"Yang jadi penyebab ini, beberapa dari mereka, sebetulnya juga banyak kondisi kesehatannya tidak baik-baik saja. Hanya beberapa saja karena mungkin ada kasus-kasus tertentu, disebabkan cuaca sehingga kondisi (fisik) yang sudah terbatas, akhirnya yang bersangkutan meninggal dunia," tutur Donny dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR, Rabu, 1 Juli 2026.
Kemhan Akui Loloskan Calon Manajer Idap Penyakit Bawaan Ikut Latsarmil

- Kemhan mengakui ada peserta latsarmil calon manajer Kopdes yang lolos seleksi meski memiliki penyakit bawaan, namun dinilai masih aman untuk mengikuti pelatihan.
- Program latsarmil diubah menjadi pelatihan bela negara tanpa materi militer, berfokus pada nasionalisme, disiplin, dan kepemimpinan hingga pertengahan Juli 2026.
- Kemhan membentuk tim investigasi bersama Kemenkes untuk menelusuri kematian lima peserta latsarmil akibat kelelahan, perubahan pola hidup, cuaca panas, serta penyakit bawaan.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto mengakui beberapa peserta latihan dasar militer (latsarmil) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), ada yang diloloskan dalam seleksi kesehatan meski mempunyai penyakit bawaan. Mereka diklaim masih aman, sehingga bisa mengikuti latsarmili.
1. Calon manajer Kopdes semula disiapkan untuk Komcad

Donny mengakui puluhan ribu peserta program SPPI untuk calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih, semula disiapkan untuk menjadi komponen cadangan (Komcad). Itu sebabnya mereka harus mengikuti latsarmil.
Komcad merupakan sumber daya nasional yang disiapkan untuk memperkuat komponen utama, yakni TNI. Semula latsarmil diberikan selama 30 hari di 67 satuan pendidikan TNI di Indonesia. Hal itu disampaikan Donny dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR, Rabu, 1 Juli 2026.
"Kami sudah sampaikan ke anggota Komisi I DPR untuk merevisi program ini. Yang semula mereka akan menjadi komponen cadangan, kini kami tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan bela negara," ungkap Donny.
2. Pelatihan dilanjutkan hingga pertengahan Juli 2026

Donny menyebut sejak format latsarmil diubah menjadi bela negara, puluhan ribu calon manajer Kopdes itu tak lagi menerima materi terkait taktik militer atau senjata, meskipun saat ini mereka masih mengenakan seragam loreng sage untuk mengikuti sisa waktu latihan dasar.
"Jadi, mereka hanya diberikan pelajaran terkait dengan nasionalisme, terkait dengan patriotisme dan disiplin. Karena mereka mengikuti jadwal harian, yang artinya kan melatih disiplin waktu juga," tutur dia.
Kemhan, kata purnawirawan TNI Angkatan Udara (AU) itu memberikan pelajaran bagi puluhan ribu calon manajer Kopdes terkait kepemimpinan lapangan. Sebab, materi tersebut akan memimpin koperasi di beragam daerah.
Lebih lanjut, Donny mengatakan, materi bela negara diberikan dalam kurun waktu dua pekan. Proses latihan dasar tetap berlanjut hingga pertengahan Juli 2026. Setelah itu, puluhan ribu calon manajer Kopdes menerima materi mengenai kepemimpinan dan manajerial selama 15 hari.
"Nanti, tergantung SPPI ini arahnya ke mana. Kalau ke koperasi, mereka akan lebih banyak diberikan materi modul terkait dengan koperasi. Kalau yang akan mengelola kampung nelayan, mereka akan diberikan modul terkait kampung nelayan itu," tutur dia.
Donny menyebut pihak yang memberikan materi mengenai manajerial adalah kementerian masing-masing, termasuk Kementerian Koperasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
"Kedua instansi itu juga sudah menyiapkan modul pembelajaran," imbuhnya.
3. Kemhan bentuk tim investigasi telusuri penyebab kematian lima calon manajer Kopdes

Selain itu, Donny menyebut, Kemhan telah membentuk tim investigasi untuk mengusut kematian lima calon manajer Kopdes saat mengikuti latsarmil. Tim investigasi terdiri dari Kemhan dan Kementerian Kesehatan.
"Kami sudah bentuk dan nanti akan kami tindak lanjuti untuk melihat atau mencari data-data tambahan mengapa kok ini bisa terjadi," kata Donny.
Donny menyebut peserta yang meninggal di Satdik Halim akibat adanya penularan penyakit. Novia Ramadani Sihotang semula disebut meninggal karena mengidap Tuberkulosis (TBC), tetapi belakangan Kementerian Kesehatan menyebut Novia meninggal akibat terkena infeksi paru-paru yang disebabkan virus.
"Yang kejadian di Halim terkait paru-paru, ini juga karena ada penularan di sana. Ini kami lakukan tindakan pencegahan bersama dengan Kementerian Kesehatan," tutur dia.
Meski tim investigasi belum selesai bekerja, Donny menyebut, penyebab lima calon manajer Kopdes meninggal akibat beberapa hal. Pertama, kelelahan dan kedua, perubahan pola hidup.
"Penyebab (kematiannya) memang berbeda-beda. Tapi kalau bisa kami tarik kesimpulan, pertama karena kelelahan dan kemudian, karena ada perubahan pola hidup. Dari semula kehidupan sipil lalu masuk ke kehidupan barak. Yang mana kan semua harus dilakukan penuh disiplin," katanya.
Faktor penyebab ketiga, kata Donny, karena cuaca panas terik. Ia pun mengakui ada peserta yang meninggal memiliki penyakit bawaan. Ia mengatakan riwayat penyakit itu sudah terdeteksi saat proses seleksi, namun penyakit yang diidap diklaim masih aman, sehingga peserta bisa mengikuti latsar militer.
"Yang jadi penyebab ini, beberapa dari mereka, sebetulnya juga banyak kondisi kesehatannya tidak baik-baik saja. Hanya beberapa saja karena mungkin ada kasus-kasus tertentu, disebabkan cuaca sehingga kondisi (fisik) yang sudah terbatas, akhirnya yang bersangkutan meninggal dunia," tutur dia.
Donny mengklasifikasikan dari lima peserta SPPI yang meninggal, dua disebabkan keluhan di paru-paru, dan tiga karena permasalahan di jantung. Dua peserta yang meninggal akibat keluhan di paru-paru mengikuti pelatihan di satuan pendidikan di area Halim.
"Yang lainnya (meningga) di satdik di Baturaja, Balikpapan dan Singkawang. Yang di Balikpapan dan Singkawang, meninggal karena terkait penyakit jantung," imbuhnya.



















