melihat Prabowo, dari figur perlawanan menjadi sosok yang bekerja dalam sistem dan berbicara dengan bahasa stabilitas. Transformasi tersebut, menurutnya, berjalan seiring dengan perubahan cara partai mengelola pesan.

Di balik itu semua, ada kerja sunyi yang jarang terlihat publik. “Yang kerap luput dibicarakan adalah kerja sunyi yang menopang semua itu. Pendidikan kader yang konsisten, perawatan struktur yang tidak tergesa, kerja senyap tokoh-tokoh kunci dan disiplin organisasi yang dijaga bahkan ketika tidak disorot kamera,” ujarnya.

Karena itu, kemenangan 2024 dinilai sebagai buah dari proses panjang. “Kemenangan 2024 akhirnya hadir sebagai akumulasi, bukan kejutan. Ia terasa ‘pasti’ bukan karena diramalkan, melainkan karena dipersiapkan lama,” kata Azis.

Ia menambahkan, bagi Gerindra, usia 18 tahun harus menjadi pengingat, bukan garis finis. Sementara bagi publik, perjalanan ini menunjukkan bahwa dalam politik yang serba cepat, yang paling bertahan bukan yang paling keras, melainkan yang paling tekun mengelola waktu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More

SBY Ajak Perkuat Dialog dan Kolaborasi untuk Dukung Pemerintahan Prabowo

08 Feb 2026, 00:02 WIBNews