Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kericuhan di Pidie Telan Korban, TNI AD Lakukan Pemeriksaan Internal

3 min read
Kericuhan di Pidie Telan Korban, TNI AD Lakukan Pemeriksaan Internal
ilustrasi Penembakan (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Kodam Iskandar Muda menyelidiki bentrokan TNI dan warga di Desa Pulo Keunari, Pidie, yang menewaskan Abzalul Riza serta melukai 13 orang.
  • TNI AD mengerahkan 272 personel saat acara Maulid Nabi dan mengklaim tidak memakai peluru tajam; tembakan peringatan disebut menggunakan peluru hampa serta karet.
  • Pemerintah memastikan penyelidikan dan penegakan hukum untuk mengusut pelaku serta pihak bertanggung jawab, setelah berkoordinasi dengan Panglima TNI dan Menko Polkam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Panglima Kodam Iskandar Muda, Brigjen TNI Mahesa Fitriadi mengatakan, pihaknya sedang melakukan investigasi internal untuk mendalami bentrokan antara personel TNI dengan warga di Desa Pulo Keunari, Kabupaten Pidie, Aceh. Pendalaman dilakukan untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang menyebabkan satu warga tewas dan belasan orang lainnya mengalami luka. Satu warga meninggal diketahui bernama Abzalul Riza.

"Secara internal, kami akan mengadakan investigasi dan mendalami. Kalau nanti sudah ada hasilnya, tentu akan kami beritahu," ungkap Mahesa di Banda Aceh, Jumat 6 November 2026.

Ia mengatakan, proses investigasi internal hingga saat ini masih berlangsung sehingga pihaknya belum bisa dapat menyampaikan hasil pemeriksaan. Pihaknya bakal menyampaikan perkembangan setelah proses pendalaman selesai.

Mahesa mengatakan dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad pada Rabu, 4 November 2026 lalu, TNI AD mengerahkan 272 personel. Ia mengeklaim tidak ada satu pun personelnya membawa senjata.

"Anggota 272 orang. Tidak semua membawa senjata. Jadi, senjata yang dipakai untuk memberi peringatan, tentunya kami mendahului dari situ dulu. Inilah ada proses-proses," tutur dia.

  1. 1. Kodam Iskandar Muda klaim tidak ada prajurit yang gunakan peluru tajam

    Mahesa Fitriadi, Aceh
    Pangdam Iskandar Muda (paling kiri), Brigjen TNI Mahesa Fitriadi ketika memberikan keterangan mengenai penembakan di Kabupaten Pidie, Aceh. (Dokumentasi Istimewa)

    Sebelumnya, Mahesa mengeklaim anggotanya yang dikerahkan di lapangan saat terjadi ricuh di Pidie, Aceh tidak menggunakan amunisi tajam. Amunisi yang digunakan hanya peluru hampa dan peluru karet. Mahesa menggarisbawahi tindakan penembakan yang dilakukan anggotanya ke udara diklaim murni tembakan ke udara dengan menggunakan peluru hampa dan peluru karet.

    Situasi peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pidie berubah menjadi tegang ketika ada warga yang mengibarkan bendera Bulan Bintang. Bendera itu merupakan simbol yang identik dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

    "Saya yakini dan saya pertanggungjawabkan tidak ada satu butir pun amunisi tajam," ungkap Mahesa pada Jumat kemarin.

    Meski mengeklaim tidak menembakan peluru tajam tetapi akibat insiden itu satu orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka.

  2. 2. Penembakan ke udara diklaim bertujuan agar warga menahan diri

    Mahesa Fitriadi, Aceh
    Pangdam Iskandar Muda (paling kiri), Brigjen TNI Mahesa Fitriadi ketika memberikan keterangan mengenai penembakan di Kabupaten Pidie, Aceh. (Dokumentasi Istimewa)

    Mahesa menambahkan, penembakan ke udara tersebut ditujukan untuk memunculkan efek suara agar situasi terkendali dan warga dapat menahan diri dari tindakan anarkis.

    Ia menegaskan, pihak TNI selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis. Apalagi pihak yang dihadapi merupakan masyarakat atau warga sipil. Namun, eskalasi di lapangan membuat komandan komando di tempat mengeluarkan instruksi tembakan peringatan sesuai prosedur.

    “Ini kan yang dihadapi masyarakat kita sendiri. Tentunya kami mencoba bersikap secara baik dan persuasif. Tapi, karena kondisi kemarin, komandan yang di lapangan memutuskan untuk mengeluarkan tembakan peringatan,” katanya.

  3. 3. Yusril sebut pemerintah akan selidiki peristiwa penembakan di Aceh

    IMG_0462.jpeg
    Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra (IDN Times/Irfan Fathurohman)

    Sementara, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, memastikan pemerintah bakal membuka penyelidikan terhadap kasus penembakan warga di Pidie, Aceh. Yusril menegaskan penegakan hukum akan dilakukan secara tegas untuk mengusut pihak-pihak yang terlibat dan bertanggung jawab dalam peristiwa berdarah tersebut.

    "Dari pihak kami sendiri sudah sepakat untuk dilakukan satu penyelidikan atas kasus penembakan ini. Siapa yang melakukan, siapa yang bertanggung jawab, dan akan dilakukan satu upaya penegakan hukum terhadap kasus ini," ungkap Yusril di Banda Aceh pada Jumat kemarin.

    Ia mengaku telah berkoordinasi langsung dengan sejumlah pejabat tinggi negara termasuk Panglima TNI dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. "Saya sudah bicara dengan Panglima TNI dan juga Menko Polkam. Nanti saya akan bertemu dengan Pangdam Iskandar Muda untuk memperoleh kejernihan terhadap persoalan ini," katanya.

    Dalam kesempatan itu, Yusril tak lupa menyampaikan duka cita kepada keluarga korban yang tewas serta mendoakan kesembuhan bagi warga sipil yang tengah menjalani perawatan.

    Ia memandang peristiwa penembakan ini harus dijadikan bahan evaluasi bagi penanganan situasi serupa di masa mendatang. Hal itu penting dilakukan supaya tidak ada lagi penanganan yang berujung pada kekerasan fisik dan jatuhnya korban jiwa.

Related Articles

See More