Kesaksian Sopir Ambulans 10 Jam Evakuasi Korban Tabrakan Kereta KRL

- Dimas Saputra, sopir ambulans swasta, bekerja lebih dari 10 jam tanpa henti mengevakuasi korban tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur.
- Kepadatan lalu lintas membuat evakuasi sulit, dengan sekitar 300 ambulans dikerahkan untuk membantu proses penyelamatan di lokasi kejadian.
- Data KAI mencatat 107 korban, terdiri dari 16 meninggal dunia dan 91 luka-luka, sementara layanan KRL Bekasi–Cikarang mulai pulih bertahap.
Jakarta, IDN Times – Di balik deretan ambulans yang hilir mudik di tengah tragedi kecelakaan kereta Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, ada sosok-sosok yang bekerja tanpa henti. Salah satunya Dimas Saputra (30), yang malam itu tak berhenti bergerak selama lebih dari 10 jam.
Dimas mengaku mulai menerima panggilan sekitar pukul 20.00 WIB, tak lama setelah ia selesai mengantar pasien. Tanpa jeda panjang, ia langsung bergerak menuju lokasi kecelakaan kereta Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi.
“Dari jam 8-an saya sudah ditelepon, habis bawa pasien,” ujarnya pada IDN Times, Selasa, 28 April 2026.
1. Arus kendaraan nyaris lumpuh

Memasuki malam, situasi di lapangan semakin padat. Sejak pukul 22.00 hingga sekitar pukul 01.00 dini hari, arus kendaraan menuju lokasi nyaris lumpuh. Dimas bersama lima armada lainnya harus bolak-balik mengangkut korban dari titik kejadian ke RSUD Kota Bekasi.
“Dari jam 10 sampai jam 1 itu masih penuh, padat. Kita bolak-balik terus di satu lokasi kebetulan kita punyanya lima armada," katanya.
2. Ratusan ambulans turun ke lokasi

Kondisi jalan yang macet parah menjadi tantangan utama. Bahkan, ambulans nyaris tak bisa melaju karena kepadatan kendaraan yang merayap.
“Benar-benar enggak bisa lewat, padat merayap. Ambulans sudah pada standby semua, sampai trotoar penuh,” ungkapnya.
Ia memperkirakan jumlah ambulans yang dikerahkan di Kota Bekasi mencapai ratusan unit. Seluruhnya siaga untuk mempercepat proses evakuasi korban.
“Kurang lebih ada 300-an ambulans di Bekasi kan, itu dia udah panik, pada turun semua. Kayaknya semua turun” ucap Dimas.
3. Korban alami luka ringan

Meski situasi di lapangan sempat panik, Dimas menyebut korban yang ia tangani sebagian besar mengalami luka ringan. Selama proses evakuasi, ia juga tidak mengalami kendala berarti.
“Kalau yang saya bawa luka ringan semua, aman-aman saja,” katanya.
Setelah proses evakuasi selesai, Dimas akhirnya bisa beristirahat. Namun, ia mengaku tetap siap jika sewaktu-waktu kembali dibutuhkan.
“Kalau butuh, kita OTW lagi. Kita 24 jam standby,” ujarnya.
Dimas sendiri merupakan sopir ambulans swasta dengan sistem panggilan. Di sela waktu, ia juga bekerja sebagai pengemudi ojek online.
4. Sebanyak 16 orang meninggal dunia

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyampaikan update terkini terkait korban kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.
Menurut data KAI, hingga saat ini tercatat sebanyak 107 korban dengan rincian 16 orang meninggal dunia dan 91 luka-luka. Dari jumlah tersebut, 43 penumpang telah diperbolehkan pulang, sedangkan sisanya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik serta keluarga memperoleh informasi yang dibutuhkan,” ujar VP Corporate Communication KAI, Anne Purba dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
Di sisi lain, pemulihan layanan KRL di lintas Bekasi–Cikarang mulai menunjukkan perkembangan. Setelah proses evakuasi sarana dan prasarana dilakukan secara bertahap, uji coba operasional pertama telah berhasil dilaksanakan dengan aman.



















