Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wamenhan: Calon Manajer Kopdes Tetap Berseragam Militer agar Tak Tambah Biaya

Wamenhan: Calon Manajer Kopdes Tetap Berseragam Militer agar Tak Tambah Biaya
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto ketika menghadiri pembukaan Presidential Future Leaders Program (PFLP) gelombang pertama. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Wamenhan Donny Ermawan menjelaskan peserta SPPI tetap berseragam militer demi efisiensi biaya, meski pelatihan kini berfokus pada bela negara tanpa materi taktik atau senjata.
  • Kementerian Pertahanan membentuk tim investigasi internal bersama Kemenkes untuk menelusuri penyebab kematian lima calon manajer Kopdes selama latihan dasar militer.
  • Donny menyebut kematian peserta disebabkan kelelahan, perubahan pola hidup, cuaca panas, serta penyakit bawaan seperti gangguan paru-paru dan jantung yang terdeteksi sejak seleksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto menjelaskan alasan puluhan ribu peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) masih tetap mengenakan seragam militer, meski format pelatihan telah berganti menjadi bela negara. Menurutnya, hal itu dilakukan agar tak ada lagi penambahan biaya. Di sisi lain, pakaian yang diberikan pihak panitia semua memiliki motif loreng khas militer.

"Nanti kalau kita ganti seragam, nambah biaya lagi. Jadi tetap kita gunakan seragam," ungkap Donny ketika dikonfirmasi, Kamis, 2 Juli 2026.

Sebelumnya, ketika ditemui di Gedung DPR, purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Udara (AU) itu menyebut, semula puluhan ribu calon manajer Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih tersebut akan dijadikan komponen cadangan (Komcad). Komcad merupakan sumber daya nasional yang disiapkan untuk memperkuat komponen utama TNI. Itu sebabnya mereka mendapatkan pendidikan latihan dasar militer.

"Kami sudah sampaikan ke anggota Komisi I DPR untuk merevisi program ini. Yang semula mereka akan menjadi komponen cadangan, kini kami tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan bela negara," tutur dia di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu, 1 Juli 2026.

Sejak format pelatihan diganti jadi bela negara, puluhan ribu calon manajer itu tak lagi menerima materi terkait taktik militer atau senjata.

"Jadi, mereka hanya diberikan pelajaran terkait dengan nasionalisme, terkait dengan patriotisme dan disiplin. Karena mereka mengikuti jadwal harian, yang artinya kan melatih disiplin waktu juga," katanya.

1. Proses pelatihan bela negara akan berlangsung hingga pertengahan Juli 2026

Wamenhan: Peserta SPPI Tetap Berseragam Militer agar Tak Tambah Biaya
Kegiatan pemberian materi di dalam kelas bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskesad, Kramat Jati, Jakarta Timur. (IDN Times/Santi Dewi)

Lebih lanjut, Donny mengatakan, materi bela negara diberikan selama dua pekan. Proses latihan dasar tetap berlanjut hingga pertengahan Juli 2026. Setelah itu, puluhan ribu calon manajer Kopdes menerima materi mengenai kepemimpinan dan manajerial selama 15 hari.

"Nanti, tergantung SPPI ini arahnya ke mana. Kalau ke koperasi, mereka akan lebih banyak diberikan materi modul terkait dengan koperasi. Kalau yang akan mengelola kampung nelayan, mereka akan diberikan modul terkait kampung nelayan itu," ungkapnya.

Donny menyebut pihak yang memberikan materi mengenai manajerial adalah kementerian masing-masing, termasuk Kementerian Koperasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Kedua instansi itu juga sudah menyiapkan modul pembelajaran," imbuhnya.

2. Kemhan sudah bentuk tim investigasi untuk telusuri penyebab kematian lima calon manajer Kopdes

Donny Ermawan, Kemhan, Kopdes
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto ketika memberikan materi bagi para peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). (Dokumentasi Kemhan)

Selain itu, Donny juga menyebut Kemhan telah membentuk tim investigasi untuk mengusut kematian lima calon manajer Kopdes saat mengikuti latsarmil. Tim investigasi terdiri dari Kemhan dan Kementerian Kesehatan.

"Kami sudah bentuk dan nanti akan kami tindak lanjuti untuk melihat atau mencari data-data tambahan mengapa kok ini bisa terjadi," kata Donny.

Namun, ia menggarisbawahi, investigasi yang dilakukan bersifat internal. Belum ada rencana untuk membawa insiden meninggalnya lima calom manajer kopdes ke jalur hukum.

"Kami belum mengarah ke sana karena kami masih investigasi internal dulu," tutur dia.

Donny juga menyebut peserta yang meninggal di Satdik Halim akibat adanya penularan penyakit. Novia Ramadani Sihotang semula disebut meninggal karena mengidap Tuberkulosis (TBC), tetapi belakangan Kementerian Kesehatan menyebut Novia meninggal akibat terkena infeksi paru-paru yang disebabkan virus.

"Yang kejadian di Halim terkait paru-paru, ini juga karena ada penularan di sana. Ini kami lakukan tindakan pencegahan bersama dengan Kementerian Kesehatan," tutur dia.

3. Perubahan pola hidup dan kelelahan disebut jadi penyebab meninggalnya calon manajer Kopdes

SPPI, Kemhan, Kopdes
Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang digembleng di Pusdikkes Puskes Angkatan Darat (AD). (IDN Times/Santi Dewi)

Meski tim investigasi belum selesai bekerja, Donny menyebut, penyebab lima calon manajer Kopdes meninggal akibat dua hal. Pertama, kelelahan dan kedua, perubahan pola hidup.

"Penyebab (kematiannya) memang berbeda-beda. Tapi kalau bisa kami tarik kesimpulan, pertama karena kelelahan dan kemudian, karena ada perubahan pola hidup. Dari semula kehidupan sipil lalu masuk ke kehidupan barak. Yang mana kan semua harus dilakukan penuh disiplin," katanya.

Faktor penyebab ketiga, kata Donny, karena cuaca panas terik. Ia pun mengakui ada peserta yang meninggal memiliki penyakit bawaan. Ia mengatakan riwayat penyakit itu sudah terdeteksi saat proses seleksi, namun penyakit yang diidap diklaim masih aman, sehingga peserta bisa mengikuti latsar militer.

"Yang jadi penyebab ini, beberapa dari mereka, sebetulnya juga banyak kondisi kesehatannya tidak baik-baik saja. Hanya beberapa saja karena mungkin ada kasus-kasus tertentu, disebabkan cuaca sehingga kondisi (fisik) yang sudah terbatas, akhirnya yang bersangkutan meninggal dunia," tutur dia.

Donny mengklasifikasikan dari lima peserta SPPI yang meninggal, dua disebabkan keluhan di paru-paru, dan tiga karena permasalahan di jantung. Dua peserta yang meninggal akibat keluhan di paru-paru mengikuti pelatihan di satuan pendidikan di area Halim.

"Yang lainnya (meningga) di satdik di Baturaja, Balikpapan dan Singkawang. Yang di Balikpapan dan Singkawang, meninggal karena terkait penyakit jantung," imbuhnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More